NGALAP BERKAH DARI KERBAU KIAI SLAMET




Kebudayaan, memiliki kandungan makna yang menggambarkan pola kebiasaan masyarakat, seperti religi dan kesenian. Makna Kebudayaan sangat beragam, baik sebagai individu maupun secara sosial kemasyarakatan. Kebudayaan bisa juga memberikan makna sebagai pendidikan atau pengajaran, sebagai pandangan hidup manusia dan relasinya dengan alam sekitarnya. Oleh karena itu, kebudayaan sangatlah berpengaruh terhadap peranan hidup "lelaku" manusia  berupa nilai-nilai dan moral dalam membentuk interaksi manusia dengan lingkungan.

Di Indonesia, hubungan antara kebudayaan dan Agama Islam tidak bisa terpisahkan, berdasarkan sejarah penyebarannya di pulau jawa yang sangat panjang. Dengan memadukan ajaran agama Islam dan kebudayaan lokal, menjadikan Islam bersifat ramah, toleran, dan harmonis. Salah satu budaya yang kental dengan nilai-nilai agama Islam adalah "Kirab Budaya Malam 1 Suro" di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kota Solo. Prosesi ini melibatkan abdi dalem keraton dan masyarakat sekitar. Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin dalam menyambut datangnya tahun baru Islam (hijriyah). Dalam prosesi kirab, Kebo Bule Kiai Slamet memiliki peran penting terhadap suksesnya acara tersebut.

Bagi masyarakat Solo, prosesi Kirab merupakan momentum yang dinanti-nanti. Sebab, ritual tersebut merupakan simbol budaya penanda datangnya bulan suro atau muharram. Sudah tidak jarang lagi warga dari berbagai luar kota berdatangan hanya demi melihat prosesi Kirab Budaya Malam 1 Suro, ngalap berkah Kebo Bule Kiai Slamet menjadi salah satu motif utamanya. Sebagian dari masyarakat percaya, mengikuti kirab ini bisa membawa berkah dan keselamatan hidup dalam kehidupan dunia. Ritual Kebo Bule di malam 1 suro di awali dengan dipanjatkan do’a oleh abdi dalem di depan Kori Kemandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Seusai berdoa, para abdi dalem menyebar singkong dan taburan kembang tujuh rupa untuk menyambut si Kerbau Bule keturunan Kiai Slamet yang dikeramatkan. Konon, ritual ini tidak akan dimulai jika si Kerbau Bule tidak mau keluar kandang dengan sendirinya.

Dikutip dari keraton.perpusnas.go.id, “Ritual kirab malam 1 Sura berlangsung tengah malam, biasanya tepat tengah malam, tergantung “kemauan” dari kebo Kyai Slamet. Sebab, adakalanya kebo keramat baru keluar dari kandang selepas pukul 01.00. Kirab pusaka ini sepenuhnya memang sangat tergantung pada kebo keramat Kyai Slamet. Jika saatnya tiba, biasanya tanpa harus digiring kawanan kebo bule akan berjalan dari kandangnya menuju halaman keraton. Peristiwa ini sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Ribuan orang tumpah ruah di sekitar istana, juga di jalan-jalan yang akan dilalui kirab. Masyarakat meyakini akan mendapat berkah dari keraton jika menyaksikan kirab.”

Jika Kerbau tersebut tidak keluar dari kandangnya, maka acara tersebut tidak bisa dimulai. Tidak ada satupun dari abdi dalem dan Sentono Keraton berani memaksa Kerbau untuk keluar dari kandangnya. Mengingat, hewan tersebut begitu dikeramatkan.

Para punggawa Keraton tidak memperlakukan Kerbau Bule layaknya seperti binatang lainnya. Justru mereka memperlakukannya layaknya seperti Pangeran. Setelah Kerbau keturunan Kiai Slamet keluar dari kandangnya, para abdi dalem memberikan semacam penghormatan dengan gaya kejawen "melapukan sungkem di depan Kerbau keramat, kemudian mengalungkan untaian kembang melati dan kantil". Setelah itu, si Kerbau dibiarkan untuk memakan singkong di depan Kori Kemandungan Keraton.

