MENYIBAK MARKETING 4.0 - TELAAH PEMASARAN TAKTIS EKONOMI DIGITAL

ad+1



Buku ini, merupakan pengembangan dari buku sebelumnya yang berjudul “Marketing 3.0”. Di dalam buku tersebut, mereka berbicara mengenai pergeseran besar dari pemasaran (1.0) yang berorientasi pada produk ke pemasaran (2.0) yang berorientasi pada pelanggan, dan akhirnya pemasaran (3.0) yang berorientasi pada manusia.

“Dalam Marketing 3.0, kami mengamati pelanggan bertransformasi menjadi manusia seutuhnya dengan pikiran, hati dan jiwa. Oleh karena itu, kami yakin bahwa masa depan pemasaran terletak pada menciptakan produk, jasa, dan kultur perusahaaan yang merangkul dan mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan.” (halaman XV)

Setelah adanya buku “Marketing 3.0”, banyak sekali perubahan yang terjadi terutama dalam hal kemajuan teknologi. Mereka menyatakan, bahwa teknologi yang sekarang ini kita lihat sebenarnya bukan teknologi baru. Namun, teknologi ini menjadi serupa dalam beberapa tahun terakhir, yang kemudian secara kolektif sangat mempengaruhi praktik pemasaran di seluruh dunia. Mereka percaya bahwa konvergensi teknologi ini akhirnya akan berujung pada konvergensi antara pemasaran digital dan pemasaran tradisional.

Karenanya, mereka memperkenalkan “Marketing 4.0” sebagai perkembangan wajar dari “Marketing 3.0”. Dasar pemikiran mereka adalah bahwa pemasaran harus sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam jalur pelanggan dalam ekonomi digital. Peran penting dari seorang pemasar disini, adalah membimbing pelanggan di sepanjang tahapan yang diawali dengan kesadaran akan merek hingga akhirnya menjadi penganjur dari merek tersebut.

Dalam buku “Marketing 4.0” ini, Penulis membagi pembahasan menjadi tiga bagian penting. Pertama, Tren Fundamental yang Membentuk Pemasaran. Bagian ini diawali dengan membahas betapa para pemasar harus menerima pergeseran lanskap bisnis yang awalnya eksklusif, vertikal, dan individu menjadi lebih inklusif , horizontal, dan juga sosial. Bahkan dengan adanya media sosial saat ini, memungkinkan masyarakat berkomunikasi dan perusahaan dapat berinovasi melalui kolaborasi. Di era digital ini, pelanggan juga lebih memperhatikan lingkaran sosial untuk membuat keputusan. Para pelanggan juga menggunakan factor-f (teman, keluarga, penggemar, dan pengikut), untuk meminta nasihat dan juga ulasan baik secara online maupun offline terhadap suatu merek tertentu.

Hal tersebut, memaksa pemasar untuk dapat menghadapi interaksi online versus offline. Dimana kedua hal tersebut sebenarnya dimaksudkan agar dapat memberikan pengalaman pelanggan yang unggul. Dalam bagian awal ini, penulis juga menyebutkan bahwa terdapat paradoks terkait pelanggan yang terinformasi versus yang teralih. Pelanggan saat ini justru sangat bergantung pada pendapat orang lain untuk melakukan pembelian. Pemasar juga mendapat tantangan baru agar dapat memicu adanya pembelaan positif terhadap merek mereka dibandingkan dengan membiarkan adanya pembelaan negatif. 

Selanjutnya, pemasar juga dianjurkan untuk berfokus pada kaum muda, perempuan, dan juga warganet (YWN---youth, woman, netizen) untuk meningkatkan probabilitas pembelaan. Jika kita menelusuri lebih dalam, sesungguhnya kaum muda merupakan pengadopsi awal suatu produk dan juga teknologi baru. Mereka juga menjadi trendsetter, tetapi terfragmentasi sesuai tren yang mereka ikuti. Karena itu, mereka adalah pengubah permainan dan arah tren berikutnya. Perempuan juga memiliki peran penting karena mereka adalah pengumpul informasi dan pembelanja holistik, mereka juga meruapakan manager semua bidang dalam rumah tangga. Sedangkan warganet adalah penghubung sosial, karena mereka berhubungan, berbicara, dan berkomunikasi dengan rekan mereka secara intens. 

