HUJAN #2


Kesunyian mulai mendendangkan tabuh. Alunan nada dari binatang malam tidak mau tertinggal untuk memeriahkan pentas parade ketika purnama memunculkan rupa. Semilir angin sesekali mengoyak dedaunan, menghadirkan melodi lincah untuk menari. Kesemua itu, membuat malam kali ini cukup beringas untuk mencekam jiwa-jiwa yang masih terjaga.

Puspita menggeliat, menarik kembali selimut tebal untuk membungkus seluruh tubuhnya. Ia mencoba menampik dingin yang berusaha membelai tubuh yang meringkuk itu. Sembari menggigil, ia menarik tangan kanannya. Gadis itu cukup penasaran dengan panas dahi yang seakan-akan sudah mengepulkan uap.

nyass.....

Dia mengaduh sekejap, terperanjat. Suhunya benar-benar panas. Gadis itu dilanda demam tinggi. Tangannya perlahan meraba ponsel, melihat angka waktu yang tertera di sana. Pukul 01.27 WIB.

“Dia sudah tertidur atau belum?” tanyanya pada dirinya sendiri.
Tangannya segera mengetik sebuah pesan.
Mas, adek demam tinggi.

Hanya itu, dan dia mengirim. Karena terlampau pusing, matanya tidak mampu menatap layar ponsel dengan jeda yang lama. Segera, kedua kelopak itu menutup kembali.

Alunan murotal menggema di gendang telinga Puspita melalui kabel headset yang terhubung dengan ponsel. Ia memutar murotal sebagai kawan menghabiskan malam, di dalam sebuah ruang kamar kost yang sengaja disewa untuk penyelesaian tugas akhir studi, tesis. Rekan sekamarnya jarang berada di kost, dan secara langsung memberikan kesempatan kepada gadis itu untuk sering bercengkerama dengan kesendirian.

Tanpa sadar, Puspita kembali terpejam dan tertidur. Wajahnya pucat, bibirnya memutih, matanya bengkak. Ia baru saja berkecimpung dalam sebuah fase yang cukup mengoyak. Ketika hatinya tersentak dalam keadaan fisik yang lemah, dalam pertempuran fisik dan batin itu, fisiknya yang mengalah. Tubuhnya tumbang. Sesekali terdengar ia meringkih, masih memejamkan mata, masih tertidur. 

***

Siang sebelumnya...

Perut Puspita seakan diaduk-aduk. Ia semakin kencang menarik kemudi gas motor Honda Vario 2015. Jarum pada speedometer menujuk pada angka 80 km/jam. Ia tidak peduli. Meski jalanan paving di depannya menonjol dan bergelombang, dan otomatis memberikan bunyi nyaring di motornya, ia tidak peduli. Tujuannya hanya satu, segera tiba di tempat itu.

Puspita bergegas. Ia melewati jalan setapak di belakang kampusnya. Tampak bangunan megah tempat ia menimba ilmu membisu. Mereka menjadi saksi atas peristiwa yang dialami oleh Puspita di hari itu. Matahari juga tidak melupakan perannya. Ia memancarkan terik yang menyengat, seperti hatinya yang saat itu sedang terbakar.

Setelah melewati beberapa perempatan, gadis itu akhirnya menepi. Memasukkan motor di dalam tempat parkir sebuah warung kopi. Segera, ia masuk ke dalam.

Assalamualaikum,” ucap Puspita.
Waalaikumussalam. Masuk, Dek,” perintah pemilik warung kopi yang sekaligus adalah calon suami Puspita.

Mas, sebentar. Aku mau ke kamar mandi,” pamit gadis itu, sembari menaruh tasnya di dekat lelaki itu. Segera, ia menuju kamar mandi. Perutnya perih. Gadis itu sadar, dia sedang diare. Memang beberapa hari, dirinya fokus untuk lembur mengerjakan tesis. Dia tidak peduli dengan pola makan dan kesehatan dirinya. Bahkan, untuk sarapan saja, Albar yang selalu rutin mengirimkan makanan di rumah kosnya. Siang harinya, sering mereka keluar bersama untuk makan, atau Puspita dijemput Albar untuk mengerjakan tesis di rumahnya, sembari makan siang.

Puspita keluar kamar mandi. Wajahnya kucal, tubuhnya lemas. Ia segera ke ruang tamu, duduk menyandarkan tubuhnya. Tidak berapa lama kemudian, datanglah ibu, calon mertuanya. Mata sang ibu menangkap butir-butir air mata yang jatuh menetes di kedua pipinya. Wajahnya yang semula tersenyum, seketika menampilkan raut panik.