Kerbau Bule berjalan sendiri dari depan Kori Kemandungan Keraton, berjalannya si kerbau Keramat menandakan dimulainya prosesi kirab pusaka di Malam 1 Suro. Dengan didampingi serati atau pawang kerbau berbaju putih sebanyak empat Kerbau Bule keturunan Kiai Slamet memimpin jalannya kirab di barisan paling depan, dan ribuan warga pun terlihat telah memadati sepanjang jalur rute Kirab dari arah kanan dan kiri. Tidak ada kilatan lampu flase dan juga gemah suara manusia. Hanya derap langkah beralas kaki peserta kirab yang terdengar, semua hening ketika Kirab Kerbau mulai berlangsung. Dalam prosesi tersebut, di belakang kerbau terdapat para barisan punggawa kerajaan tombak sejumlah koleksi pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Kerbau Bule keramat Kiai Slamet berada di barisan terdepan, mengawal pusaka keraton Kiai Slamet yang dibawa para abdi dalem Keraton. Menariknya prosesi ini,  Masyarakat lokal dan pendatang yang mengikuti prosesi malam 1 suro berjalan mengikuti kirab, dan saling berebut berusaha menyentuh atau menjamah tubuh Kerbau Bule keramat Kiai Slamet ini. Tidak cukup menyentuh Kerbau Bule keramat Kiai Slamet ini, orang-orang terus berjalan di belakang kerbau, menunggu sekawanan kebo bule buang kotoran. Begitu kotoran jatuh ke jalan, orang-orang pun saling berebut mendapatkannya. Tidak masuk akal memang. Tapi mereka meyakini bahwa kotoran sang Kerbau Bule keramat Kiai Slamet akan memberikan berkah, keselamatan, dan rejeki berlimpah. Mereka menyebut kotoran tersebut sebagai tradisi ngalap berkah atau mencari berkah Kyai Slamet.

Akan tetapi, dari pihak keraton tidak menyatakan jika kotoran Kerbau bisa mendatangkan berkah, akan tetapi jika digunakan untuk menyuburkan tanaman bisa diterima oleh akal. Hal demikian sesuai dalam Situs Web Kepustakaan Keraton Nusantara.

“Keraton Surakarta tidak pernah menyatakan tlethong (kotoran) kerbau bisa mendatangkan berkah. ”Kalau tlethong dianggap menyuburkan sawah karena dapat dibuat pupuk, itu masih diterima akal. Namun kami memahami ini sebagai cara masyarakat menciptakan media untuk membuat permohonan. Mereka sekadar membutuhkan semangat untuk bangkit,” dikutip dari keraton.perpusnas.go.id.

Kerbau Kiai Slamet yang dikeramatkan oleh pihak keraton ber-jenis Kerbau Albino yang memiliki corak kulit berwarna putih dengan bintik kemerah-merahan. Konon, kerbau bule tersebut merupakan sebuah pemberian Bupati Ponorogo. Kerbau Bule sangat dikeramatkan dan menjadi salah satu pusaka paling penting dikeraton Surakarta. Ada sebuah kisah, nenek moyang Kerbau Bule merupakan binatang kesayangan Paku Bowono II. Konon, jika Paku Bowono II ingin mencari lahan baru untuk dijadikan keraton baru, ia mempercayakan pada Kerbau Bule Kiai Slamet pemberian Bupati Ponorogo.

Selain sebagai ritual, prosesi kirab juga digunakan untuk menyambut datang-nya tahun baru Jawa. Kirab Kerbau Bule Kiai Slamet di malam 1 suro merupakan bentuk penghormatan atas karya Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Bagi masyarakat Jawa, malam 1 suro dalam penanggalan Jawa merupakan sebuah malam sakral dan keramat. 

Bagi masyarakat Kota Solo, prosesi kirab merupakan momentum yang di nanti setiap tahunnya. Masyarakat dari berbagai daerah di Surakarta-pun berdatangan hanya untuk menonton atau ngalap barokah dari sesi ritual Kerbau Bule Kiai Slamet. Sebagian dari mereka percaya bahwa mengikuti kirab Kerbau dapat membawakan keselamatan hidup kedepannnya.

Malam 1 Suro sangat berarti bagi orang Jawa, tidak hanya memiliki dimensi fisik perubahan tahun, namun juga mempunyai dimensi spiritual. Sebagian masyarakat Jawa meyakini, bahwa perubahan tahun Jawa menandakan babak baru dalam tata kehidupan kosmos Jawa, terutama kehidupan masyarakat agraris. Peran Kebo Bule Kyai Slamet adalah sebagai simbol kekuatan yang secara praktis digunakan sebagai alat pengolah pertanian, sumber mata pencaharian hidup bagi orang-orang Jawa. Dari Prosesi tersebut kita bisa belajar kearifan lokal tanpa meninggalkan kepedulian sosial dan beragama. Selain itu, kita bisa juga belajar ber-islam tanpa mengabaikan budaya lokal.