EKSISTENSI DUTA FASHION MAHASISWA



-masuk ke dunia perkuliahan adalah hal yang ekstrim, segala sesuatu mungkin bisa berubah secara drastis termasuk perilaku seseorang. Menjadi populer di kalangan mahasiswa dan dosen, mendapat banyak penghargaan, hingga menjadi mahasiswa terbaik adalah idaman setiap orang. Tetapi, semua itu akan lebih indah jika kita menjadi diri kita.

Di dunia yang semakin berkembang pesat dan canggih ini, tak heran penampilan seseorang semakin beragam dan serba aneh. Dari mulai style Amerika yang serba lucu dan aneh, style Korea yang katanya serba keren dan fashionable abis, bahkan sampai style Jepang dengan gaya rambut yang penuh warna dan bentuk itu. Dengan perkembangan yang sedemikian rupa ini, membuat penduduk Indonesia juga berubah dalam paradigma mereka tentang penampilan. Hal inilah yang membuat penampilan masuk ke dalam kategori wajib bagi siapapun yang ingin jadi anak tenar se-antero kampus.

Pada awalnya, siswa-siswi SMA yang akan bertransformasi menjadi mahasiswa ini, pasti akan melihat fenomena baru yang unik untuk pertama kalinya disivitas akademik. Awal masuk ke gedung tempat mereka kuliah saja, mereka pasti akan melihat style penduduk lama kampus. Lambat-laun, ketika mereka sudah mendapat gelar mahasiswa itu, secara otomatis penampilan mereka akan berubah, sebagaimana lingkungan menggoda mereka untuk berubah.

Bukan hanya pelaku yang memfasilitasi dirinya untuk berubah, tetapi juga lingkungan yang merupakan wadah bagi mereka juga mendukung perubahan itu. Hal itulah yang membuat para mahasiswa baru ini tak henti-hentinya terus memperbarui penampilan dan berusaha menjadi yang paling “Oke” diantara yang lain. Tapi sayangnya, kata “Oke” ini tidak berhenti hanya dengan penampilan luar saja, melainkan juga isi otak yang harus brilian setiap saat. Tak heran, jika sekarang ini banyak sekali kompetisi-kompetisi sederhana maupun besar tentang perihal “fashion”.

“Fashion” disini tidak hanya tentang semenarik apa busana dan penampilan kita, melainkan juga seberapa briliankah otak kita, hingga tercetus istilah “Duta” hingga “Miss” Kecantikan. Kompetisi-kompetisi inilah yang menjadi media bagi suatu lembaga untuk menjadikan orang yang terpilih menjadi “Icon” mereka dalam mempromosikan lembaga. Namun, hal ini justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada di seberang. Karena disisi yang lain, cukup banyak juga mereka yang menganggap diri mereka “Oke”, tetapi hanya “good looking” di luarnya saja.

Sungguh mengenaskan bukan, jika “anak zaman now” nantinya hanya akan memperhatikan fisik mereka saja, apalagi jika luarnya pun tidak seluruhnya mereka perhatikan. Sebagai manusia yang memang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan, sudah sepantasnya kita menjadikan diri kita lebih dengan mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Tidak harus menjadi orang lain untuk menjadi yang no. 1, melainkan cukup dengan menghebatkan kelebihan dan menjadi yang terbaik bagi diri kita sendiri. Dengan begitu, menjadi popular di kalangan mahasiswa maupun dosen, atau bahkan menjadi mahasiswa yang terbaik-pun bisa kita raih dengan begitu mudahnya. Karena ketika kita bersyukur, maka Tuhan akan menambahkan nikmat itu dan mempersiapkan kebaikan yang tak terduka.

Dengan keinginan yang begitu rakusnya, izinkan aku untuk merangkumnya menjadi satu kata saja, dan kata itu adalah “sukses”. Karena “sukses” bagi setiap individu itu memiliki arti dan makna spesial bagi diri mereka masing-masing. Kata “sukses” sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti berhasil atau beruntung, jadi “sukses” itu bisa kita artikan sebagai keberhasilan kita dalam mencapai sesuatu. Sebuah kesuksesan itu sebenarnya berasal dari sebuah “mimpi”, tapi secara hakikat yang sebenarnya mimpi itu berasal dari sebuah keinginan. Tetapi, galilah keinginan itu dari dalam dirimu, bukan orang lain. Dan mulailah menjadi pelopor perubahan, bukan follower sejati yang akan mengikuti kemana zaman itu pergi.