PANCASILA - PILAR BANGSA BERNEGARA DAN BERBUDAYA


Indonesia itu adalah, negara yang besar, beragam budaya, kaya akan sumber daya, dan juga indah. Tapi, dia jugalah tempat bagi makhluk Tuhan untuk menjadi khalifah di bumi dan menyempurnakan agamanya.

Manusia itu memang aneh, terkadang mereka mengkategorikan sesuatu tanpa dasar, atau terkadang mereka membuat segala sesuatu itu terasa ada ikatan di dalamnya. Lalu, jika kita membicarakan penduduk Indonesia, so pasti mayoritas beragama Islam. Tapi hal itu tidak membuat negara besar kita ini, menyebut dirinya Negara Islam. But, what the reason?, mungkin itu akan menjadi tanda tanya besar dipundak para penduduk bumi Indonesia.

Dari kenyataan historis yang ada, muncul pandangan yang merata di kalangan para ahli dan juga awam, baik muslim maupun non muslim, bahwa Islam adalah agama yang terkait erat dengan kenegaraan. Bahkan kelak, sesudah kaum muslimin berkenalan dengan Aryanisme Persia---ideologi rasial, muncul ungkapan problematis bahwa “islam adalah agama dan negara” (al-islam din wa daulah), yang mengisyaratkan kesetaraan agama dan negara. Tapi kita tak bisa serta merta membenarkan hal itu, karena nyatanya negara kita adalah negara dengan dasar pancasila.

Sebagaimana yang diucapkan Gus Mus yang dikutip oleh KH. Salahuddin Wahid dalam bukunya yang berjudul Berguru pada Realitas, bahwasanya Gus Mus berkata: “Saya adalah orang Islam, yang berbangsa Indonesia, sekaligus orang Indonesia yang beragama Islam. 

Artinya, keduanya seperti dua sisi mata uang yang sama. Kalau satu sisi dari mata uang itu tidak ada, maka mata uang itu tidak sah. Indonesia dan Islam tidak bisa dipisah dan tidak boleh dipertentangkan”.

“.... kebanyakan menjawab bahwa menjadi bagian dari bangsa Indonesia hanya berlaku selama hidup di dunia, sedang menjadi bagian dari Islam berlaku sampai di akhirat. Karena itu, mereka lebih merasa menjadi orang Islam yang berbangsa Indonesia.....” (Wahid, 2011: 230)

Kalau Gus Mus saja berkata bahwa “mereka berdua” bagaikan mata uang yang sama, maka izinkan saya untuk berkata bahwa menjadi indonesia dan Islam adalah satu kali darah beredar keseluruh tubuh. Yang artinya, keduanya adalah satu kesatuan yang sama-sama penting dan bisa berjalan seiring.

Umat manusia memang telah banyak mengetahui sistem pemerintahan dan berbagai pemerintahannya. Dan setiap sistem memiliki landasan dan tujuannya sendiri. Misalnya saja, sistem monarchi yang otoriter maupun liberal dan sistem theokrasi yang berlandaskan pada paham bahwa Raja memiliki hak ketuhanan di dalam menjalankan pemerintahan, dan rakyat berkewajiban tunduk hanya kepadanya. Serta sistem demokrasi yang berbagai macam ragam, baik yang berupa monarki konstitusional maupun Republik. Tetapi, sebagai bangsa Indonesia, seharusnya kita bangga terhadap Negeri sendiri---yang katanya seperti kolam susu. Karena kita memiliki dasar negara yang tak satu pun negara menggunakannya atau memiliki yang setara dengannya.

Indonesia dengan dasar negara Pancasila menurut Munas Alim Ulama NU 1983, adalah amat sesuai (compatible), sila-sila dari Pancasila adalah wahana untuk menerapkan syariat Islam di Indonesia. Buktinya, jika kita menggunakan kacamata pemikiran al-Ghazali, as-Syatibi, Izzudin bin Abd Salam, al-Qaffal, Ibnu Asyur, Allal al-Fasi, ar-Raysuni dan lain-lain, kita akan mengambil kesimpulan bahwa semua sila yang terkandung dalam Pancasila sesuai dengan maqasid syariah.

Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan Q.S. An-Nisa: 36, Q.S. Al- An’am: 151, dan ayat-ayat lain yang memang berisi tentang perintah untuk mengesakan Tuhan.

Kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, sesuai dengan Islam dimana kita diajarkan menjadi manusia yang berakhlak seperti dalam Q.S. At-Taghabun: 3, Q.S. Hud: 61, Q.S. Ibrahim: 32-34, Q.S. Luqman: 20.

Ketiga, Persatuan Indonesia sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad saw., dimana kita dianjurkan untuk bersatu dan mencegah perpecahan diantara kita.

Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Hal ini, justru sangat sesuai dengan apa yang ada di dalam al-quran, yaitu memberantas adanya sistem feodalisme dan pemerintah diktator atau sewenang-wenang, serta meletakkan dasar musyawarah dalam susunan pemerintahan.

Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Disini, Pancasila sangat menjunjung keadilan, sebagaimana di dalam al-qur’an menjelaskan bahwa keadilan adalah amal baik yang dekat dengan ketakwaan, seperti dalam QS. An-Nisa: 58, 135, al-Maidah: 8, al-An’am: 152-153, dan lain-lain yang menerangkan tentang adanya keadilan.

Walaupun secara nama, Pancasila tidak ada dalam al-Quran maupun as-Sunnah---pedoman bagi seorang Muslim, namun seperti yang ditegaskan imam al-Ghazali, yang islami itu bukan sekedar yang (ma nataqa an-nash‘) apa yang ada dalam al-Quran dan Sunnah’ tapi lebih dari itu, yakni, (ma wafaqa as-syar’a‘) yang sesuai dengan semangat syariat’.

Pandangan  imam al-Ghazali tersebut cukup untuk membuat mereka yang ingin membangun negara berdasarkan Islam sadar bahwa pancasila adalah yang tepat bagi bangsa indonesia. Selagi hukum tersebut bersesuaian dengan syariat, tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal, maka jelas Pancasila sangatlah islami.

Post a Comment

0 Comments