THE GREAT DISRUPTION - SEBUAH KEKACAUAN DAN KEGELISAHAN



Konsep “Modal Sosial” dikembangkan oleh Francis Fukuyama dengan memasukkan berbagai pemikiran dari ilmu-ilmu sosial mutakhir, seperti teori-teori tentang Pilihan Rasional dan Aksi Kooperatif. Dengan cara itu, meskipun ini sebuah kajian tema klasik, pembahasannya jauh dari kata membosankan. Justru sebaliknya, kontennya begitu hidup dan menarik untuk dikaji sampai saat ini

Fukuyama membahas bagaimana the great disruption, yang terjadi ketika sistem kapitalisme meluas, mengakibatkan erosi pada “Modal Sosial. Kepercayaan di antara sesama manusia makin menipis, kecurigaan dan kecurangan merebak, pelanggaran hukum meningkat. Namun demikian, Fukuyama yakin bahwa setelah proses semacam itu, proses penataan kembali masyarakat akan terjadi lagi.

Menurut Francis Fukuyama, manusia saat ini sangat tergantung pada “Modal Sosial”.

"Manusia pada sekarang ini digambarkan sebagai seperangkat nilai atau norma informal yang dibagikan di antara anggota kelompok yang memungkinkan kerjasama di antara mereka. Jika anggota kelompok berharap bahwa orang lain akan berperilaku andal dan jujur, mereka akan saling percaya satu sama lain". (The Great Disruption: 16)

Asumsi tersebut merupakan konsekuensi yang harus diterima ketika suatu komunitas dan masyarakat mengalami proses modernisasi. Dalam menghadapi modernisasi, tantangan terbesar adalah perubahan teknologi dan ekonomi itu sendiri. Bagian terpenting dalam menghadapi problematika ini adalah bagaimana menjaga moral dan persaudaraan, sikap individualisme tidak boleh ditonjolkan. Dalam hidup ada Modal Sosial yang diartikan sebagai kontrol sosial, yang berlaku universal. Apabila terjadi palanggaran terhadap “Modal Sosial” dalam hal ini nilai dan norma, berarti boleh disimpulkan apabila di tempat tersebut tidak didapati Modal Sosial.

"Modal Sosial bukan barang publik tetapi barang pribadi yang dirasuki oleh eksternalitas”. (The Greet Disruption: 251)

Fukuyama menjelaskan tentang Modal Sosial” atau juga bisa disebut dengan “social capital. Modal Sosial”, didefinisikan sebagai sebuah perangkat nilai-nilai informal atau norma-norma yang diperuntukkan bagi anggota-anggota kelompok dalam sebuah lingkungan tertentu yang dianggap cukup kooperatif. Kepercayaan juga merupakan suatu hal yang membuat berjalannya sebuah kelompok atau organisasi menjadi lebih efisien. Semua masyarakat memiliki perbedaan kapasitas dalam modal sosial yang ditandai dengan tingkat kepercayaan yang terangkum dalam norma-norma kooperatif seperti kejujuran, timbal balik dan rasa memiliki masing-masing anggota dalam sebuah masyarakat. Keluarga adalah salah satu dari Modal Sosial yang paling penting ditinjau dari segi paling utama..

Modal Sosial memiliki banyak keuntungan terutama di bidang ekonomi di mana menjadi sebuah kritikan untuk menciptakan masyarakat sipil yang sehat, dan hal ini merupakan gabungan antara keluarga dan negara. Fakta bahwa modal sosial bisa digunakan untuk tujuan-tujuan yang merusak tidak menutup kenyataan bahwa secara umum modal sosial sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Fukuyama mengungkapkan bahwa di antara norma-norma sosial yang ada, yang paling diperhatikan adalah hal-hal yang berhubungan dengan reproduksi, keluarga dan hubungan antara jenis kelamin. Terdapat hubungan yang kuat antara keluarga dan Modal Sosial di mana keluarga merupakan hal yang paling mendasar dalam unit sosial. Teori modernisasi yang cukup populer dalam ilmu-ilmu sosial tidak melihat kehidupan keluarga sebagai suatu masalah terutama transisi dari keluarga besar menuju ke keluarga inti (Istilah keluarga inti/batih dikembangkan oleh dunia barat untuk membedakan kelompok keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak-anaknya: id.wikipedia.org). Dan ini juga menjelaskan bahwa perubahan dalam struktur keluarga berpengaruh pada “Modal Sosial.

Mengenai hakikat kerjasama, dituangkan dalam bab sepuluh. Terdapat dua hal yang menggambarkan kepentingan individual yang mengacu kepada kerjasama sosial, yaitu pemilihan hubungan kekeluargaan dan hubungan timbal balik. Pemilihan hubungan kekeluargaan adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh William Hamilton pada pertengahan tahun 60-an dan dipopulerkan oleh Richard Dawkins dalam bukunya The Selfish Gene.

