ANAK GADGED - DIGITALISASI KARAKTER BANGSA


-Selfie dimana-mana, main game tanpa henti, upload foto dengan berbagai gaya dan ekspresi, hingga status yang super alay sekaligus galau di setiap sosial media yang ada. Zaman dahulu yang anak-anaknya dikenal penurut dan alim (nggak neko-neko) sekarang berganti menjadi anak-anak alay zaman now (generasi milenial).


Di era globalisasi ini, sering kita jumpai anak-anak zaman sekarang yang serba gaul, sok up to date (tanpa menyaring terlebih dahulu informasi), bahkan mulai mengikuti tren-tren luar negeri seperti Amerika, Jepang, bahkan Korea. Pergaulan pun tak tanggung-tanggung, begitu bebasnya pergaulan anak-anak zaman now ketika mereka bersosialisasi dengan lawan jenis sangat mengkhawatirkan.

Sebenarnya ada 3 motivasi bagi anak dan remaja untuk mengakses internet, yaitu untuk mencari informasi, untuk terhubung dengan teman (lama dan baru), dan yang terakhir adalah hiburan.

Pertama, kalau ngobrol masalah mencari informasi, anak-anak zaman now pasti lebih suka mencari informasi dari internet. Apalagi untuk mengerjakan tugas, mereka hanya butuh paket data yang pastinya terjangkau oleh kantong, mereka juga tinggal ketikkan sesuatu, dan segala sesuatunya pasti akan segera muncul di layar gadget mereka. 

Dilansir dari Kompas.com, hasil penelitian terbaru pengguna internet di Indonesia yang berasal dari kalangan anak-anak dan remaja diprediksi mancapai 30 juta. Penelitian juga mencatat ada kesenjangan digital yang kuat antara anak dan remaja yang tinggal di perkotaan dengan yang tinggal di pedesaan.

Data tersebut merupakan hasil penelitian berjudul “Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia” yang dilakukan lembaga PBB untuk anak-anak, UNICEF bersama para mitra termasuk Kementrian Komunikasi dan Informatika dan Universitas Harvard Amerika Serikat.

Hal itu menunjukkan betapa mudahnya anak-anak terbawa budaya yang serba instan. Apalagi dengan tidak adanya batasan dalam mengakses internet, pasti anak-anak juga akan mudah tergiur dengan iklan-iklan yang entah wujud aslinya seperti apa. Sebenarnya, disinilah orang tua mulai berperan aktif dan memperhatikan perkembangan mereka.

Kedua, terhubung dengan teman lama ataupun baru, bagi anak zaman now bukanlah hal yang sulit lagi bahkan sangat mudah bagi mereka. Kalau dulu kita harus bersusah payah untuk menulis dan mencari perangko untuk mengirim surat, apalagi soal surat cinta. Namun sekarang, hanya tinggal ketik dan kirim lewat whatsapp saja seorang anak laki-laki zaman now bisa langsung menyatakan cinta ke lebih dari 5 cewek sekaligus. Hal mudah itulah yang membuat pergaulan generasi milenial ini tak karuan, bahkan pergaulan bebas mulai merajalela.

Berdasarkan hasil survey dari Centre for Strategic and International Studies (SCIS) tentang orientasi sosial, ekonomi, dan politik generasi milenial didapat hal mengejutkan. Melalui press release yang diterima TribunWow.com, sabtu (4/11/2017) diperoleh data bahwa menurut generasi milenial, seks bebas dipengaruhi oleh globalisasi. Sebanyak 73,2 % responden memiliki pandangan bahwa globalisasi menyebabkan adanya seks bebas.

Di era yang serba berkembang dan semakin canggih ini, tak memungkinkan anak-anak juga berkembang dengan pesat. Dalam artian, mereka bisa bertemu dengan teman lawan jenis mereka kapan pun, dimana pun, dan bagaimana pun dengan akal cerdik mereka dalam beralasan. Disinilah, orang tua seharusnya lebih pintar dan lebih cerdik dalam menanggapi situasi dimana anak mulai berubah sikap.

Ketiga, untuk hiburan, keadaan orang tua yang selalu sibuk dan mementingkan pekerjaan seringkali membiarkan anak-anak mereka terlantar (tidak dianggap). Sehingga mereka membiarkan bahkan malah memberikan gadget kepada anak mereka untuk sekedar main game atau yang lainnya, dengan tujuan agar mereka tidak menganggu. Padahal diusia anak-anak hingga menuju remaja adalah masa dimana mereka membutuhkan perhatian dan bimbingan langsung dari orang tua.

Dilansir melalui WA Today, Senin 21 September 2015, hal ini diutarakan para orang tua dalam sebuah survey. Penelitian melalui polling ini dilakukan ComRes untuk saluran Channel 4 News. Hasil survey itu menunjukkan sekitar 47 % dari orang tua mengatakan, anak mereka kebanyakan menghabiskan waktu seharian di depan layar gadget. Sedangkan 43 % lainnya mengaku anak mereka telah memiliki ikatan emosi dengan perangkat mobile yang dimiliki. 

Emosi yang semakin meningkat dalam diri anak-anak, adalah hal yang harus diwaspadai. Karena perkembangan jiwa mereka yang masih labil dan tidak stabil. Sekali anak-anak sudah mengenal gadget sebagai media hiburan, itu malah akan menjadikan mereka terus ketagihan. Apalagi jika mereka mengenal media itu sejak masih umur dibawah 5 tahun, dalam pikiran mereka fungsi gadget pasti hanyalah sebagai hiburan dan permainan.

Di era globalisasi ini, orang tua memanglah harus lebih cerdas bersikap jika berhadapan dengan anak-anak mereka. Jika anak-anak kita pintar mengoperasikan gadget, kita juga seharusnya mampu melakukannya. Bahkan jika perlu, kita bisa menjadi teman mereka di sosial media yang mereka miliki.

Ketika anak kita masih berusia anak-anak boleh saja kita mengatur, memberi batasan-batasan kepada mereka, bahkan memberi mereka petuah-petuah lama (tua). Tapi ketika anak kita berusia remaja, jadilah teman bagi mereka. Menjadi tempat yang nyaman bagi mereka untuk berbagi perasaan dan keadaan yang mereka rasakan adalah salah satu langkah agar mereka mau terbuka, dengan begitu kita bisa lebih memantau kondisi psikologi mereka. 

Mungkin bagi orang tua yang sibuk itu akan sedikit sulit, dikarenakan waktu mereka yang sedikit. Tetapi jika kita renungkan sekali lagi, sedikit saja waktu untuk itu pasti ada. Yang terpenting bagaimana cara kita membuat suasana itu menjadi hangat dan membuat mereka nyaman untuk berbagi. Disitulah mereka akan merasa bahwa orang tua juga adalah teman, tempat berbagi sekaligus mengeluh bagi mereka. Hal lain yang lebih penting, jangan pernah memarahi mereka dengan kasar, memberi mereka kebebasan yang sangat luas atau bahkan mengekang mereka hingga mereka pun tak bisa melakukan apa yang menjadi keinginan mereka. 

Mengubah watak anak bukanlah tentang bagaimana orang dewasa memandang dan memaksakan sesuatu kepada mereka. Melainkan tentang bagaimana seorang teman yang bijaksana dan dewasa itu membawanya kepada kebiasaan yang baik hingga hal itu berubah menjadi watak dalam dirinya.

Post a Comment

0 Comments