HANYUTNYA KESADARAN DALAM DUNIA SIMULACRA



Mendasarkan diri pada pemikiran psikoanalisis, Sigmund Freud. Manusia dilihat sebagai makhluk biologis. Seperti makhluk hidup yang lain, memiliki unsur utama daging dan darah. Sebagai makhluk biologis, manusia terus menerus berada dalam siklus keseimbangan dan ketidakseimbangan. Saat dalam keseimbangan, tubuh manusia dalam keadaan, sedang terpenuhi kebutuhan dirinya. Sebaliknya, ketidakseimbangan merupakan keadaan belum terpenuhinya tuntutan tubuh.

Sebagai makhluk biologis, bertubuh. Manusia digerakan oleh instingnya. Secara otomatis, mencari kenikmatan dan menghindari ketidaknyamanan. Salah satu insting yang mendorong perilaku manusia, sama seperti hewan, adalah insting hidup. Keberadaannya memungkinkan manusia untuk bertahan, melanjutkan hidup dan berkembang.

Manusia berbeda dengan hewan. Untuk bertahan hidup, hewan mengandalkan tubuh fisik. Sedangkan manusia mengandalkan yang namanya kesadaran. Kesadaran ini hadir, sesuatu yang tidak dialami oleh hewan. Karena terjadinya dialektika, antara keadaan internal (tuntutan tubuh biologis) dengan realitas eksternal.

Keberadaan kesadaran, pada diri manusia, memungkinkannya untuk menguasai realitas. Tapi, ada harga mahal yang harus dibayar. Manusia semakin berjarak dengan ketidaksadaran. Mengingatkan kembali, bahwa kehadiran kesadaran, hanya upaya manusia memenuhi kebutuhan tubuh. Sesuatu yang datang dari tuntutan tubuh biologis.

Sebagai makhluk hidup. Tentu manusia seperti makhluk hidup yang lain. Memiliki siklus memenuhi kebutuhan. Tapi, keberadaan kesadaran, memungkinkan manusia berada dalam siklus berbeda dan terkadang rumit.

Kerumitan ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Bila hewan, sebatas siklus pemenuhan kebutuhan yang sifatnya sederhana. Kondisi tidak seimbang menuju kondisi seimbang. Sedangkan manusia, memiliki liku-likunya sendiri, perihal pemenuhan kebutuhan.

Saat manusia berada dalam keadaan tidak seimbang (tubuh sedang dalam keadaan berkebutuhan). Manusia memiliki dua proses, adanya kesadaran pada diri manusia, proses primer dan sekunder. Proses primer, saat manusia sedang berada dalam tuntutan kebutuhan. Hal pertama yang akan dilakukan adalah berkesadaran cara memenuhi kebutuhan tersebut.

Keberadaan kesadaran, saat manusia memenuhi kebutuhan, memungkinkan adanya catexis dan anticatexis. Catexis ini adalah terpusatnya kesadaran pada objek untuk memenuhi kebutuhan. Sedangkan, anticatexis adalah objek lain yang hadir bersamaan saat keadaan berkebutuhan. Keberadaan, kedua hal tersebut, menghambat manusia untuk segera memenuhi kebutuhannya. Sekaligus menempatkan manusia dalam keadaan konflik dan terhambat untuk segera berada dalam keseimbangan.

Beranjak sejenak, tapi sambil tetap mengingat, proses primer manusia untuk memenuhi kebutuhan. Dan kaitanya soal dialektika antara keadaan internal manusia dengan realitas eksternal. Realitas sekarang ini, seperti banyak kita ketahui, lebih banyak hidup dalam dunia media elektronik.

Kecanggihan dunia elektronik, melahirkan istilah yang dinamakan dengan simulacra atau dunia simulasi. Suatu konsep yang dihadirkan oleh Jean Baudrillard (1929-207), pemikir post-strukturalisme. Simulacra memiliki hukum, bahwa daur ulang atau reproduksi objek dan peristiwa". Suatu objek dihadirkan seakan sama atau menyerupai realitas aslinya, tetapi sesungguhnya tidak nyata.

Berdasarkan keadaan saat ini, terbiasa dalam keadaan realitas palsu. Tentu manusia sulit mengembangkan kesadarannya. Jika kesadaran itu sendiri lahir dari dialektika dengan realitas. Sedangkan dihadapan manusia itu sendiri merupakan realitas palsu.

Keadaan terus menerus seperti ini, manusia akan terus kehilangan kesadarannya. Sebab manusia terbiasa berada dihadapkan dengan objek palsu. Objek itu sendiri merupakan sarana memenuhi kebutuhan manusia. Sama halnya manusia terjebak dalam proses primer pemenuhan kebutuhan. Proses awal yang masih dalam tataran kesadaran. Kesadaran yang bernegosiasi dengan realitas palsu. Sehingga menghayutkan manusia dalam dunia simulasi, dunia simulacra.