JEJAK WALISONGO DIPERSIMPANGAN PERADABAN




Berdasarkan catatan Marcopolo pada akhir abad ke-13 kala singgah di Negeri Perlak (dikutip dari sindonews.com: Kerajaan Perlak diyakini para ahli sejarah merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang berdiri di wilayah Aceh Timur), penduduk pribumi dibagi menjadi tiga golongan, yakni golongan muslim Cina, golongan muslim Arab-Persia, dan golongan pribumi yang mayoritas pemuja roh-roh. Menurut catatan Ma Huan, penduduk yang tinggal di pesisir pantai dibagi menjadi tiga golongan, yakni muslim Cina, muslim Arab-Persia, dan pribumi yang masih kotor, memuja roh-roh, dan hidup sangat kotor. Berdasarkan catatan tersebut, penduduk pribumi secara mayoritas belum dianut secara luas di kalangan masyarakat pribumi. 

Pada akhir abad ke- 14 merupakan tonggak yang paling penting dalam sejarah peradaban Islam di wilayah Nusantara. Hal ini terbukti dengan beberapa keluarga dan pejabat tinggi kerajaan yang sudah menganut Islam. Berdasarkan sumber yang menyebutkan, hanya kalangan tertentu yang berhasil menganut ajaran Islam, dan belum secara menyeluruh Islam menyebar ke pelosok Nusantara. Pada akhir pertengahan abad ke- 15 hingga paruh ke dua pada abad ke- 16, muncul tokoh-tokoh sufi penyebar Islam yang dikenal dengan karomah dan kesaktiannya, yakni Walisongo.

Munculnya Walisongo berperan penting terhadap tersebarnya Islam diseluruh pelosok Nusantara. Mereka adalah guru-guru sufi yang dikenang sebagai sosok pendakwah secara masif. Jejak-jejak sufisme yang diajarkan olehnya menyisakan Islam Nusantara. Dengan ajaran-ajaran sufisme, Islam berhasil berdialog dan menyatu dengan ajaran kepercayaan penduduk pribumi seperti Hindu, Budha dan kapitayan.

Sekalipun ada berbagai macam kepercayaan di wilayah Nusantara, diantaranya penganut kapitayan yang disalahpahami oleh orang belanda sebagai aliran animisme-dinamisme, bisa diprediksikan, dengan munculnya tauhid kapitayan pra-Islam di Nusantara memudahkan Walisongo untuk mengasimilasi dari kapitayan menuju Islam sinkretis, atau dalam bahasa NU Islam Nusantara. Hal ini bisa dibuktikan dengan ajaran sufi yang mudah diterima pada saat itu. Mereka menganggap Walisongo sebagai tokoh keramat yang memiliki kekuatan “daya sakti”, atau dalam terminologi Islam memiliki semacam karomah.

Dalam Atlas Walisongo, Salah satu ajaran penghalang dakwah Walisongo adalah penganut ajaran Bhairawa tantra yang pengikutnya memiliki kekuatan “adik daya” luarbiasa dengan ajaran terkenalnya Ma-lima. (Sunyoto: 2018)

Dengan kemasyhuran dan tenarnya pengaruh ajaran tersebut, menjadikan dakwah Walisongo tersendat. Dengan hadirnya para sufi penganut tarekat rifa’iyah menjadi tandingan bagi para pengamal Ma-lima. Para sufi berhadapan vis a vis dengan lawan yang juga berkekuatan magis dan supranatural. Yang pasti, ajaran tersebut mampu menandingi dan melenyapkan secara perlahan atas pengaruh ajaran Bhairawa tantra yang mengakar kuat disetiap sendi-sendi masyarakat. Menurut beberapa sumber, tarekat rifa’iyah mengajarkan ilmu kanuragan semacam ilmu tahan panas, tahan benda runcing, tahan tusuk, dan benda tajam yang lainnya.

