SIMPUL LITERASI : MENENBAR VIRUS MEMBACA



Sebuah kumpulan esai yang berisi gagasan-gagasan segar berusaha dilontarkan oleh penulis untuk dikais dan dipahami oleh pembaca. Kemungkinan, saat ini telah banyak penulisan esai dengan gaya bahasa yang renyah dan mudah untuk ditelan. Bentuk semacam ini juga bisa didapati pada kumpulan esai yang ditulis oleh Aditia Purnomo ini.

Kumpulan esai yang disajikan oleh penulis terbilang mudah dipahami. Bahasanya yang lugas dan sedikit dibubuhi oleh bumbu-bumbu lucu memberikan kesan tidak sedang membaca esai yang memiliki kesan serius. Akan tetapi, layaknya mendengarkan curhatan teman yang pikirannya sedang dilanda berbagai permasalahan pelik.

Buah karya Aditia Purnomo ini terdiri dari 4 bagian simpul, pertama, Simpul Mati, kedua Hidup, ketiga Jangkar, dan terakhir Simpul Pangkal. Keempat bagian tersebut berisi dengan topik yang beragam. Mulai dari berbicara soal pemerintahan, bola, membicarakan seorang Eka Kurniawan, merambah hingga hoaks, dan hal-hal sebagainya, sangat bervariatif. Mari kita kupas satu per-satu.

Pada Bagian Simpul Mati, penulis mengawali kumpulan esainya dengan judul "Lima Puluh Tahun". Bagian ini menjelaskan sedikit tentang keluarganya, di mana kakeknya yang pernah ditangkap dan dipenjara di Jepara sewaktu ibunya dilahirkan oleh neneknya. Selain itu, penulis juga menceritakan perihal pembunuhan massal yang terjadi pada tahun 65 sewaktu ibunya dilahirkan. Pada paragraf terakhir esainya, penulis mengatakan bahwa tahun ini ibunya berulang tahun yang ke-50 tahun. Ulang tahun dari ibunya inilah yang dijadikan judul untuk membuka kumpulan esainya. Sebuah wujud bakti yang sangat menawan.

Pada Bagian Simpul Mati berjudul “Pabrik-Pabrik Penghasil Buruh” memberikan kesan yang menarik bagi saya. Kontennya tentang hadirnya job fair yang diadakan oleh pihak universitas bisa menjadi referensi bagi calon alumni dari universitas untuk mencari kerja. Pendidikan dengan model seperti ini, layaknya menciptakan tenaga kerja untuk menjadi buruh di dunia industri.


“Dalihnya adalah mempersiapkan peserta didik agar siap dalam persaingan dunia kerja yang semakin ketat” (halaman 23)

Dalam esai ini, saya memahami bahwa pendidikan seakan-akan seperti berorientasi untuk mencetak para buruh baru potensial. Padahal, seharusnya pendidikan menjadi sarana untuk membuat seseorang menjadi cerdas dan mampu memecahkan solusi pada masalah masyarakat di sekitarnya.


“Karena pendidikan formal seperti umumnya sekarang bukanlah pendidikan yang membebaskan karena menjambak peserta didiknya pada jurang kapitalisme” (halaman 24)

Apabila pendidikan menganut sistem bank, maka untuk memperoleh pendidikan dengan kualitas baik, kita perlu membayar mahal. Sedangkan, bagi mereka yang tidak bisa membayar mahal, mereka akan mendapatkan pendidikan yang biasa saja.

Menurut saya, pendidikan saat ini memang sebuah kompetisi bagi orang-orang yang mempunyai otak yang encer dan pandai ilmu eksak. Akhirnya, hal ini membuat orang-orang yang sekiranya kurang pandai menjadi terpinggirkan. Pendidikan semacam ini, dijadikan ajang untuk berkompetisi menjadi paling pandai, bukan untuk mendidik manusia menjadi berpengetahuan secara merata dan tidak berat sebelah. Singkat kata, yang pandai semakin pandai, yang kurang pandai tetap stagnan, jalan di tempat.

Di sini, saya tidak akan menguraikan esai secara keseluruhan. Hanya beberapa yang bisa saya kulik dikarenakan keterbatasan saya sebagai pembaca. Saya hanya mengambil sampel dari keempat bagian yang telah di sajikan. Namun, sampel ini tidak semata-mata merepresentasikan keseluruhan tema esai. Mengingat topik yang dibahas dalam buku dengan gambar sebuah simpul ini membahas topik yang beragam.

