Seberang Jalan Jalur Dua

Oleh: Rendra Abdullah

Angin meniupkan kertas-kertas berwajah riang
Menyandra lelehan air mata yang terbias lampu jalanan kota
Dan pada bangku taman yang terikut tabah
Ia telah jengah atas takdir yang ia lalui kemarin


Sebenarnya...
Aku mengerti betul jeritan hatinya
Tatkala tunawisma meminum sebotol air buangan
Lalu menatap ia lebih dari susahnya


Detik-detik itu semakin jelas mengalahkan suara mesin jahit tua
Dalam toko tekstil yang menjual benang-benang dan kain merah
Aku melihatnya lagi
Ia belum juga beranjak


Aku melihat dosa-dosanya
Yang menetes pada kolong bangku taman
Aku melihatnya mendongak
Menatap mendung yang menghalang rentang para bintang


Sekadar papan nama toko yang terombang-ambing menyuarakan kegelisahannya
Dan pada bangku taman yang terikut tabah
Ia selalu ingat
Upacara pengabuan rasa
Di seberang jalan jalur dua