COVER BUKAN RUJUKAN IDENTITAS



Laku seseorang tidak akan lepas dari perhatian orang lain. Inilah salah satu sebab seseorang begitu memperhatikan lakunya. Bukan karena ia nyaman terhadap apa yang dilakukannya, melainkan untuk mendapat perhatian orang lain. Tidak dapat memukul rata mengenai opini ini, tetapi hampir segala laku seseorang seakan dituntut untuk sesuai dengan pendapat orang lain. Hal ini juga serupa dengan identitas seseorang.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia V (KBBI V), identitas adalah jati diri. Yang mana itu menjadikan ciri, gambaran, atau keadaan seseorang. Namun, hal ini rupanya membuat seseorang salah bidik. Mereka menjadikan cover sebagai acuan penilaiannya.

Identitas seseorang acap kali dinilai pada dasar cover. Hal ini mudah dilakukan ketika melihat atribut yang tampak pada diri seseorang. Bahkan tanpa ragu, kita akan memberikan penilaian terhadap orang lain tanpa mau repot untuk sekedar mencari tahu alasan mereka memakai atribut tersebut. Ya, semudah itu kita menjustifikasi seseorang berdasarkan cover-nya.

Hal tersebut akan lebih runyam lagi ketika kita benturkan identitas dengan gender. Jangan katakan bahwa kita semua telah mendapatkan keadilan dalam segala hal. Kenyataannya, perihal identitas laki-laki dan perempuan saja, tingkat ketidakadilannya kentara sekali.

Perempuan mudah dinilai dari apapun yang melekat pada tubuhnya, berbeda dangan laki-laki. Misalnya saja perempuan yang memakai kerudung yang diikat di leher. Siapa yang tidak akan melontarkan stigma terhadapnya? Tidak etislah, sama seperti tidak memakai kerudunglah, tidak syar'ilah, dan masih banyak lagi.

Sedangkan laki-laki akan dianggap biasa saja ketika ia mengenakan apapun. Tidak akan disebut syar'i atau berandalan atas apa yang dikenakannya. Bahkan dianggap wajar-wajar saja, karena memang begitulah laki-laki. Memang tidak bisa dipukul rata, tetapi ini cukup marak di sekitar kita.

Mengenai hal tersebut, seakan-akan identitas seseorang dapat dinilai hanya dari atribut yang dikenakannya. Padahal kata Kalis Mardiasih, seorang penulis, dalam seminar keperempuanan (30/10) di Kediri lalu, identitas seseorang itu tidak dapat dilihat dari cover-nya, tetapi semua itu membentuk diri, identitas.

Apa maksudnya? Identitas seseorang itu tidak bisa berdasar dari penilaian mayoritas. Namun, segala atribut yang dikenakan seseorang dapat menjadikan ciri seseorang. Hal inilah yang dapat membentuk identitasnya sendiri. Bukan identitas yang disepakati oleh mayoritas.

Mayoritas dapat memberi penilaian berdasarkan tafsir tekstual yang diyakininya, misalkan saja mengenai syar'i. Ada pendangan mengenai syar'i itu harus menutupi beberapa bagian tubuh, harus longgar-longgar, tidak tipis, dan sebagainya. Well, ini adalah tafsir satu golongan.

Menurut Kalis, kita perlu merebut tafsir bahwa syar'i itu hanya satu golongan. Apapun pada dirimu itu syar'i. Hal ini dapat dilakukan dengan memproses diri sebagai seorang perempuan atau laki-laki. Perlu percaya diri dan berani untuk bisa bilang bahwa saya syar'i, baik dengan pengetahuan, proses, maupun dengan apa yang sedang kalian pelajari. Bagian terpenting itu adalah pengalaman autentiknya.

"Dalil itu digunakan sebagai nilai kemanusiaan dan keadilan, bukan pembatasan identitas seseorang," ujar Kalis.

Berdasarkan hal tersebut, kita perlu sekali meninggalkan cara memaknai al-Qur'an dan al- Hadis dengan tekstual. Perhatikan dulu makna historis dan geografisnya, mengapa dulu muncul dalil seperti itu? Penting juga membaca ayat dari segi asbabun nuzul-nya, bukan hanya satu ayat yang seakan menafikan makna ayat lain dalam al-Quran. Bagian paling penting adalah tidak buta realitas.

"Baca realitas dulu sebelum membaca dalil. Sehingga kita tahu bahwa dalil yang membatasi itu sebenarnya sudah kurang relevan untuk saat ini," tegasnya lagi.