HIKMAH DIBALIK HIJRAH RASULULLAH KE MADINAH

Ditolong manusia aja semua bisa jadi mudah, apalagi ditolong oleh Penciptanya manusia.
-Ust. Hanan Attaki-

Saya betul-betul tidak paham kenapa orang-orang zaman milenial selalu sibuk memikirkan bahwa solusi dari permasalahan selalu datang dari manusia. Atau mereka yang mempunyai hutang mungkin berwujud bank bagi mereka yang ingin berhutang karena menginginkan sesuatu, atau mungkin dalam wujud bengkel bagi mereka yang kendaraannya sedang mogok.

Sebenarnya, ketika kita dihadapkan dengan masalah, Allah SWT. juga menyertakan aqidah callange untuk kita--para mantan penghuni surga ini. Bukan hanya mempelajari teori rububiyah, melainkan juga tentang apa yang kita sebut dengan keyakinan. Misalnya saja, dalam hal memaafkan orang lain.


Banyak orang yang sulit memaafkan orang lain padahal Allah SWT. pernah berfirman, Apakah kamu sekalian tidak ingin dosa-dosamu diampuni? Lalu kenapa engkau tidak memaafkan saudaramu?

Secara teori, pastinya kita sudah pernah diajari sejak sekolah dasar atau bahkan sejak taman kanak-kanak bahwa Allah swt. itu Ghofur dan Rahiim. Tapi nyatanya, kata Ghofur dan Rahiim hanya secara tekstual kita pahami, tetapi masih buta secara kontekstual. Buktinya banyak dari generasi sekarang yang masih enggan dan merasa rugi jika dirinya memaafkan orang lain, bahkan merasa gengsi jika mereka harus memulai lebih dulu.

Kalau kita melihat ke masa lalu, yaitu ketika masa Rasulullah, kita sudah semestinya mengambil learning point dari setiap peristiwa atau kejadian yang dialami oleh Rasulullah, bahkan para sahabat pada masa itu. Karena zaman yang paling Oke itu, ketika Rasulullah masih ada. 

Salah satu sahabat yang mengajarkan kita akan iman adalah Bilal bin Rabbah. Karena ketika ia disiksa oleh Umayyah bin Khallaf, Bilal sangat teguh dengan imannya hingga yang terlihat kepayahan adalah Umayyah. Apa yang dikatakan Bilal saat disiksa?, dia hanya berkata “ahadun”, walaupun hanya itu yang bisa ia ucapkan, tapi trust to Allah itu bersemayam dalam kalbu. Sehingga seberat dan sekasar apapun Umayyah bin Khallaf menyiksanya, ia tidak bergeming sedikitpun dan tetap beriman.

Lalu, kenapa Allah tidak segera mengirimkan Abu Bakar as Siddiq untuk membebaskan Bilal?, jawabannya adalah karena Allah ingin menguji hamba-Nya yang beriman. 

Dan bagaimana cara Allah menolong Bilal, yaitu dengan memberikan kekuatan iman dan kekuatan untuk sabar. Lalu barulah pertolongan kedua, Allah kirimkan Abu Bakar untuk menebusnya dari budak agar ia bisa bebas. Jadi, seperti itulah cara Allah menolong hamba-Nya yang beriman. Iman bukan hanya berarti percaya--secara kitabah, melainkan percaya dengan lisan, hati dan perbuatan. Dan Allah tidak akan pernah langsung memberikan jawaban, melainkan ingin hamba-Nya mendapat hikmah terlebih dahulu.

Dan cerita ini menunjukkan tentang bagaimana kita bisa trust sama Allah, maka semua akan mudah. Mengkondisikan hati kita ketika diuji oleh Allah dengan trust to Allah, dan serahkan semuanya kepada-Nya.

Sama halnya ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, kenapa hijrah beliau bersama Abu Bakar?

Kenapa tidak bersama Umar bin Khattab?, padahal ia adalah pendekar hebat yang mendapat julukan al-asad (singa padang pasir).

Kenapa Rasulullah tidak berhijrah dengan Hamzah?, padahal ia adalah the legend of hunter (pemburu legendaris) dan bahkan pemanah ulung.

Kenapa tidak hijrah bersama sahabat Ustman bin Affan?, padahal ia adalah saudagar kaya yang bisa saja memberikan kenyamanan kepada Rasulullah ketika berhijrah. 

Dan kenapa malah bersama Abu Bakar? Padahal ia tidak sekuat Umar bin Khattab, dia bahkan tak selincah Hamzah, melainkan ia dikenal sebagai sahabat yang lembut, pun jatuh miskin, dan ia juga berasal dari keturunan Thaim (suku yang paling lemah di Mesir).

Skenario ini tidak lain adalah untuk mengajarkan kita tentang trust to God (الثفة بالله).


Bahkan Umar bin Khattab mengatakan, “seandainya ditimbang iman Abu Bakar dengan iman seluruh penduduk bumi, niscaya lebih berat iman Abu Bakar” (as-sunnah, jilid 1 hal.378).

Jika kita mengikuti logika kita, bisa saja Rasulullah berhijrah bersama Umar Sang Pemberani yang tidak satupun orang yang berani padanya, atau bersama Utsman yang dengannya perjalanan beliau akan nyaman hingga tujuan. Tetapi, yang perlu kita garis bawahi adalah Rasulullah tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak bisa ditiru oleh umatnya, sebab itulah Rasulullah memilih Abu Bakar sehingga kita pun mendapatkan pelajaran tentang hikmah, aqidah, bersiasat sekaligus berstrategi.

Apa yang bisa kita ambil dari kisah ini?

Ketika Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di dalam goa, dan seketika itu Abu Bakar ketakutan. Kemudian Rasulullah bersabda, “kenapa engkau takut wahai Abu Bakar?

Abu Bakar menjawab, “kita hanya berdua wahai Rasulullah, bagaimana jika mereka melihat kita sedangkan kita tidak membawa senjata apapun”.


Lalu Rasulullah bersabda, “ya Abu Bakar, kenapa kamu berfikir bahwa kita hanya berdua? Sesungguhnya Allah yang ketiga. Janganlah takut, karena Allah bersama kita”.

Disinilah Rasulullah mengajarkan kita untuk melibatkan Allah dalam setiap hal yang kita lakukan dan lalui, dan sekaligus percaya kepada Allah dengan berserah diri pada-Nya. Dan tanda bagi orang beriman adalah apabila disebut nama Allah swt. maka akan tergerak hatinya, dan ketika dibacakan ayat-ayat nasehat maka akan lebih yakin kepada Allah, sehingga ia akan menyerahkan segalanya kepada-Nya.

Post a Comment

0 Comments