Seruling Perindu

Tirai tabir terbuka
Genderang rindu bertabuh, riuh
Para pecinta menenggak anggur
Mereka mabuk


Dan aku masih duduk termenung
Menikmati sentuhan sang beku
Menjamahku
Hingga menggelinjang aku


Kusulut malam
Kusesap kelam yang kian pekat
Kudekap takdir yang hadir
Di tengah senyum rembulan,
Di bawah naung hampar hitam
Gemintang berkedip

Angin merayu, membisik
Seruling pecinta mengajakku berdiri, menari
Suitannya membuatku sakau
Tanganku menengadah
Jiwaku menari
Puncak ekstaseku

Bibirku menyenandung
Syair-syair terkidung
Berkibarlah gamis dan kerudung


Aku membisu
Kataku beku
Ia malu, menepi
Dan aku terus menari
Terus memutar tubuhku,

Bersama raungan rindu yang mencabik

Waktu tersipu
Tarianku terpaku
Engkaukah itu?
Ah ya
Kau sayang
Kau datang
Senyumanmu menyadarkanku
Ya, aku pasti mengenalimu

Rebahlah aku di dada malam
Tersungkur aku
Terjatuh aku dari tarianku
Tak berkedip, kutatap mata tajammu
Tertusuklah jiwaku
Tertuanglah letupan-letupan rindu

Ah, subtansiku lebur
Keakuanku mengabur
Aku kalah, sayang
Kau menang
Kau menang,
Tangis dan tawaku


Bersama bait-bait rindu
Aku terdiam
Ya, kataku mati
Suaraku tergolek, tak bernyawa
Meski raungan sukma memekakkan semesta

"Jangan, jangan tinggalkan"
Kau tak bisa mencegahnya
Dan kita harus pamit

Aku mafhum
Apalah makna cinta
Tanpa izin dan melibat Sang Cinta
Apalah artimu
Dibanding dengan Dia


Air mata membalut ruhku
Senyuman menghias wajahku
Bermandikan suka duka, kita bersua
Bersama doa dan munajat, kita bertakwa

Bersama rindu yang menyebar hingga puncak nirwana
Bersama rindu yang tak pernah tuntas
Bersamamu, pemilik kerinduan
Bersamamu, rindu
Biarlah seruling kembali berdenging
Dan biarlah aku kembali menari


__Pelatar Permadani, Tempat Kala Tersadar "Aku Merindu"
Blitar, 19 Juni 2019

Penulis :

Penulis Buku The Puzzles of Life

Post a Comment

0 Comments