Belajar Taqwa dari Ibadah Qurban



Dalam Islam, ibadah qurban adalah sebuah kewajiban bagi muslim yang memiliki nilai lebih dari harta bendanya. Namun di Negara agraris ini, ibadah tersebut melebur dengan kebudayaan yang beragam, unik, serta memiliki nilai artistik yang tinggi. Walaupun demikian, hal itu belum mampu membuat masyarakat mengambil hikmah maupun esensi dari ibadah yang dilakukan setahun sekali ini.

Dalam bahasa arab, mungkin Qurban sering diistilahkan dengan al-udhhiyyah atau adh-dhahiyyah. Namun hal terpenting dari Ibadah Qurban bukanlah istilah, melainkan Filosofi dan Goals dari ibadah itu sendiri. Jika kita hanya menumpahkan darah hewan, kemudian kita distribusikan dagingnya, maka kata Allah :

 “Tidak akan sampai daging dan darah itu kepada-Ku”. Melainkan yang akan sampai kepada-Nya adalah taqwa dalam hati kita. (Ust. Hanan Attaki)

Lalu, apa hubungan ibadah qurban dengan adanya taqwa?. Sesungguhnya, Allah swt. telah berfirman dalam Q.S Al-Baqarah: 21. Yaa ayyuhan-naasu’buduu Rabbakumulladzi khalakakum walladzinaa min qablikum la’allakum tattaquun. Wahai manusia, beribadahlah kalian kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

Ayat tersebut diturunkan dengan arti yang universal, dimana ia memberikan pengertian bahwa sebenarnya semua ibadah itu adalah media yang akan membawa kita kepada ketaqwaan. Sama halnya ketika kita melaksanakan ibadah puasa, saat kita berbuka ataupun menahan haus dan lapar, semua itu tidaklah sampai kepada Allah swt.. Begitu pula ibadah haji, bukan uang yang ditransfer ke biro haji ataupun ke travel melainkan taqwa yang akan sampai kepada-Nya.

Mungkin banyak ustadz ataupun ulama yang telah mengartikan apa itu “taqwa” dari berbagai sudut, namun secara global “taqwa” bisa diartikan sebagai “sami’na wa atha’na”. Kemudian, apa maksud dari “sami’na wa atha’na”?. Misalnya, segera berbuka ketika adzan maghrib berkumandang, jika itu adalah ibadah puasa. Segera melaksanakan sholat, saat tiba waktu sholat. Maka melaksanakan semua perintah Allah swt. dan menjauhi semua larangan-Nya tanpa kata “tapi”, itulah taqwa.

Telah dicontohkan pula oleh Nabi kita Ibrahim as., ketika datang perintah kepadanya untuk menyembelih Nabi Ismail as. Maka beliau berkata, “sami’na wa atha’na Ya Rabby”. Walaupun baru saja bertemu dengan anaknya Ismail as., dan belum hilang rasa rindu diantara mereka. Namun ketika Ibrahim as berkata (dengan berat hati) “yaa bunayya, Aku bermimpi diberikan perintah untuk menyembelihmu”. Kemudian Ismail as. menjawab “yaa abaty, jika memang itu adalah perintah dari Allah swt. Maka laksanakan wahai Aby. Maka aku akan bersabar.”

Dialog diatas menunjukkan betapa Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. sangat taat dan beriman, dan tidak ada sedikitpun keraguan untuk menolak perintah Allah swt. Dan kedua nabi mulia itu bahkan sudah berlapang dada dan telah ikhlas menerima perintah dari Allah swt. Itulah “sami’na wa ath’na” dari Nabi Ibrahim, lalu apa yang terjadi setelah itu ?. Maka Allah swt. mencegah tangan Nabi Ibrahim, dan berkata “qad shaddaqta al-rru’ya yaa Ibrahim” (sungguh telah engkau benarkan perintah itu). Setelah itu, dibangunkanlah Ismail as. dan dengan kuasa Allah swt. digantikan dengan seekor binatang sembelihan lalu disembelihlah oleh mereka.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa inti dari Ibadah Qurban adalah taqwa kita kepada Allah swt.. sebagai mana salah satu janji Allah dalam Q.S. At-Talaq: 4, "Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." Maka semakin besar pengorbanannya, maka semakin besar dosa yang akan diampuni, dan makin besar pula kebaikan yang Allah swt. sediakan untuknya di akhirat nanti.


Post a Comment

2 Comments

  1. Terbaik, tinggal di tanda baca nya 😁

    ReplyDelete
  2. Terimakasih telah membaca tulisan kami,, saran dari anda sangat berarti bagi kami :)..

    ReplyDelete