SECUIL SURAT UNTUK EYANG HABIBIE



Setitik rindu menghangat, mengalirkan bulir-bulir air mata di Bumi Nusantara. Meski raga belum pernah bersua, namun cinta, kasih dan inspirasi yang Eyang Habibie lahirkan begitu beraroma dan digdaya untuk seluruh masyarakat Indonesia. Ada tetesan rindu, yang menyesakkan kalbu, Eyang. Ada rasa kehilangan yang begitu mendalam. Namun, Allah sudah mengatakan, "Cukup atas kerja keras dan perjuanganmu semasa hidup. Kini, beristirahatlah dalam damai dan tenang." Jika Rabb telah bertitah seperti itu, maka, kami bisa apa? Tugas kami yang paling benderang kini adalah menggantikan tugasmu yang otomatis beralih kepada kami, generasi penerus negeri.

Ucapan Bapak Ilham Habibie yang terlontar pada prosesi pemakaman Eyang siang tadi masih menggema dan menggelitik diri. Beliau menyampaikan, bahwa Eyang BJ Habibie tidak pernah berhenti belajar, meski usia telah senja. Secara otomatis, Eyang mengaplikasikan amanah Baginda Nabi, bahwa menuntut ilmu itu dimulai sejak dari ayunan hingga liang lahat.

Ah, Eyang. Malu sekali kami denganmu. Engkau yang telah renta saja masih terus memiliki semangat menyala untuk meng-upgrade keilmuan. Sedangkan kami, generasi milenial malah lalai dan terus membuat alasan agar terbebas dari belajar.

Eyang, kami terjajah, kami tahu tapi tak menyadarinya. Teknologi yang merupakan kontribusi terbaik dari eyang membuat kami berada di zona nyaman. Kami hanya sibuk dengan teknologi yang mampu menawarkan popularitas dan eksistensi semu, sehingga mata kami buta. Belajar tidak lagi berselera. Dan, apa yang harus kami katakan jika bertemu engkau dan para pejuang negeri ini kelak sebagai anak cucu yang telah kalian perjuangkan nasibnya?

Eyang Habibie, dekapan hangat Eyang masih begitu terasa. Namun ternyata, hari ini mengantarkan pada tanah pemakamanmu yang masih basah. Aroma bunga kematianmu masih wangi, pertanda bahwa salah satu cahaya paling benderang di negeri ini telah redup. Salah satu sumber ilmu dan pemberi petuah kepada putra-putri bangsa telah temaram. Bukan bermaksud untuk meratapi panggilan Tuhan kepadamu. Hanya, rindu kepadamu begitu menggigit hingga sakit dan deras mengguyur hati kami.

Engkau telah membuktikan, Eyang Habibie. Bahwa ketika kita sibuk menanam di usia ranum, hasil tanaman itu akan tumbuh subur dan indah di masa nanti. Prosesmu dalam berjuang, dalam mewujudkan tujuan dan tidak pernah berhenti sebelum apa yang diinginkan terjadi, akan selalu kami ingat dan kami aplikasikan. Kami ingin seperti Eyang, yang sangat mencintai negeri ini, meski tawaran di negeri yang lain begitu menggiurkan. Kami ingin seperti Eyang, yang telah memberikan sumbangsih kepada kemajuan di Indonesia. Kami benar-benar ingin seperti Eyang, yang terus berjuang tidak mengenal lelah sebelum apa yang diinginkan tercapai.

Namamu harum, tidak hanya di Bumi Pertiwi ini, Eyang. Engkau telah meninggalkan jejak wangi di banyak negara. Kehidupanmu begitu bermakna dan berharga. Terima kasih, Eyang ya. Terima kasih engkau memilih untuk berjuang dan menjadi teladan paling membanggakan untuk bangsa di negeri ini.

Ragamu memang telah tertanam, Eyang. Namun inspirasi dan petuah indah darimu akan terus hidup, tiada mengenal redup. Indonesia akan selalu merindukanmu, dan kami akan melanjutkan perjuangan serta mimpi-mimpimu. Selamat berada di pangkuan Allah, Eyang. Salamkan kami kepada Eyang Ainun di sana. Selamat jalan dan sampai jumpa di kehidupan abadi, kelak, Eyang Habibie tercinta.

Post a Comment

0 Comments