Dengan adanya salah satu ajaran sufi (tarekat rifa’iyah) yang didirikan oleh Syekh Ahmad Rifa’i Al-Baghdadi menjadikan Islam berhasil berasimilasi dengan ajaran Bhairawa Tantra. Ajaran tersebut mendekonstruksi ajaran ma-lima dengan ajaran semacam kenduri. Semula, ajaran ma-lima mengajarkan beberapa ritual, mamsa (memakan daging dan darah perawan), madya (bermabuk-mabukan dengan berpesta pora), matsya (memakan ikan secara berlebihan), maithuna (bersetubuh secara masal) dan mudra (berteriak-teriak dengan gerak tangan, jari dan meditasi tertentu). Tujuannya ingin menyatu dengan sang penguasa Alam (moksa). Untuk mencapai moksa, pengikut ajaran harus menghilangkan nafsu keduniannya. Kemudian bertapa (semedi) menuju ke penguasa Alam Jagad Raya. Dengan tetap mempertahankan tradisi mereka, penganut rifai’yah memodifikasi ajaran tersebut dengan semacam doa, dan aneka prasmanan makanan yang halal sebagai berkah dari slametan (bahasa jawa: tumpeng). 

Proses modifikasi antara ajaran lokal dan Islam bisa diterima oleh masyarakat pribumi dengan damai, nyaman, tenang dan harmonis. Strategi modifikasi Walisongo terkesan tidak memaksa secara penuh. Secara tidak instan mereka pelan-pelan mulai menghilangkan ajaran tersebut, melainkan dengan melalui jangka waktu yang relatif panjang dengan tidak mengusik ajaran-ajaran lokal, justru memperkuat nilai-nilai ajaran tersebut secara Islami.

Walisongo merumuskan strategi yang sangat bijak dalam menghadapi Masyarakat pribumi. Dalam Atlas Walisongo, Taktik yang diterapkan oleh Walisongo antara lain: pertama bertahap, masyarakat pribumi tidak dipaksa secara langsung untuk menganut sistem ajaran Islam, melainkan tetap membiarkan kebiasaan mereka dan mengikis secara perlahan untuk merubah mindset dari ajaran yang tidak lurus diarahkan ke jalan yang lurus (minazzulumati ila an-nur). Misal: mereka membiarkan meminum arak sampai mereka sadar dengan mengarahkannya secara perlahan supaya mengerti dampak negatif dari arak itu sendiri. Kedua, tidak menyakiti. Ajaran Walisongo tidak meleburkan semua budaya lokal yang ada di bumi nusantara. Melainkan tetap mempertahankan aneka budaya dari hasil produk dan kreativitas manusia.

Meraka tidak membiarkan kekayaan budaya di nusantara lenyap dengan alasan ingin memurnikan ajaran Islam. (Sunyoto: 2018)

Walisongo paham betul atas anugerah yang telah diciptakan oleh Sang penguasa alam jagad raya, jika bumi nusantara kaya akan multi bahasa, multi etnis dan budaya. Belum lagi dengan sumberdaya alam hayati yang sangat kaya, iklim tropis yang seimbang menjadikan nusantara sebagai sorotan utama dari beberapa Negara.

Tentunya dengan keanekaragaman budaya dan hayati tidak bisa dipermasalahkan, hal demikian merupakan bentuk rasa syukur kita atas anugerah yang telah diberikan-Nya. Tampaknya Walisongo sadar, bagaimana seharusnya menyikapi masyarakat pribumi melalui pribumisasi Islam di Nusantara. Islam harus dikontekstualisasikan sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada pada saat itu tanpa menghilangkan prinsip-prinsip dan esensi ajaran yang masih dianut oleh masyarakat pribumi, bukan dihancurkan, dirusak dan dilenyapkan. Ajaran Walisongo mengingatkan kita atas kerja kerasnya dan kemampuan strateginya yang mempu beradaptasi secara kritis melalui aspek-aspek budaya yang telah dianut oleh masyarakat setempat. Hal ini patut dijadikan pijakan dan pondasi jika Islam diseberluaskan dengan cara rahmatal lil alamin. Keberhasilan adaptasi antara Islam dan budaya lokal menjadikan Islam shalih li kulli zaman wa makan.

Menurut Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo, Ada beberapa statement mengungkapkan penyebaran Islam Walisongo hanyalah sebagai dongeng, legenda dan mitos yang muncul dari mulut ke mulut. Hal ini terbukti dengan hasil terciptanya buku Ensiklopedia Islam karya Van Hoeve yang hampir sama sekali tidak mencantumkan nama Walisongo. (Sunyoto: 2018)

Penghapusan sejarah nama Walisongo dalam Ensiklopedia Islam merupakan salah satu strategi kaum minoritas yang puritan sengaja ingin membasmi dan membersihkan ajaran Walisongo dalam sejarah peradaban Islam di Nusantara. Hal ini merupakan salah satu taktik yang strategis untuk menghilangkan Walisongo dalam ranah akademik, supaya validitas sistem ajaran yang disampaikan oleh Walisongo tidak bisa diverifikasi.

