NYLIWER WENGI - Korelasi Budaya Takbir Keliling dan Moral ke-Agama-an



Saat ini, realitas kehidupan menunjukkan bagaimana kita hampir kehilangan sejumlah unsur budaya penting yang sekian lama menopang eksistensi bangsa indonesia. Termasuk didalamnya kehilangan orientasi nilai budaya lokal akibat terpaan bangsa barat, perubahan pola konsumsi, gaya hidup, dan lain sebagainya.

Dalam kondisi yang demikian, nilai-nilai budaya merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam kehidupan. Nilai budaya tersebut dapat berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan bermasyarakat. 

Lebih jauh lagi, pedoman kehidupan manusia terdapat dalam ajaran Islam. Hal demikian disebabkan secara ontologis Islam sebagai sasaran yang memiliki dua sisi; Pertama, Islam sebagai ajaran yang bersifat normatif doktriner seperti Al-Qur’an dan hadits sebagai sumber utama dalam keilmuan. Kedua, Islam sebagai produk sejarah yang mana pengumpulan antara Islam dan budaya menghasilkan Islam lokal dengan keragaman masing-masing. 

Fakta keragaman “wajah Islam” tersebut jika ditinjau dari aspek sejarah terlihat secara jelas dari proses dan metode penyebaran Islam di bumi Nusantara yang menggunakan berbagai pendekatan antara lain pendekatan sufistik dan budaya (seni). Proses islamisasi melalui pendekatan tasawuf dilakukan melalui proses akulturasi dengan budaya lokal yang pada beberapa aspek memiliki kesamaan antara keduanya.

Seperti dilakukan oleh Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Siti Jenar (Syekh Lemah Abang) di tanah Jawa, serta Abdul Hamid Abulung di Kalimantan Selatan. Sedangkan, proses Islamisasi melalui pendekatan kultural secara jelas terlihat dalam metode “Islamisasi Wayang” yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga di tanah Jawa. 

Seiring terjadinya Islamisasi tersebut, terjadi pula komunikasi dan penyebaran kebudayaan. Proses difusi atau penyebaran unsur kebudayaan itu terjadi karena dua hal. Pertama, adanya migrasi bangsa atau kelompok dari satu tempat ke tempat lain dan mereka membawa pula unsur-unsur kebudayaannya di tempat yang baru. Kedua, penyebaran unsur kebudayaan yang sengaja dibawa oleh individu-individu tertentu seperti pedagang, pelaut, mubaligh, atau tokoh agama.

Menurut Koentjaraningrat, deskripsi mengenai proses akulturasi dapat diuraikan melalui lima hal. Pertama, keadaan masyarakat penerima sebelum proses akulturasi mulai berjalan. Kedua, individu-individu dari kebudayaan asing yang membawa unsur kebudayaan asing. Ketiga, saluran yang dilalui oleh unsur kebudayaan asing untuk masuk ke dalam kebudayaan penerima. Keempat, bagian dari masyarakat penerima yang terkena pengaruh kebudayaan asing. Kelima, reaksi para individu yang terkena unsur-unsur kebudayaan asing. 

Dalam penyebaran Islam di Jawa, walisongo pun memiliki peranan yang cukup besar dalam proses akulturasi Islam dengan budaya Jawa. Mereka menghasilkan karya-karya kebudayaan sebagai media penyebaran Islam. Untuk memperkenalkan unsur-unsur budaya baru hasil akulturasi Islam dengan budaya Jawa, para wali melakukan pengenalan nilai-nilai baru secara persuasif.

Dalam hal-hal yang sensitif, seperti bidang kepercayaan, para wali membiarkan penghormatan terhadap leluhur sebagaimana yang biasa dilakukan masyarakat jawa.

Meskipun dalam bidang kepercayaan penghormatan terhadap leluhur dibiarkan, namun perlengkapan upacara seperti sesaji diganti dengan pemberian makan kepada tetangga dan sanak saudara, yang dikenal dengan hajatan. Sementara itu mantra-mantra diganti dengan kalimat thayyibah (puji-pujian kepada Allah) dan masih banyak lagi.

Sebagaimana upaya pemaduan kedua unsur tersebut, Clifford Geertz menyatakan bahwasanya kebudayaan menjadi“dasar kehidupan” dari suatu masyarakat tradisional yang belum berkembang lalu dengan kebudayaan pula masyarakat mengalami perubahan sistem kehidupan sosial yang baru, atau berubah menjadi suatu masyarakat yang beradab. 

