Sapiens: Mengenali Riwayat Sendiri


Sapiens adalah buku populer yang ditulis oleh Yuval Noah Harari. Buku ini membahas tentang banyak hal yang tak pernah digali secara menyeluruh oleh buku-buku sejarah. Melalui buku ini, pembaca akan disuguhkan sesuatu yang menarik dan mengejutkan. Selain itu, buku yang penuh edukasi ini akan membawa pembaca menelusuri jejak-jejak sejarah manusia yang menggelitik.

Buku yang ditulis Harari ini terdiri dari empat bagian pembahasan, yaitu Revolusi Kognitif, Revolusi Pertanian, Pemersatu Umat Manusia, dan Revolusi Sains. Kemudian, pada bagian akhir buku berisi Penutup: Hewan yang menjadi Tuhan.

Bagian Pertama: Revolusi Kognitif. Harari menjelaskan bahwa Homo Sapiens (Manusia Bijak) merupakan hewan yang merupakan genus Homo. Bedanya, Sapiens memiliki otak yang lebih besar dengan daya pikir yang lebih baik (berakal) dari kebanyan hewan lainnya.

Dalam bab pertama ini, selain pengenalan terhadap Sapiens, penulis juga menjelaskan proses bagaimana Sapiens mengenali lingkungannya. Hal tersebut berupa cara berpikir, berkomunikasi, bekerjasama, berburu dan mengumpulkan makanan, serta hal-hal lain yang membantu Sapiens untuk beradaptasi dan bertahan hidup.

Bagian menarik dari bab ini adalah tentang keunggulan dan kritik terhadap Sapiens di masa itu. Penulis dengan gamblang dan kritis menyebutkan hal-hal yang telah disembunyikan sejarah dari khalayak. Pembaca akan dibuat takjub dengan apa yang telah dipaparkan oleh penulis.

“Sejak Revolusi Kognitif, Sapiens telah mampu mengubah perilaku dengan cepat, meneruskan perilaku baru itu ke generasi-generasi berikutnya tanpa membutuhkan perubahan genetik atau lingkungan.” (Sapiens, h. 40)

Bagian Kedua: Revolusi Pertanian. Pada bab ini, penulis menjelaskan bagaimana Sapiens pada masa itu membuang hubungan akrabnya dengan alam dan melesat menuju keserakahan dan keterasingan. Terdengar provokatif, tetapi inilah keunggulan dari penulis. Ia dapat mengajak pembaca berpikir lebih mendalam hanya dengan membaca buku ini.

Seperti yang pembaca tahu, bahwa semakin tua zaman akan semakin mudah pula pekerjaan manusia. Sama halnya pada Revolusi pertanian, jika dulunya manusia berburu dan mengumpulkan makanan untuk mengatasi kelaparan, pada masa ini manusia lebih tenang dengan menunggu hasil panennya. Jika dulunya mereka akan berpindah-pindah tempat (nomaden), pada masa ini manusia telah memeliki tempat untuk menetap.

Bukan penulis yang kritis namanya, jika hanya memaparkan keunggulan dari dari sebuah sejarah. Harari dalam buku Sapiens ini, lagi-lagi memberikan sesuatu yang mencengangkan dalam tulisannya terkait Revolusi Pertanian ini. Sekali lagi, penulis benar-benar dapat membuka pikiran pembaca dengan kritik-kritiknya terhadap revolusi ini.

“Revolusi Pertanian menjerumuskan petani ke dalam kehidupan yang secara umum lebih berat dan kalah memuaskan dibanding kehidupan pemburu dan pengumpul.” (Sapiens, h. 96)

Bagian Ketiga: Pemersatu Umat Manusia. Bab ini secara keseluruhan berisi tentang kondisi politik, ekonomi, dan agama yang dianut oleh Sapiens. Dimana ketiga bahasan itu telah mampu mempersatukan manusia dibeberapa bagian bumi.

Dimulai dari berdirinya imperium yang dapat mengendalikan orang dengan kapasitas banyak. Kemudian, berkembanglah perdagangan yang telah menerapkan barter hingga uang sebagai alat pembayaran. Sampai munculnya agama politeisme, monoteisme, dan agama modern, serta kemunculan sekulerisme.

Bagian Keempat: Revolusi Sains. Harari mengungkapkan bahwa Revolusi Sains adalah revolusi ketidaktahuan. Dimana sesuatu yang tidak diketahui inilah yang mendorong munculnya hal-hal menabjubkan yang tidak pernah ditemukan manusia sebelumnya.

“Kesediaan untuk mengakui ketidaktahuan telah menjadikan sains modern lebih dinamis, lentur, dan ingin tahu dari pada tradisi pengetahuan yang mana pun.” (Sapiens, h. 301)

Tidak berhenti disitu, penulis membahas lebih jauh dari Revolusi Sains, yaitu berkembangnya revolusi ini menuju revolusi yang lebih mengerikan, Revolusi Industri. Dimana revolusi ini mampu mengubah energi murah dan besar (alam) menjadi energi yang lain, yang dibutuhkan untuk meringankan pekerjaan manusia. Selain itu, manusia tidak memiliki tetergantungan yang berlebih terhadap alam.

“Sains dan Revolusi Industri telah memberi umat manusia kekuatan adimanusia dan energi yang pada dasarnya tidak terbatas.” (Sapiens, h. 449)

Kemudian, bagian terakhir berisi tentang ringkasan dari penulis yang menjelaskan bahwa Sapiens, yang dulunya hewan yang tidak begitu penting, telah berkembang dari masa ke masanya. Hingga, Sapiens dengan segala keunggulan dan kelemahannya yang telah membawa berbagai dampak pada bumi.

Bukankah buku ini sangat menarik? Pemaparan dari Harari ini tidak akan membuat pembaca bingung. Gaya penulisannya yang luwes dan santai akan membawa pembaca menikmati isinya. Buku ini terbilang provokatif, tetapi inilah yang akan membuka pemikiran pembaca mengenai betapa mengenaskannya manusia di era yang terlihat menyenangkan ini.
 


INFO BUKU
  • Judul buku : Sapiens
  • Penulis : Yuval Noah Harari
  • Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
  • Kota terbit : Jakarta
  • Tahun Terbit : 2017