Bagian kedua, adalah Kerangka Kerja Baru Pemasaran dalam Ekonomi Digital. Bagian ini, penulis menjelaskan bahwa jalur pelanggan harus didefinisikan ulang sebagai lima A---menyadari, tertarik, bertanya, bertindak, dan menganjurkan, yang nantinya akan mencerminkan konektivitas di antara pelanggan. Karena konsep “Marketing 4.0” yang bertujuan untuk mendorong pelanggan dari tahap menyadari ke penganjuran, penulis memberikan solusi yaitu dengan menggunakan tiga sumber pengaruh utama. Ini adalah apa yang dinamakan dengan Zona O (O3)---sendiri, orang lain, dan luar---sebuah alat yang bisa membantu pemasar mengoptimalkan upaya pemasaran mereka.

Sejalan dengan lima A, penulis memperkenalkan seperangkat metric baru, yaitu purchase action ratio (PAR) dan brand advocacy ratio (BAR). Keduanya dapat mengukur seberapa efektif pemasar dalam mengarahkan pelanggan dari sadar, hingga akhirnya menganjurkan, dan kemudian mengevaluasinya dengan lebih baik. Untuk menganalisis dan juga mengevaluasi berbagai tahap yang ada di kerangka generik lima A, penulis juga mengidentifikasi empat pola besar untuk berbagai industri: “gagang pintu”, “ikan emas”, “terompet”, dan “corong”. 

Bagian terakhir, adalah Penerapan Pemasaran Taktis di Ekonomi Digital. Bagian ketiga ini, diawali dengan tugas pemasar yaitu menciptakan sisi manusia dari merek mereka. Secara keseluruhan, merek harus bisa menarik secara fisik, intelektual, sosial, dan juga secara emosional sehingga diharapkan nantinya dapat menunjukkan kepribadian dan moralitas yang kuat. Beberapa hal tersebut, yang sebenarnya dapat digunakan untuk menangani kegelisahan dan keinginan terpendam pelanggan melalui social listening, netnografi, dan emphatic research.

Selanjutnya, pemasar harus bisa beralih dari “iklan” ke “pemasaran konten”. Karena pelanggan di masa kini, tidak lagi bisa mendengarkan dengan penuh perhatian tayangan tentang konten oleh media tradisional, seperti iklan. Namun, pelanggan lebih sering menghabiskan waktu untuk melihat tayangan konten dari pengguna. Karenanya, pemasar harus dapat memasarkan konten dengan baik dengan membuat pra-produksi yang tepat dan kegiatan pasca-produksi, sekaligus melakukan delapan langkah besar untuk memprakarsai percakapan pelanggan. 

Ketika pemasar sudah mampu menciptakan konten yang sesuai dengan merek mereka, dan kemudian menyebarluaskan ke tujuan yang tepat, maka langkah berikutnya adalah memadukan saluran online dan offline terbaik. Pemasar juga harus mampu terlibat dalam komunitas pelanggan tersebut, dan kemudian mendorong pelanggan agar mampu menjadi penganjur dari merek mereka. Cara yang lebih efektif adalah melalui aplikasi ponsel, CRM Sosial, dan juga Gamification.

Buku ini, sangat cocok bagi kalian yang ingin mengenal lebih jauh bagaimana perkembangan pemasaran di era digital masa kini. Bahasa yang digunakan oleh penulis juga mudah dipahami, walaupun tetap ada kata-kata yang mungkin sulit dipahami karena memang buku ini telah diubah kedalam 24 bahasa di dunia. Buku “Marketing 4.0” juga menawarkan pengetahuan baru yang menjadi titik awal dan sumber daya yang berharga untuk semua orang yang mencoba menciptakan dan memahami masa depan digital dan mobile.

Keterangan :

Judul Buku = Marketing 4.0 : Bergerak dari Tradisional ke Digital
Penulis = Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, Iwan Setiawan.
Penerbit = PT. Gramedia Pustaka Utama
Kota Terbit = Jakarta
Tahun terbit = 2019
Tebal halaman = 171 halaman