Dalam banyak hal, kebudayaan dan perilaku budaya muncul hanya dalam satu keadaan dan terkadang hanya melayani satu tujuan. Ketika sekelompok orang mengalami kesulitan yang sama pada saat yang sama maka mereka biasanya mencari solusi untuk memecahkan persoalan dengan cara yang sama. Jadi, semacam terjadi solusi kolektif untuk menghadapi kesulitan yang merupakan bagian dari kebudayaan mereka.

Perhatikan kebiasaan (budaya) masyarakat kita, ketika mereka menghadapi pasokan makanan yang semakin terbatas, maka mereka sudah terbiasa mengumpulkan jenis makanan substitusi lalu membaginya kepada anggota kelompoknya demi kebersamaan. 

Terkait hal itu, disadari atau tidak sesungguhnya masyarakat pedesaan sangat kaya akan nilai-nilai kearifan lokal. Dalam tradisi Jawa, kearifan lokal (local wisdom)menjadi fenomena yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Jawa.

Kearifan lokal merupakan suatu bentuk ciri khas bagi masyarakat Jawa. Wujud kecintaan masyarakat terhadap eksistensi kearifan lokal terbukti dengan ketahanan budaya lokal yang mereka miliki. Ketahanan yang berarti budaya lokal tidak mudah terkikis oleh perkembangan zaman yang semakin modern.

Realitanya, kearifan lokal yang diwariskan oleh pendahulu hingga saat ini masih kental mewarnai kehidupan masyarakat Jawa. Sebab, kearifan lokal (local wisdom) dipercaya mampu memberikan kontribusi yang lebih bagi kelangsungan hidup masyarakat. Artinya, segala bentuk pembaharuan dari segi modernitas ataupun gencatan arus globalisasi tidak bisa memudarkan semangat masyarakat untuk tetap berpegang teguh mempertahankan kearifan lokal (local wisdom).

Terkait sebuah tradisi setelah kita melaksanakan ibadah puasa dalam tradisi idul fitri maupun idul adha yang disitu terdapat suasana lebaran dan setidaknya ada tiga hal yang mesti dilakuakan yaitu Pertama, bertakbir mengagungkan nama Allah SWT atas segala petunjuk-Nya, Kedua, bersyukur dengan membagi rezeki, Ketiga, menahan amarah dan saling memaafkan.

Berhubungan dengan khazanah keislaman tersebut, tentunya sebuah kebudayaan telah mengajarkan kepada kita aturan-aturan yang signifikan, misalnya; aturan untuk melakukan ritual atau prosedur untuk menjalani hidup. 

Sebagaimana sebuah tradisi yang saat ini telah dilaksanakan oleh masyarakat desa yaitu sebuah tradisi takbir keliling atau dalam budaya jawa disebut nyliwer wengi merupakan tradisi yang dilaksanakan pada malam idul fitri maupun idul adha. Pada umumnya, tradisi takbir keliling dalam menyambut hari besar Islam dilaksanakan oleh masyarakat pada waktu setelah sholat magrib atau sholat isya’.

Lain halya dengan tradisi nyliwer wengi yang dilakukan pada sepertiga malam, tradisi nyliwer wengi ini menyimpan sebuah makna akulturasi budaya jawa dan ajaran islam yang mendalam.

Pertama, tradisi takbiran, sholat sunah dan petasan. Kedua, dalam hal ritual doa-doa, salah satu doa yang dibaca dalam tradisi nyliwer wengi adalah doa Hizib Nasr dan lain sebagainya. Padahal kita ketahui dihari raya besar Islam tidak ada doa yang seperti itu. Ketiga, dalam hal komunikasi massa (rekonsiliasi kampung). Karena mau tidak mau semua warga masyarakat harus berkumpul.

Karena di saat-saat seperti itulah para warga desa yang selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun merantau telah pulang kampung, remaja-remaja yang telah hijrah menuntut ilmu di pondok pesantren atau pun yang telah menuntut ilmu di Perguruan Tinggi pulang kampung. Di waktu seperti itulah, semua warga dapat berkumpul dalam satu wadah besar.

Post a Comment

0 Comments