WARIA TAKDIR ATAU PILIHAN?



Dewasa ini, sepertinya sudah tak asing lagi ketika melihat fenomena "waria" (wanita pria) dilingkungan sosial sekitar. Meskipun sedikit yang paham akan persoalan mengenai seluk-beluk kehidupan manusia berjenis "waria" ini. Bahkan fenomena ini seringkali dianggap aneh/abnormal. Tak jarang, kebanyakan orang memandang sebelah mata. Perlakuan tak sewajarnya seringkali diterima oleh kaum "waria". Sehingga, sikap tidak memanusiakan manusia seringkali muncul tanpa kita sadari. 

Sekalipun demikian pada hakikatnya "waria" juga berperan sebagai manusia, melengkapi satu kesatuan sebagai makhluk sosial, menjalankan pilihan hidupnya sebagai penyelesaian atas masalah yang pernah dilaluinya. Lantas, apakah "waria" itu bentuk kegagalan sebagai manusia seutuhnya atau hanya kodrat Tuhan semata?

Banyak asumsi yang menyatakan bahwa "waria" merupakan bentuk kegagalan sebagai manusia dalam menjalankan peranananya didunia, pilihan atas hidup seringkali dianggap menyimpang karena berbeda dengan kebanyakan orang disekelilingnya, menyerupai perempuan meskipun pada dasarnya seorang laki-laki. Menjadi aneh, jika hanya karena pilihan hidup seseorang menjadi terasing dari lingkungan sosialnya. 

Ditilik dari sudut pandang media, menurut penikmat teatrikal (Disebut: lawak) seringkali menampilkan 180' berbanding terbalik dengan kehidupan aslinya. Penampilkan komedian berpakaian layaknya perempuan sebagai contohnya. Disini sifat asli sang tokoh seakan-akan ditutup rapat bak topeng. Padahal dalam realitanya, tak banyak "waria" yang bertingkah seperti halnya suguhan teatrikal tersebut. Secara tidak langsung media telah menanamkan asumsi buruk pada masyarakat. Seakan-akan opini orang-orang mengenai kehidupan "waria" tergiring secara sistematis.

Selain itu, kebanyakan orang memandang kehidupan "waria" identik dengan pelacuran dan prostitusi. Persepsi ini secara tidak langsung akan melahirkan asumsi, bahwa "waria" tidak hanya keabnormalitasan sosial, melainkan juga sebagai sampah masyarakat yang harus dijauhi bahkan dibumi hanguskan. Hal ini juga berlaku pada hak-hak dasar mereka sebagai manusia beragama, berpendidikan, serta berpolitik.

Dalam psikologi ada beberapa gejala ke"waria"an yaitu transeksualis, transvetis, dan hermafrodit. Transesksualis jika seseorang dengan jenis kelamin secara jasmani sempurna namun secara psikis cenderung menampilkan diri sebagai lawan jenisnya. Transvetis merupakan nafsu patologis untuk memakai pakaian dari lawan jenisnya dan mendapat kepuasan seks dari pakaian tersebut. Hermafrodit adalah orang yang memiliki dua jenis kelamin atau tidak sama sekali.

Dalam Islam, dimensi fiqh khususnya kita mengenal "waria" dengan istilah khuntsa (hermafrodit). Lain lagi dalam kacamata hadits, kita mengenalnya dengan istilah mukhannats (transeksualis dan transvetis). Dalam hadits tidak selamanya keberadaan "waria" ditolak dan terlaknat. Karena hadits melihat "waria" dalam dua kelompok, "waria" yang normal secara fisik namun memaksakan diri untuk menjadi lawan jenisnya dan seseorang yang diciptakan sebagai "waria" tanpa adanya paksaan serta pengaruh sosial. Kelompok pertama adalah kelompok terlaknat dan kelompok kedua adalah kelompok yang tak terlaknat.

Manusia dengan gejala ke"waria"an yang disebabkan oleh faktor lingkungan sosial, sangat besar kemungkinannya untuk berubah dan dirubah. Bisa dirubah karena gejala ini dipengaruhi dari pembiasaan dalam kesehariaanya. Namun, bila gejala ke"waria"an dikarenakan oleh faktor hormonal dan kromoson, maka yang perlu dilakukan adalah melihat perkembangan dari sisi biologis, bukan psikisnya. Dengan kata lain, menghilangkan atau memilih salah satu dari alat kelamin yang tidak berfungsi serta kecenderungan kepribadiaanya. Hal ini bukan ditentukan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh seorang ahli (sebut dokter) atau pihak yang bertanggungjawab atas gejalanya. Karena, apabila pilihan ditentukan oleh dirinya sendiri maka besar kemungkinan akan memilih apa yang dia sukai tanpa melihat kecenderungan biologis dan psikisnya.

Melihat keberadaan "waria" dewasa ini, sudah selayaknya kita sebagai orang Islam atau kebetulan ber-Islam mampu minimal menerima atau bahkan menolong atas pilihan hidup yang katanya digadang-gadang sebagai keabnormalan itu. Pengakuan dan pemberian ruang sosial harus dimulai dari kaum beragama, mulai dengan memberi ruang gerak dan hak yang sama dengan manusia lain tanpa adanya pembeda. Keabnormalan-nya bukan penyakit yang tak dapat dibenahi, melainkan sebuah pilihan dalam hidup seseorang yang seharusnya ia sendiri sadar akan risikonya.

Post a Comment

10 Comments

  1. Bagus jekk, tapi kata2 nya sebagian hrs d perbaiki lagi. SemanaSe

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah... lanjutkan tetap samangat

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Alhamdulillah, terima kasih. Dedek Ria juga semangattttttšŸ˜‰

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Kerenn mba aufaa,, lanjutkan dan tetap semangattr :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, terima kasih. Kamu juga semangatšŸ˜‰

      Delete