HUJAN #1

Bumi sedang demam, suhu tubuhnya meninggi. Membuat seluruh makhluk di atasnya menggelepar menahan amukan gerah. Meski awan kelabu berkali-kali tampak menggantung di langit, namun ternyata mereka belum memiliki niat untuk menumpahkan airnya. Padahal apa yang tersimpan dalam kantung-kantung awan itu, adalah hal yang benar-benar dinantikan oleh makhluk hidup yang menempel di permukaan bumi. Telah berbulan-bulan rombongan air yang menari dan terjatuh itu tak menampakkan diri. Kealpaan hujan membius seluruh makhluk agar merindukan kehadirannya.

Pada salah satu rumah yang berjajar, tepat di dalam salah satu ruang, cahaya suram memecah gulita. Luas kamar itu tidak lebih dari 4 x 5 meter. Ranjang, lemari pakaian, rak buku, meja rias dan meja kerja saling berjubel, berbagi tempat menjadi penghuni yang ada dalam ruang kecil tersebut. Tampak tembok itu banyak dihias dengan notes yang jika didekati, akan menyuguhkan kalimat-kalimat pembakar semangat siapa yang membacanya. Meski tulisan-tulisan cetakan itu rapi berjajar, meski gulita tidak sepenuhnya menelan seluruh benda yang ada dalam ruang itu, tampak seorang perempuan yang menunduk, melupakan jeritan semangat dari setiap kalimat yang telah ia cetak dan hias di dinding kamarnya. 

Masih menunduk, tampak matanya sembab. Beberapa tisu yang masih basah bekas digunakan untuk mengelap air mata yang tak terbendung bercecer di samping si gadis. Dia hanya diam. Sesekali, sesenggukan terdengar bersamaan dengan bahunya yang terguncang. Tangannya memeluk erat kedua tumitnya. Tulang pipinya tampak sedikit jelas. Beberapa hari makanan manapun tidak membangkitkan hasratnya. Tidak heran apabila fisiknya ikut lemah, terlebih hatinya yang sedang berdarah-darah.

Dok dok dok

Si gadis menoleh. Dia mengangkat tubuhnya mendekati pintu yang slotnya tadi sempat ia kunci. Ia menarik, sehingga pintu itu tidak lagi terkunci. Tanpa membuka, dia kembali dan membersihkan seluruh tisu yang ia kenakan. Segera, si gadis mengirim mereka semua masuk ke dalam tempat sampah.

“Nduk,” masuklah perempuan setengah baya ke dalam kamar perempuan itu.

“Nggih, Ibu. Dalem,” suara si gadis tercekat. Ia duduk di atas ranjang, diikuti oleh wanita paruh baya yang ia panggil ibu.

“Sudah, sudah,” ucap si ibu sembari mendekap tangan putrinya.

“Maafkan aku, Ibu. Maaf, belum bisa membanggakan Ibu. Malah menyusahkan Ibu dan Bapak. Padahal Ibu dan Bapak benar-benar bekerja keras untuk pendidikanku dan adik-adik. Aku benar-benar minta maaf, Ibu,” tangis si gadis pecah. Ia memeluk sang ibu, sembari badannya terguncang, sesenggukan.

“Sudahlah. Yang sudah biarlah berlalu. Semua diambil hikmah dan pengajarannya. Sekarang, berjanjilah untuk tidak menyiakan kesempatan yang datang di hadapanmu. Ibu tahu, yang kau hadapi tidak mudah, Nduk. Kau tentu saja masih ingat, semakin tinggi pohon, angin akan semakin kencang.”

“Ibu, aku...”

“Ibu tahu. Baru saja Albar menelepon Ibu. Maka dari itu, Ibu langsung kemari, memastikan putri tangguh ibu masih seorang putri yang benar-benar tangguh dan siap menantang semua masalah yang mencoba menggugurkan semua cita-citanya.”

Bibir si gadis masih terkatup, namun kepalanya mengangguk.

“Jangan melupakan sujudmu, Nduk.Baik ketika kamu sedang dititipkan susah maupun senang, tetap berteguhlah dalam sujudmu. Lagipula, Ibu sangat mengenal putri Ibu. Masa iya sang putri melupakan siapa sejatinya dirinya itu?”

“Terima kasih, Ibu. I love you.