Kalangan Islam modernis puritan menganggap ajaran Walisongo terlalu toleran pada budaya lokal, baik dalam sistem kepercayaan, seni budaya dan tradisinya, hingga makam para Walisongo sebagai sasaran penghujatan. Kelompok modernis mengaku jika sistem dakwah yang diajarkan oleh Walisongo dianggap bid’ah. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh ilmuan sosialis yang mengungkapkan Walisongo penganut semi-animis dan tradisionalis. Menurut Geertz, fenomena ajaran Islam yang ada di Jawa sangat kental dengan nuansa sinkretisnya. Selain itu, ajaran Islam yang dianut oleh masyarakat Jawa campur aduk dengan tradisi pra-Islam.

Dengan berbagai tuduhan dan serangan yang dilakukan oleh kaum minoritas terhadap sistem dakwah yang diajarkan Walisongo, Islam yang ada di Nusantara tidak sepenuhnya murni sesuai ajaran Islam yang ada di Timur Tengah. Islam yang diajarkan Walisongo telah melakukan dialektika yang dinamis terhadap Islam yang universal dengan budaya lokal dimana ia hidup. Islam yang universal tidak bisa lepas dari budaya, memang logis jika Islam yang dipahami secara tekstual dalam al-Qur’an kata demi kata tidak ada perubahan. Akan tetapi jika dilihat dalam konteks historis pada saat al-Qur’an diturunkan, kitab tersebut tidak secara langsung turun secara serentak dalam waktu yang sama, melainkan secara berangsur-angsur sesuai dengan reaksi dan kondisi sosial historis yang berkembang pada saat itu. Dengan kata lain, Islam sesungguhnya bukan hasil dari produk budaya. Sebaliknya, Islam membangun sebuah budaya dan peradaban. Islam tidak hanya membahas masalah syari’at saja, tetapi pendidikan, kemanusiaan, kebudayaan, peradaban dan akhlak.

Dari segi prosentase, nas yang menjelaskan tentang ta’abudi (ibadah) jauh lebih sedikit dibanding dengan ta’aqquli (muamalah). Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia dapat melakukan proses interpretasi atau ijtihad sesuai dengan permasalahan yang dihadapi dengan memikirkan alternatif dan solusi yang lebih cocok dengan perkembangan zamannya. 

Islam pada dasarnya memiliki dua aspek, antara lain segi budaya dan agama. Agama merupakan simbol ketaatan terhadap sang penguasa alam jagad raya melalui wahyu yang diturunkan-Nya. Sedangkan budaya merupakan kreativitas manusia yang hidup dilingkungannya. Sehingga antara agama dan budaya tidak perlu dipermasalahkan dan diperdebatkan, dengan adanya agama dan budaya justru saling melengkapi antara satu sama lain.

Konsep dakwah yang disodorkan Walisongo terhadap kesuksesannya menyebarkan Islam di Nusantara tidak lepas dari beberapa lagkah supaya agama dan budaya tidak saling bermusuhan atau bertentangan, pertama, Absorption (penyerapan) yaitu penyerapan budaya dan pemikiran hindu, budha, kapitayan. Kedua, Modification (modifikasi) yaitu penyesuaian antara Islam dan budaya pra-Islam. Contoh: pembuatan kubah masjid berbentuk undak-undakan merupakan hasil modifikasi dari kebudayaan hindu di Jawa. Ketiga, Elimination (penyaringan) yaitu proses penyaring kebudayaan hindu, budha dan kapitayan, baik yang diterima atau tidak diterima jika bertentangan dengan ajaran Islam.

Berdasarkan uraian mengenai dakwah Walisongo, kita bisa belajar bagaimana mempertahankan Islam yang tidak memukul, akan tetapi merangkul, tidak menghujat, tetapi menebarkan kasih sayang. Tantangan golongan minoritas terhadap penghujatan dakwah walisongo sebagai ajaran bida’ah, kufarat, dan sesat tentunya harus didudukkan dengan tasamuh, tawasuth, dan tawazun, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai ajaran yang telah dihidangkan oleh Walisongo tanpa meninggalkan dan mengabaikan kearifan lokal. []