OBSESI FILM “DILAN” - MODELLING REMAJA MILENIAL

Setiap tayangan audio-visual memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan dengan tayang dalam bentuk lainnya .Baik kartun, film dengan genre apapun serta video-video lainnya akan sangat mudah mempengaruhi manusia. Jika berbicara perihal dampak audio visual dari sisi psikologis, dampaknya pada aspek kognitif, perilaku serta modelling.

Pengaruh dari aspek kognitif dapat dilihat dari sejauh mana individu menyerap tanyangan tersebut yang dapat mempengaruhi daya pikir serta pengetahuannya. Sedangkan pengaruh dari proses modeling atau imitasi, sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku, yang mana bias diinternalisasikan untuk ditiru atau hanya dinikmati saja. Sedangkan dari aspek perilaku, akan dapat dilihat dari dampak perilakunya yang cenderung meniru adegan dalam tayangan tersebut atau tidak.

Bila kita melihat teori Erikson, psikososial, usia remaja hingga 20 tahun menginjak fase pencarian jati diri yang mana dikenal dengan fase identity vs identity confuse. Pada tahapan ini, individu akan mencoba menjelajahi dirinya sebagaimana ia menuruti kemauan- kemauannya. Bahkan akan muncul pertanyaan-pertanyaan seperti “Akan jadi apa saya nanti ?” atau “Bagaimana jalan yang harus saya tempuh ?” atau “Bagaimana dengan masa depan saya kelak ?”.

Fase ini juga berkaitan dengan ideal self, yaitu sosok yang ideal untuknya. Individu yang menonton Film Dilan, bisa saja mematokkan manusia ideal itu seperti Dilan. Apalagi banyaknya dukungan-dukungan yang secara terselubung, seperti iklan di televisi, icon makanan maupun minuman, lelucon-lelucon, parodi video, sastra puisi bahkan sampai lantunan sholawat saja ala-ala Dilan. Sehingga remaja laki-laki akan sebisa mungkin menjadi sosok seperti Dilan dan remaja putri akan mencari pendamping seperti Dilan.

Standar sosok Dilan ini dapat memicu terjadinya­ gap antara ideal self dengan realita kehidupan individu.Apabila gap individu tidak terlalu banyak, maka standar Dilan ini tidak begitu mempengaruhi. Tidak hanya standar dalam hal ideal self, dalam beberapa adegan kekerasan secara fisik atau kalimat-kalimat percakapan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya juga besar pengaruhnya terhadap imitasi pada individu. Apalagi penonton merupakan anak yang berusia di bawah 18 tahun tanpa pengawasan orang dewasa, biasanya saja tidak bisa menyaring adegan tersebut. Sehingga proses modelling ini akan diterapkan dalam dunia mereka.

Adanya penerapan dari modelling tersebut, akan memunculkan statement yang awalnya sangat tabu dalam budaya kita menjadi hal yang wajar dan tidak memalukan. Secara tidak langsung budaya kita yang menjunjung tinggi norma akan bergeser pada budaya yang cenderung bebas. Sama halnya dengan adegan pacaran ala Dilan dan Milea. Walaupun film Dilan bukan film pertama yang menunjukkan adengan pacaran dengan gaya seperti itu, film inidapat dijadikan penguat untuk prespektif remaja bahwa pacaran itu pegangan tangan dan peluk-pelukan di depan umum itu hal yang biasa. Apalagi dalam film ini juga menunjukkan bahwa mereka beragam islam, padahal dalam agama kita sendiri jelas bahwa berpacaran adalah haram.

Jika kita perhatikan dalam dialog Dilan “Senakal-nakalnya anak geng motor pastikan sholat pada waktu ujian praktek agama”, dapat pula memunculkan perspektif salah pada penonton yang memiliki pertahanan mental rendah. Bisa saja ia akan beranggapan bahwa sholat itu tak perlu lima waktu asal bisa prektek saat ujian praktek maka itu masih akan disebut sholat. Hal-hals semacam ini yang kemudian sangat buruk pengarunya terhadap psikis sesorang.

Sebagai muslim, kita harus bisa mengkiblatkan segala sesuatu atau baik buruk suatu perkara pada Al-Qur’an dan Hadits. Begitu juga apa yang kita lihat dan dengar, karena bisa jadi secara tidak sadar kita melakukan imitasi pada apa yang kita indera. Hal ini juga berlaku pada setiap perbuatan kita di dunia nyata maupun dunia maya. Setiap individu memiliki pertahanan mental yang berbeda-beda, jangan sampai pertahanan mental kita roboh atau malah menjadi peroboh mental orang lain.

Post a Comment

0 Comments