Mengigit Kewarasan Di Tengah Kegilaan

by. Ekka Zahra Puspita Dewi


Rasanya sungguh pilu, ketika mencoba menoleh di masa lalu. Ya, sedih boleh. Namun hanya sedetik. Detik-detik selanjutnya harus dihabiskan dengan menelan bara semangat idealisme yang tidak dapat ditukar dengan apapun. Menggugah jati diri yang beberapa waktu telah bersemayam. Membuang semua hal-hal yang melemahkan detak jantung kehidupan. Menenggak api keridaan yang terus menyala-nyala.

Sebagai seorang perempuan, hidup berkalang lelaki, entah mengapa pernah kudambakan. Prediksi saya, memiliki pemikiran sedemikian rupa lantaran doktrin dan pemahaman yang kurang tepat tentang salah satu fase kegemilangan, di mana saat itu saya dididik oleh seorang lelaki. Sebab terlalu menggantungkan diri kepada manusia, dan menafikan poin di mana saya tidak akan pernah bisa bergerak tanpa rida dari Gusti Allah dan juga tanpa memiliki kesadaran bahwa jika tombol ‘on’ yang ada dalam diri saya tidak saya tekan sendiri. Tidak akan mungkin ada orang lain yang mampu menggerakkan saya, tanpa saya memiliki motivasi internal yang baik untuk menyalakannya. Dari dogma yang salah kaprah itu, saya menyakini bahwa kesuksesan akan terjalin jika saya memiliki ‘partner’ yang seperti ‘beliau’.

Realita membabat habis seluruh harapan yang mengobarkan semangat dan alasan yang selama ini dibangun. Ketika saya ditinggalkan, kehidupan menjadi terbalik, gagal total dan terus menekan kepada kemerosotan hidup. Tidak memiliki pertimbangan yang masak, terus berusaha menafikan nyata yang jauh berbeda dari harapan, memberikan bias yang mengerikan kepada kehidupan yang tidak tentu arahnya. Saya lupa nasihat indah dari Imam Ali bin Abi Thalib kh.w. Bahwa ‘Saya pernah mengalami semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit adalah ketika saya berharap kepada manusia.’ Benar, saya mengamini apa yang dikatakan oleh beliau. Pernyataan itu bukan sebuah isapan jempol belaka. Alasannya sederhana. Sebab terlalu banyak harapan yang terngiang untuk manusia, hidup menjadi penuh dengan derita, nista, duka, tangis dan kemerosotan lainnya. Dari hal ini saya mulai menyadari. Tidak ada yang bisa saya andalkan untuk membantu memperbaiki kehidupan saya, kecuali saya sendiri yang bangkit dan meninggalkan kubangan kesedihan, dan kecuali saya bersujud, memohon kepada Sang Mahakuasa, pencipta langit bumi dan seluruh jagad raya.

Sebagian waktu dalam hidup saya habis hanya untuk meratapi seorang lelaki. Iya, jika sang lelaki memiliki makna penting, dan pantas diperjuangkan. Yang ada malah sebaliknya. Dalam babak pencarian beliau di dalamnya itu, hidup semakin kelam, makna semakin termaram, dan saya semakin jauh dari Sang Tuhan. Kesalahan terfatal memang ketika saya selalu mencari sosok beliau, dari setiap lelaki yang saya temui. Padahal, keistimewaan yang beliau hadirkan tidak bisa sembarangan ada di setiap lelaki. Hidup saya hancur lebur sebab terlarut percaya. Saya lupa, bahwa percaya memang sebuah permainan yang sangat berbahaya. Namun, cukup demikian. Cukup sekian kehancuran menerpa. Saya terlampau istimewa untuk terus terpuruk dalam hal-hal yang tidak berguna. Ilmu yang selama ini diperlajari terlampau berharga jika hidup hanya digunakan untuk menyesali apa yang sudah berlalu. Dan, sebagaimana nasihat sesosok lain, yang hadir melalui takdir-Nya, ‘Berfokuslah kepada hal-hal yang positif. Dimulai dari hal paling sederhana. Misalnya, ketika merasa tidak berharga, bagaimana orang tua, adik-adik kita memandang kita? Masihkan kita masih diberikan tempat tinggal, diberi makan, difasilitasi semua hal. Pantaskah kita memiliki itu jika kita tidak berharga?’ Saya mulai sadar dan mafhum, selama ini terlalu menggigit hal-hal besar, dan meremehkan hal-hal sederhana. Terlalu memburu nafsu keduniawian, dan menampik hal-hal yang hakiki. Perlaham diri ini mulai meyakini, bahwa memikirkan keterpurukan tidak akan pernah bisa menghalau hadirnya badai. Sebaliknya, akan terus berlumuran air mata duka tanpa pernah mengizinkan tawa menyapa.

Gus Baha’ dalam salah satu potret mengaji beliau menyampaikan, bahwa seseorang yang selalu merasa bersalah dan meratapi dosa-dosa yang telah lalu adalah bentuk dan wujud dari ujub. Ujub di sini sebab tidak mau melihat sisi rahmat dan esensi ar-Rahman dan ar-Rahim dari Tuhan. Terus menyalahkan Tuhan mengapa saya hidup seperti ini, mengapa selalu seperti ini, mengapa tidak seperti lainnya, yang bisa taat. Menarik, sangat menarik memang apa yang diutarakan oleh beliau. Kemarin boleh berlalu dengan semua dosa serta penyesalan. Namun penyesalan itu melingkupi diri cukup dalam waktu sedetik. Selebihnya, biarlah pemikiran bahwa Allah Swt., begitu mengasihi. Rahmat dan ampunan-Nya, maghfirah-Nya begitu besar, lebih besar dari murka-Nya. Dengan apa yang disampaikan oleh Gus Baha’, membuat kita semakin sadar, bahwa kita bukan orang baik, maka akan terus berusaha menjadi baik. Bahwa kita bukan orang saleh, maka akan terus berusaha saleh. Bahwa kehidupan kita masih berlangsung, maka dengan kesempatan detik yang tersisa sepatutnya dihabiskan untuk belajar, mengais ilmu sebanyak-banyaknya, untuk kemudian dibagikan kepada lainnya. Itulah wujud bahwa ilmu bermanfaat. Dan tidak ada yang bisa dipintai pertolongan agar diri bisa kembali waras di tengah kegilaan hidup, kecuali Allah Swt.

Cita berada di depan mata. Tidak boleh kali ini, kesempatan ini tersia. Yang kemarin, bairlah hikmah terpetik dan hadir menjadi penghias hidup ini. Dan kini, biarlah kita berfokus untuk selalu mengais ilmu. Selalu berusaha agar hidup ini bisa menawarkan wangi. Terus berusaha, mengajak lebih banyak orang tersenyum. Terus berusaha mengambil hikmah Rahman Rahim dari Tuhan. Biarlah diri memberdaya. Tidak perlu terlalu muluk-muluk harus seperti ini seperti itu. Menciptakan peluang, dan terus merunduk dengan sikap sederhana dan bersahaja. Merangkul mereka yang memusuhi, tersenyum kepada mereka yang mencibir. Menertawakan hidup ini, dengan kelucuan-kelucuan yang ia tawar. Terus sibuk menanam dan merawat biji-biji kebaikan. Sebagaimana ungkapan Maulana Jalaluddin Rumi dalam Fihi Ma Fihi, bahwa ulama selalu belajar untuk memberi, tidak untuk menerima.

Post a Comment

0 Comments