MELUMAT PETUAH KOPI DAN SENJA



Sore itu, menjelang surup (waktu menjelang Magrib, Jawa), saya sedang bersama Mbah Yut menikmati secangkir kopi sembari menyambut redupnya matahari yang menandakan malam akan segera tiba. Langit mulai menjingga. Redup dan tenang menyapa semesta. Sembari me-nyeruput (meneguk, Jawa) kopi hitam dan sebatang rokok secara berganti, tampak Mbah Yut sedang berbincang. Tentu saja, dengan saya.

"Urip iki iyo wes ngene-ngene wae. Ora piye-piye. Iyowes ngene iki, (Hidup itu seperti ini, tidak aneh-aneh, ya sudah, seperti ini saja.)" kata kakek, sembari menyeruput kopinya.
  
Saya, yang menemaninya menghabiskan secangkir kopi di warung ini tampak kebingungan mendengar ucapan kakek. Mbah Yut melanjutkan percakapannya yang sempat terjeda oleh tegukan pertamanya pada segelas kopi hitam yang duduk manis di atas meja.

"Maksud Mbah, mbok jadi orang itu yang banyak syukurnyaDikasih satu ya alhamdulillah. Dikasih dua alhamdulillah. Pokoknya dikasih berapapun juga, alhamdulillah."

Dahi saya mengerut dengan ucapan mbah yut. Saya pun bertanya, "bagaimana jika gugur satu Mbah?"

Dengan nada geli beriring tawa, si Mbah menjawab,"Kalau gugur satu ya tumbuh seribu. Hahaha...
  
Setelah kenyang dengan tawanya, mbah yut tiba-tiba hening. Dengan wajahnya yang telah keriput, Mbah terlihat ingin menyampaikan sesuatu. Tatapan matanya yang begitu tajam membuat mulutku bergerak untuk bertanya.

"Ada apa Mbah?"...

Bibir mbah terlihat mulai bergerak dan bersuara.

"Nak, kamu pernah dengar tentang senyum itu termasuk bagian dari sedekah?"

Dengan nada yang agak rendah saya menjawab, "pernah Mbah, memang kenapa?"

Sambil mengelus jenggotnya yang panjang, kakek melanjutkan,

"Jika kamu selalu tersenyum kepada siapapun, apa yang kamu inginkan pasti akan diberi tanpa kamu minta. Tanpa meminta cinta, mereka akan mencintaimu. Tanpa meminta sayang, mereka akan menyayangimu. Tanpa meminta belas kasih,mereka akan mengasihimu."

Mendengar nasihat yang baru saja terlahir dari mulut mbah yut, saya tampak mengerutkan dahi lebih keras. Bagi saya, ucapan mbah semakin sore semakin sulit dimengerti. Saya mencoba  meminta kejelasan dari ucapan beliau.

"Kok bisa begitu, Mbah? Contohnya seperti apa?"

Sebelum menjawab, mbah yut memberikan senyumannya yang khas. Ketika beliau tersenyum, ikutlah menyeringai giginya yang hanya tersisa satu. Sesaat, disela senyumannya itu, si Mbah menjawab.

“Misalnya: orang gila yang selalu senyum-senyum sendiri ketika dia dipukuli oleh sekian banyak orang. Namun, gara-gara tingkah gilanya saat itu juga, pasti ada seseorang memberanikan diri untuk melerai mereka. Apakah orang gila tersebut minta tolong? Minta belas kasih,tidak sama sekali? Akan tetapi mungkin hanya merintih kesakitan?" ucap mbah dengan senyuman. 

"Nah, itulah wujud dari cinta, sayang dan belas kasih yang sebenarnya. Sebab orang tidak akan rela melihat seseorang yang dicintai dan disayangi merasa tersakiti," lanjutnya, mencoba memahamkan kepada saya.

Sembari menganggukkan kepala, saya mulai agak paham dan menjawab, "Oh, jadi begitu ya Mbah."

Mbah melanjutkan perkataannya "tetapi, kalau orang gila yang kita jadikan contoh, tetap ada minusnya loh, ya."

"Apa itu, Mbah?" tanya saya, mencari kejelasan.

Wajah Mbah terlihat agak kesusahan untuk menjawab,
"Eee, nganu Le,ora enek sing gelem duwe mantu sing model kaya ngunu Le. (E, jadi seperti ini, Nak. Tidak ada yang berkenan untuk memiliki menantu dengan model seperti itu) Hahahaha," jawab si Mbah dengan tawa meledak.

Mendengar ucapan kakek tersebut, saya spontan berkata, "Dj******, Mbah! Hahahaha." Saya ikut tertawa dengan beliau, sembari melihat langit yang semakin temaram, dan azan Maghrib mulai bersahut-sahutan.

Betapa indahnya hidup ini jika selalu menerima dan mempraktikkan syukur. Saat memberi tak merasa kehilangan dan saat tidak mendapat tidak merasa kekurangan. Syukur hanya bisa tumbuh jika kita mampu menyelipkan cinta dalam menjalani kehidupan ini, demi kebahagian sejati dan hakiki.