CURAH SEMESTA



Menggenggam Semburat Harapan

Sekonyong-konyong daku bersimpuh di altar satu bayangan
Mengeja-ngeja latah satu nama yang belum pernah tertunaikan
Namun parasnya tetap terjaga dalam tatih petualangan
Bak penyamun handal yang satru akan lelah disepanjang kegilaan

Kerling matanya di bawah remang tetap manja keterlaluan
Mengemas bejibun cahaya rembulan tak terbantahkan
Hingga tega menggrayangi relung pikiran
Bahkan dikala terpejam pun atau terjaga sekalipun gelora di dada tetap menjadi angan

Ah, apalah daya, kujur awakku telah diganyang sempurna berbalut malu yang setia kawan
Rasa suci itu melulu dan terlalu khusyuk disekap kaku hingga belum saja sempat genap terkuak kepermukaan
Meski sesekali sadar bersikukuh menyelinapkan podium jujur dalam raut tulus yang sejatinya sangat diperlukan
Namun nyatanya membisu seribu kata seraya mengimbuh senyum sebatas pilihan
Tatkala papas-beradupandang di persimpangan jalan

Sementara belahan bibir lebih kerap bergeming, merapal  pintalan do’a segunung harapan
Pikiran gemar merekam setiap jejak bayang gerak-gerik sudut pertemuan
Dan sanubari menyutat sebongkah pertanyaan; bukankah Tuhan pengabul segala permintaan?
Apa pula yang kau sanksikan, gerangan?

__Tulungagung, 09 September 2019
Senin, pukul 08.27 WIB


Semesta Marayya

Rimbun, bentang sang penjaga kehidupan
Penghilir tiap-tiap jengkal kesejukan
Penakar alur rona kelestarian
Tempat harmoni melelang keberlanjutan

Hijau dedaunnya memikat setiap ketenangan
Melepas dahaga hiruk-pikuk kegamangan
Melangit jingjit ragamnya pepohonan
Pengobat was-was penyakit kemakhlukan

Gaietas nadi Marayya berdenyutan
Menjamu kearifan hidup Hayy Ibnu Yaqdzon

Tak ada kegetiran yang ditawarkan
Yang tersimpan hanya curah kekaguman
Jelujur permata belum terendus keculasan
Sementara itu menandaskan kuasa Tuhan

Pintalan kekayaan masih saja menjanjikan
Dan si rakus terbuai memberhanguskan
Sembari tergopoh-gopoh, merogoh kegaduhan
Akal piciknya melahap habis harta warisan

Geram, melumat habis ekofeminis beserta alam pikiran
Pertikaian musykil cluster borjuis menggandeng si Weberian
Tak dapat terelakan, keterlaluan!

Pun, sebelum akhirnya alam naik pitam
Iklim mengigau akut mencekam
Cuaca terhuyung membopong suram 

Di batang Pinus Marayya senang berayunan
Mendendang syair-syair ibu pertiwi penuh kegembiraan
Cintanya meliput negeri ini tak pernah diragukan
Bahkan tak menuai ujung simpul kata terdefinisikan

Terkadang silih berkelindanan,
Bersandar sembari menyelonjorkan kaki beralas rerumputan
Berdecak ria dibalut kicau burung berkawanan
Berbekal titisan ilmu Nabi Sulaiman

Dikala langit mulai sengkarut, pun mentari berpamit pulang
Marayya kerap bersua menggamit gumam rapalan
Menghitung rasi bintang berkerlipan
Mengenal hewan, mendikte jenis tetumbuhan
Lagi dan terus hadirnya menjadi pusat perhatian.

Hingga sampailah kantuk dihantar cahaya rembulan
Pun gemerisik angin menyelipkan berpeleton harapan
Matanya terpejam penuh ketenangan
Dan dibenaknya terbersit sebongkah keinginan,
“Semoga esok hari terbingkai penuh kejutan”

__Tulungagung, 12 September 2109
Kamis, pukul 06.30 WIB


Rintik

Tentang permulaan semua titik
Yang belum sempurna teracik
Terjebak alur, segan berkutik
Sebangsa simbol sungkan terangkai pelik
Negosiasi handal antara dia sang pengemis dan Pemilik

Salah! jamuan mutiara itu hadir, bukanlah hendak menghardik
Terlebih lagi menyanggah teka-teki kritik
Apalagi menantang kehendak langit
Lusuh sudah parau nan sengit

Bukan! keliru bila kau anggap tangis itu jatuh hendak berpamit
Pula tidak menyoal seremonial tawa dengan berjikrak
Ah, sudahlah! kau hanya akan dibuat muak
Mesara geli dan terbahak-bahak

Tapi gerangan apa pula yang membuatnya memikat?
Hadirnya menembus paruh peluh, membuat orang terperanjat
Mungkin petani telah banyak menahu, jikalau tangan kemarau ganas mencekik.

__Tulungagung, 17 Desember 2109
Selasa, pukul 11.00 WIB

Penulis
Pegiat Literasi