Kemampuan sosial manusia dimulai dari sebuah hubungan keluarga dimana dalam keluarga terdapat pembagian peran terhadap masing-masing anggota sehingga anggota dapat belajar berinteraksi dan bekerjasama. Dalam sebuah kerjasama selain hubungan keluarga juga dibutuhkan sebuah hubungan timbal balik dimana dalam hubungan timbal balik akan tercipta sebuah kerja sama yang menguntungkan kedua belah pihak.” (The Great Disruption: 274)

Dalam polemik yang muncul tentang individualisme versus kolektivisme atau kapitalisme versus sosialisme, orang cenderung melihat contoh yang diambil dari alam untuk membuktikan bahwa manusia secara alami dapat dilihat sebagai agresif (Mahluk yang cenderung “ingin” menyerang sesuatu yang dipandang sebagai “hal” atau situasi yang mengecewakan, bersifat menghalangi atau menghambat: KBBI), kompetitif dan hirarkis atau juga kooperatif, damai dan berbudaya. Bentuk kerjasama dan bentuk hubungan timbal balik muncul disebabkan karena mereka memberikan keuntungan pada individu-individu yang memilikinya. Kemampuan untuk bekerjasama dalam grup yang termasuk dalam modal sosial mengahsilkan keuntungan yang kompetitif pada manusia sehingga kualitas tersebut dapat dilestarikan dalam kelompoknya.

Secara khusus Fukuyama mengangkat isu penting dengan mengajukan pertanyaan: apakah kapitalisme menghancurkan Modal Sosial di dalam bab keempat belas buku ini. Menurut Fukuyama

ada kontradiksi budaya dari kapitalisme. Sumber-sumber yang menyangkut tentang kontradiksi budaya kapitalisme menjelaskan bahwa kapitalis berkembang pesat dengan memproduksi norma-norma yang memang dibutuhkan keberadaannya dalam menunjang pasar. (The Great Disruption: 375)

Pemikiran yang paling berpengaruh mendasari dari pendekatan ini adalah pemikiran Joseph Schumpeter mengenai kapitalisme, sosialisme dan demokrasi dimana kapitalisme cenderung untuk menghasilkan kelas-kelas elit dan juga mengganti ekonomi pasar ke arah sosialis. Dapat diterima fakta yang menyebutkan bahwa kapitalisme terkadang membawa dampak pada sebuah kerusakan dan dapat mengganggu tatanan yang sudah ada.

Di dalam pertukaran ekonomi dan moral, sangatlah sedikit ditemukan hubungan moral di luar hubungan kekeluargaan yang mengikutsertakan tindakan yang mementingkan kepentingan orang lain daripada hubungan yang timbal balik. Sementara itu suatu pertukaran ekonomi tidak sama seperti layaknya sebuah hubungan timbal balik yang sama-sama mementingkan kepentingan orang lain dalam sebuah komunitas moral. Pertukaran ekonomi menjadi sesuatu yang berbeda dimana pertukaran ini lebih memperkenalkan kebiasaaan timbal balik sebuah kehidupan ekonomi menjadi sebuah kehidupan moral. Pertukaran moral lebih memperkenalkan kepentingan dan keinginan dari masing-masing individu yang berpartisipasi di dalamnya.

Masalah yang muncul dalam masyarakat kapitalis modern terhadap sebuah hubungan moral tidak terjadi pada konsep pertukaran ekonomi. Masalahnya lebih kepada hal-hal yang menyangkut teknologi dan perubahannya. Kapitalisme sangatlah dinamis dan juga merupakan sumber kerusakan kreativitas yang dapat menghancurkan perubahan-perubahan yang ada pada komunitas manusia. Dan ini merupakan kenyataan yang terjadi baik itu pada pertukaran ekonomi maupun moral dan juga bisa disebut sebagai sumber kekacauan.

Mengkaji bab terakhir buku ini, Fukuyama kembali mengupas proses rekonstruksi di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Banyak pertanyaan yang muncul mengenai kekacauan yang terjadi, apakah hal tersebut terjadi karena meningkatnya ketidak-teraturan moral atau sosial ataukah ada alasan-alasan lain yang menyebutkan bahwa kekacauan yang terjadi sifatnya lebih hanya sementara dimana masyarakat-masyarakat yang telah melaluinya akan berhasil menormakan kembali apa yang sudah dirintis? Apabila penorma-an kembali ini dilakukan, bentuk apa yang akan diambil? Lalu apakah proses ini akan berjalan dengan sendirinya atau butuh campur tangan dari pemerintah?

Hal yang paling mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah kekacauan tidak mewakili menurunnya sebuah norma dalam jangka waktu yang lama, yang dibentuk oleh munculnya pencerahan, hakikat kemanuasiaan yang bersifat sekuler, atau sumber-sumber historis lainnya. Sementara budaya menekankan pada individualisme yang berakar kuat dalam tradisi, kekacauan yang terjadi lebih disebabkan karena peralihan dari industri ke post-industri dan perubahan yang terjadi pada mekanisme pasar. Mungkin hal yang paling mudah untuk menjawab pertanyaan mengenai masa depan kekacauan ini adalah dengan melihat kembali sejarah kekacauan tersebut pada masa lalu.

Keterangan:
Judul Buku: The Great Disruption - Human Nature and the Reconstitution of Social Order
Penulis: Francis Fukuyama
Penerjemah: Ruslani
Penerbit: Penerbit Qalam
Tahun Terbit: 2016 (cetakan kedua)
Tebal Halaman : xiii + 510 halaman