"CERDAS" MENJADI JURNALIS ALA ANDREAS HARSONO

Andreas Harsono adalah salah seyorang penulis buku jurnalis yang berjudul Agama Saya adalah Jurnalisme. Buku ini berisi tentang banyak hal terkait kejurnalistikan. Buku yang cocok untuk belajar menjadi jurnalis yang cerdas.

Buku karangan Harsono ini tergolong buku antologi. Dimana terdapat beberapa sub bab dalam setiap bagiannya. Buku ini terdiri dari empat bagian utama, yaitu Laku Wartawan, Penulisan, Dinamika Ruang Redaksi, dan Peliputan.

Bagian pertama: Laku Wartawan. Harsono menjelaskan sembilan elemen jurnalis yang dikutip dari gurunya, Bill Kovach, pada bagian ini. Sembilan elemen jurnalis dimaknai sebagai etika, pegangan, atau senjata bagi seorang jurnalis dalam kegiatannya. Tanpa elemen ini, jurnalis akan tersesat dalam perjalanannya mencari informasi.

Selain itu, bagian ini beisi tentang bisnis media. Dimana jurnalis akan menghadapi berbagai hal selain wawancara. Hal tersebut antara lain, yaitu pembaca, pemirsa, atau pendengar, pemasangan iklan, dan warga. Terdengar asing bagi jurnalis atau wartawan pemula, namun hal ini juga penting untuk diperhatikan. Terlepas dari semua itu, tetap saja wartawan tidak boleh terpengaruh oleh apa pun yang dapat mempengaruhi pemikiran maupun tulisannya.

"Seorang wartawan adalah makhluk asosial. Don't get me wrong." (Kovach, Agama Saya adalah Jurnalisme, h. 24)

Akan terbesit stigma mengenai jurnalis jika membaca kalimat dari Kovach itu. Namun, penulis menjelaskan jurnalis memang makhluk asosial, tapi bukan berarti ia anti sosial. Jurnalis tidak boleh terpengaruh oleh apa pun dan memiliki pendirian sendiri.

Kemudian, masih terkait dengan laku wartawan. Menurut penulis, ia masuk dalam salah satu materi jurnalis. Dimana didalamnya terdapat reportase, penulisan, laku wartawan, dan dinamika ruang redaksi (newsroom). Ada tambahan dari penjelasan penulis, bahwa materi itu akan bermakna jika dibarengi dengan praktiknya. Tidak akan terkesan utopis jika materi yang diketahui dipraktikkan sesuai dengan adanya.

Bagian dua: Penulisan. Pada bagian ini, penulis menjelaskan bahwa dalam kepenulisan, unsur utama yang harus dimiliki penulis adalah tahu dan berani. Mereka tidak boleh menulis opini dalam berita, tidak mengarang berita, atau pun sok tahu. Setelah menulis, ia juga harus berani mempertanggung jawabkan tulisannya. Jika pun harus dimintai klarifikasi, ia juga harus bersedia.

Harsono juga menegaskan bahwa untuk membuat naskah berita, jurnalis perlu melakukan riset dan interview. Tidak mungkin menemukan fakta tanpa melakukan riset dan interview, bukan? Selain itu, dalam interview atau wawancara, jurnalis tidak akan cukup dengan satu sumber. Banyak sumber yang berbobot dalam tulisan akan lebih baik, bukan? Hal ini menunjukkan bahwa jurnalis bisa bersikap independen karena tidak terkesan memihak salah satu narasumber.

Pembahasan lain dari bagian ini adalah terkait dengan rekrutmen wartawan. Penulis memiliki dua cara dalam merekrut wartawan, yaitu tes kepenulisan dan tes psikologi atau wawancara. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui mutu seorang wartawan, dimana ia juga yang nantinya akan mempengaruhi masyarakat.

".....Makin bermutu jurnalisme dalam suatu masyarakat, maka makin bermutu pula masyarakat itu. Better journalism, better lives!" (Agama Saya adalah Jurnalisme, h. 102)

Bagian tiga: Dinamika ruang redaksi. Pembaca akan diperkenalkan dengan suatu hal yang terdapat dalam ruang redaksi pada bagian ini. Hal ini meliputi kecepatan, ketepatan, dan perdebatan dalam ruang redaksi. Jangan dikira cara kerja jurnalis itu tanpa aturan, ia bisa dibilang teratur dan penuh resiko.

Bukan jurnalis namanya, jika ia takut akan resiko, karena bukan itu masalah terpentingnya. Memberi informasi dan melayani konsumsi baca masyarakat lebih penting dari pada memikirkan resiko. Akan sangat keterlaluan bagi kita, jika tidak membaca dan menambah informasi setiap harinya.

"Unsur kecepatan memang sangat penting. Makin cepat suatu media bekerja, makin penting kedudukannya dalam situasi kritis." (Agama Saya adalah Jurnalisme, h. 136)

Selain itu, penulis juga menceritakan pengalaman-pengalamannya di ruang redaksi. Menariknya, ia benar-benar mempraktikan sembilan elemen jurnalis. Elemen yang seakan menjadi senjata andalannya. Penulis juga mengungkapkan bahwa pengalaman akan menjadikan jurnalis semakin linier dengan mengabaikan segala keterbatasan dan kesulitannya.

Bagian terakhir: Peliputan. Pada bagian ini lebih menekankan pengalaman penulis dalam praktik lapangannya. Dimana ia pernah menghadapi permasalahan terkait sikap jurnalis. Ini menarik untuk dipelajari, karena sebagian besar jurnalis akan mengalami hal semacam ini.

"Bagi seorang wartawan, dia harus mendahulukan jurnalisme. Agamanya, kewarganegaraannya, kebangsaannya, ideologinya, latar belakang sosial, etnik, dan sebagainya, harus ditibggalkan di rumah begitu dia keluar dari pintu rumah dan jadi wartawan." (Agama Saya adalah Jurnalisme, h. 218)

Pembahasan terakhir pada bagian ini terkait dengan reportase dan investigasi. Penulis menjabarkan bahwa semua jurnalis mampu melakukan reportase tetapi tidak dengan investigasi. Itulah mengapa dalam bagian in penulis menyebut bahwa investigasi begitu memikat, menantang, mahal, dan beresiko tinggi.

Saya kira penjelasan Harsono dalam buku ini menarik. Ia menceritakan masalah-masalah dalam kinerjanya sebagai jurnalis sekaligus memberikan solusi pada masalahnya. Bukan hanya itu, buku ini juga memberi pedoman bagi wartawan dalam praktiknya.

Keterangan
Judul Buku : Agama Saya adalah Jurnalisme
Penulis : Andreas Harsono
Penerbit : PT Kanisius
Kota terbit : Yogyakarta
Tahun terbit : 2010


Post a Comment

0 Comments