Si gadis memeluk sang ibu. Dengan lembut, perempuan paruh baya itu mengusap kepala sang gadis. Sekitar sepuluh menit kemudian, si gadis kembali sendiri. Ibunya dipanggil oleh nenek yang memang beliau urus. Puspita Anggraeni, nama perempuan itu, ia segera memejamkan mata. Ia mengambil napas dan mengembuskannya perlahan.

***

Puspita terburu-buru. Ia berlari menuju kampus kebanggannya sebab telah membuat janji dengan dosen pembimbing tesisnya. Ia berlarian, menembus terik yang menyengat, mengabaikan kucuran keringat yang bermunculan dari dahinya.

“Huff, alhamdulillah. Aduh, mana berkasku?” ucap Puspita. Dia sedang bermonolog dengan dirinya sendiri. Tangannya sibuk menyibak tas samping yang sejak tadi menggantung di bahu kirinya. Tampak beberapa map berjubel memenuhi tas tersebut.

Setelah memastikan draft tesis yang akan dia berikan ada, serta beberapa dokumen syarat ujian sidang telah siap, segera, gadis itu masuk ke dalam ruang dosen. Seusai melewati pintu, senyuman mengembang dari bibirnya. Puspita menemui teman seangkatannya, Ibu Ananda dan Bapak Ahmad yang sedang konsultasi juga.

Sembari menunggu gilirannya tiba, Puspita bercengkerama bersama Ibu Ananda. Beliau adalah salah satu guru di MTs (Madrasah Tsanawiyah) yang ada di kabupaten tersebut. Begitu mengayomi dan sangat ramah apa yang dilakukan oleh Ibu Ananda kepada Puspita. Gadis itu merasa nyaman ketika bersama beliau. Sesuai Pak Ahmad konsultasi, tiba giliran Puspita. Jantungnya cukup terpacu. Ia melewati Pak Ahmad, menyapanya sedikit.

“Bapak, bagaimana? Besok maju sidang?” tanya Puspita.

“Masih mau revisi bab lima, Mbak. Silakan, ditunggu Profesor Andre, Mbak.”

“Wah, bismillah, semangat ya Pak. Semoga bisa sidang. Mari.”

Puspita menyodorkan draft sidangnya. Dia menjelaskan kepada Profesor Andre terkait ketergesaannya menganalisis data, dan belum siapnya draft seluruhnya. Dia sudah menghubungi Profesor Wayan akan diberikan ACC karena terkait dengan kenaikan akreditasi jurusan. Puspita sudah mempertimbangkan semuanya, dia siap menuntaskan sebelum sidang tiba. Asalkan memang sudah mendaftar ujian.

“Jadi, saat ini saya meminta ketersediaan Prof Andre untuk memberikan tanda tangan terkait syarat administrasi ujian, Prof,” ucap Puspita lirih. Dia sudah mengetahui sifat Prof Andre yang cukup tempramental.

“Kalau seperti ini caranya, bagaimana dengan mempertanggungjawabkan kualitasnya?” ucap Prof Andre mulai meninggi. Puspita menunduk. Badannya mulai panas.

“Jika bukan karena permintaan jurusan, saya tidak mungkin menandatangani milik Anda! Bawa kemari mana yang hendak ditandatangani!”

“Ini, Prof. Berkas ini seluruhnya, kartu kendali bimbingan, dan ini bukti bimbingan,” ucap Puspita nyaris tidak terdengar.

“Kalau seperti ini, bagaimana kualitas lulusan,” ucap Prof Andre sembari membentak. Suasana mencekam. Tulang Puspita seperti baru saja dilolosi. Tubuhnya lemas. Sekuat mungkin, dia menahan agar air mata tidak tumpah di hadapan pembimbingnya.

“Ini masih jauh dari kata layak,” tambah Profesor Andre. Puspita sudah lemas. Ia diam seribu kata. Setelah selesai, segera gadis itu mengucapkan terima kasih dan keluar ruangan. 

“Tolong beritahukan kepada seluruh bimbingan saya, yang mau sidang besok lusa, silakan membawa berkas, saya tandatangani. Saya tunggu.” Samar Puspita mendengar ungkapan dari Prof Andre kepada mahasiswa bimbingan setelahnya.. 

Namun ia sudah berada di ujung. Segera, ia menyalami Ibu Ananda dan keluar ruangan. Tumpah sudah air mata yang sedari tadi ia tahan. Gadis itu cukup robek dengan ungkapan tajam yang disampaikan oleh Profesor Andre. Ia memang belum layak. Segera, ia menyeka air matanya. Menahan, hingga tiba di tempat dia biasa menyandarkan dirinya.

***

To be continued...