Loh, Nduk. Ana apa?”
Ibuk...” ucap Puspita tercekat. Suaranya parau.

Wanita paruh baya itu tidak hanya diam. Beliau segera pamit dari ruang tamu itu. Sekian detik kemudian, datanglah Albar. Dia menemui Puspita yang duduk termenung di atas sofa kayu yang berjajar rapi di ruang tamu.

Ada apa? Kok menangis, Dik?” tanya Albar yang seketika, perhatiannya beralih seutuhnya.
Aku enggak layak buat sidang, Mas. Maaf, ya. Aku belum bisa. Aku belum sanggup,” ucap Puspita parau. Seketika, pucatlah wajah Albar.

‘Sarapan yang engkau antar setiap pagi, jeda waktu yang kita lalui agar aku bisa selesai mengerjakan tesis, uang ibu yang habis untuk biaya kost dan makanku, semuanya tidak berguna. Aku kalah, Mas. Aku gagal dalam diriku sendiri. Aku gagal. Maafkan aku, Mas. Oh, Ibuk, maafkan aku.’

Kali ini hanya jeritan dalam hatinya yang meraung-raung. Ia tak mampu lagi mengucapkan sepatah katapun. Air mata yang berbicara. Semakin deras debit air mata yang mengalir dari kedua ujung matanya.

Sudah makan apa belum ini tadi, Dik?” tanya Albar pias, ketika melihat wanitanya dalam kondisi yang mengerikan. Sebagai jawaban, Puspita hanya menggelengkan kepalanya.

Diam di sini, Mas ambilkan makan,” ucap Albar. Dia segera pergi. Tidak lama, sang ibu kembali menengok bakal menantunya.

Bagaimana, Nduk?

“Begini, Ibu. Sebenarnya saya sudah mendapatkan tanda tangan dari kedua pembimbing. Bekal untuk maju sidang sudah ada. Namun, tadi, dikatakan bahwa tesis saya belum layak. Jauh dari kata layak. Dan memang begitu keadannya. Mohon maaf, Ibu.” Mohon maaf sudah mengecewakan Ibu juga. Sebab Ibu tentu berharap sebelum pernikahanku dengan putra Ibu, aku sudah tidak memiliki beban studi. Semua sudah dirampungkan, yang tentu akan memudahkan jalan kami untuk melanjutkan jenjang karier dan berproses pasca pernikahan. Maafkan aku, Ibu.

Hmmm... Berarti besok bagaimana? Jadi maju sidang apa belum?” tanya beliau kembali.

Belum tahu, Ibu. Nanti coba saya pikir ulang kembali, nggih, Ibu.”
“Sudah, Nduk. Sudah dahulu. Ditata dirinya. Sudah makan apa belum?”
“Belum, Ibu,” ucap Puspita lirih.
Ini pas, Masmu membawakan nasi. Dimakan dahulu itu,” ucap Ibu sembari undur diri ketika melihat putranya memasuki ruang tamu..

Albar membawa sepiring nasi yang di dalamnya bisa juga didapati sup sayur dan ayam goreng. Ia menaruh di depan Puspita, kemudian duduk di sampingnya.

Puspita melihat makanan yang jika ia sehat, tentu akan dilahapnya sampai habis. Namun tidak kali ini. Matanya langsung menafsirkan pandangan pahit ketika memotret makanan itu. Kepahitan itu menjalar hingga lidahnya. Namun ia sadar, ia tidak boleh tumbang secara fisik.

Menunggu apa? Di maem,  ya?” pinta Albar lembut.
Aku diare, Mas,” bisik Puspita.
Sejak kapan?
Kemarin, sejak Adik lembur sampai pagi,” lanjutnya.
Dimakan, sampai habis. Kamu lapar, Dik.” Setelah mengucap itu, Albar berpamitan.
Mas mau ke mana?” Puspita menahannya dengan ucapan.
Sebentar saja. Pokoknya saat Mas kembali, makanannya sudah habis,” ucap Albar sembari langsung mengeloyor pergi.

Puspita sendirian di ruang tamu. Ia menyendok, sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. Pahit. Segera, sendok yang tergenggam di tangan kanannya ditaruh. Sebentar saja, tubuhnya meronta meminta rebahan. Kepalanya tiba-tiba seperti dihantam palu. Matanya berkunang-kunang. Puspita segera menguasai diri. Jam 14.30 WIB dan seharian perutnya belum terisi makanan apapun. Sedangkan sejak kemarin, ia belum sempat memejamkan mata. Puspita mafhum. Segera, ia beranjak dan menghabiskan nasi di depannya.

Aku tidak akan menyerah. Aku tidak boleh tumbang sebelum perang berakhir.


To be continued...