Pada Bagian Simpul Hidup, saya tertarik untuk mengulas esai dengan judul “KKN sebagai Advokasi Sosial”. Di mana KKN menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan oleh seseorang yang menyandang status ‘mahasiswa’ untuk melaksanakan salah satu isi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.


“Ketimbang disebut sebagai ajang pengabdian, KKN mungkin lebih tepat menjadi ajang pembelajaran masyarakat dan advokasi sosial terhadap masyarakat” (halaman 87)

Melalui buku terbitan EA books ini, penulis menyampaikan bahwa selama KKN mahasiswa akan terjun langsung ke masyarakat untuk mengamati realitas yang terjadi di masyarakat. Selain itu, penulis juga bercerita seputar pengalamannya sewaktu KKN di Bogor tepatnya di desa Tegalega, Cigudeg, Bogor. Standar pendidikan yang masih jauh dari kurikulum 2013 didapati di tempat ini. Bahkan setingkat peserta didik kelas 6 SD, masih ada yang belum dapat membaca dengan lancar. Di sini, mahasiswa menjadi tempat mengadu bagi masyarakat sekitar.

Menurut pengalaman saya sewaktu KKN, mengabdi selama satu bulan memang menjadi pengalaman yang luar biasa, di mana sebelumnya tidak pernah saya dapatkan di kelas. Melihat realita pendidikan yang masih belum ideal, arahan dosen yang ingin begini dan begitu membuat mahasiswa bingung antara keinginan dosen dan fakta yang ada di masyarakat.


Penulis juga mengatakan bahwa fakta yang ada dilapangan memang tidaklah seindah yang dibayangkan oleh dosen. Biasanya dosen meminta para mahasiswanya untuk menerapkan latar belakang akademisnya di tempat KKN“Realitas lapangan tentu tidak selalu sama dengan persepsi para dosen yang mendambakan keadaan ideal bagaimana mahasiswa ber-KKN sesuai dengan latar belakang akademisnya” (halalaman 88)

Setidaknya, ketika mahasiwa melakukan KKN, apa yang telah dilakukannya akan menjadi perwujudan dari advokasi sosial dengan melihat lapangan. Selain itu, KKN selama sebulan tersebut, dapat membuat mahasiswa membaur bersama masyarakat dan belajar perihal hidup bermasyakat. Sedangkan di kampus, kita hanya belajar tentang teori saja.

Pada esai berjudul “Menjadi Simpul yang Menggerakkan Pustaka, Bukan Pencari Donasi”, mengingatkan saya untuk berpikir kembali tentang makna sebenarnya dari judul buku ini. Di mana sehurusnya kita dapat menjadi perekat layaknya simpul yang mengikat kuat dan penggerak untuk melakukan kegiatan kemasyarakatan.

“…menjadi simpul Pustaka Bergerak Indonesia artinya siap bergerak untuk pustaka. Siap membantu untuk mewujudkan tujuan dari Pustaka Bergerak dengan menyebarkan virus membaca kepada masyarakat” (halalaman 154-155)

Berdasarkan hal tersebut, taman baca sebaiknya dibangun untuk menularkan virus membaca bagi masyarakat sekitar. Tidak hanya menghimpun buku-buku dari para donator. Tetapi juga terus berusaha menjalankan program-program yang telah dirancang sedemikian rupa.

Pada paragraf akhir esai, penulis menyampaikan bahwa literasi tidak melulu soal menghimpun buku dengan jumlah banyak untuk dibaca. Tetapi sejauh mana penggeraknya terus berusaha untuk konsisten dalam apa yang telah dilakukan.

Dari tulisan tersebut, sedikit menyentil saya yang bercita-cita ingin mendirikan sebuah taman baca untuk masyarakat di desa asal. Terus konsisten untuk menjadi simpul penggerak sangat perlu dilakukan selain hanya mengumpulkan buku-buku untuk dibaca. Tidak hanya mencari bantuan buku saja, tetapi program yang dicanangkan tidak dapat dilakukan dengan baik, maka akan menjadi kurang afdol. Selain itu, perlu terus bergerak untuk mengenalkan dunia literasi pada masyarakat.

Dengan memiliki ketebalan 220 halaman, buku ini ditutup dengan guyonan lucu dari penulis seputar JKT48. Hal ini dikarenakan tampaknya penulis sangat mengagumi girlband tersebut.

Keterangan:
Judul Buku : Menjadi Simpul Menggerakkan Asa
Penulis : Aditia Purnomo
Penerbit : EA Books
Cetakan : Pertama, Maret 2019
Tebal : xii + 220 halaman
ISBN : 978-602-51695-7-1