Mengenali Negeri Sendiri



Anak Semua Bangsa adalah buku kedua dari roman empat jilid (tetralogi) karangan Pramoedya Ananta Toer. Buku ini berisi tentang pengenalan Si Tokoh (Minke) pada negerinya sendiri dan pengaruh Eropa pada negerinya. Tidak hanya itu, bahkan Pramoedya juga menceritakan tentang capaian Jepang hingga dapat setara dengan Eropa.

Mulanya, Pramoedya menceitakan bahwa Minke mendapat pelajaran baru dari Nyai Ontosoroh, mertuanya. Pelajaran ini berisi tentang bagaimana mengenali azas. Cukup sepele, namun pelajaran ini tidak akan pernah diajarkan oleh sekolah Eropa.

Jangan kau kira bisa membela sesuatu, apalagi keadilan, kalau tak acuh terhadap azas, biar sekecil-kecilnya pun. (Nyai Ontosoroh, Anak Semua Bangsa, h.3)

Boleh mengagungkan ilmu Eropa, karena dimasanya ia memang benar berjasa bagi dunia. Namun, sangat disayangkan bahwa tidak ada ajaran mengenai azas sebagaimana yang Pribumi terapkan. Sehingga hanya ketidakadilan yang diterima Pribumi kala itu. Begitulah sekiranya yang diajarkan Nyai Ontosoroh kepada Minke.

Pelajaran yang didapat Minke terus berlanjut hingga ia bertemu kembali dengan Kommer, teman seprofesinya. Minke disadarkan mengenai tulisannya yang terlalu berpihak kepada Eropa. Ia menyadari hal ini setelah tulisannya ditolak oleh pihak surat kabar. Hal ini dikarenakan tulisannya berisi tentang ketidakadilan yang dirasakan oleh Trunodongso, petani Pribumi teradap tanahnya yang direbut Eropa untuk pabrik gula.

Berdasakan hal tersebut, dapat dilihat betapa berpengaruhnya Eropa dalam surat kabar. Tulisan yang menguntungkan bagi Eropa akan diterbitkan, sebaliknya jika tulisan tersebut tidak menguntungkan bagi Eropa maka dilarang terbit. Hal inilah yang melanggengkan kekuasaan Eropa di Hndia.

Begitulah Pramoedya dalam bukunya ini memberitahu kepada pembaca mengenai keperpihakan tulisan di surat kabar. Hal tersebut masih berlaku hingga masa kini. Dimana banyak tulisan yang dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan birokrasi atau pihak-pihak bermodal tinggi.

Selain itu, penulis juga memaparan tentang capaian Jepang hingga setara dengan Eropa. Bagaimana mungkin salah satu negara Asia ini bisa dianggap setara dengan Eropa? Bagaimana bisa negara yang bahkan belajar dengan Tionghoa ini cepat sekali melejit? Mungkin pertanyaan semacam ini yang terngiang di benak pembaca.

Begitulah Negeri Matahari Terbit ini, rakyatnya tersebar di berbagai penjuru dunia. Bukan hanya untuk mencari uang dan mengayakan diri, namun juga untuk belajar demi kemajuan negerinya. Mereka meninggalkan negeri, belajar, dan mencari segala sesuatu di negeri asing, namun tidak akan pernah lupa terhadap negeri sendiri.

Tidak heran jika Jepang begitu cepat melangit, negara sendiri adalah prioritas rakyatnya. Lain halnya dengan masa kini, di Indonesia banyak pemuda yang gemar sekali ilmu Barat, lantas bangga dengan ilmunya hingga enggan dengan bangsa, menganggap kolot bangsanya sendiri. Inilah yang menyebabkan Indonesia sulit menyaingi bangsa Barat, terlalu menyombongkan ilmu untuk diri sendiri.

Keberhasilan Jepang inilah yang menampar Minke hingga ia sadar pada kenyataan. Bahwa ia adalah seorang penulis yang terlalu asing terhadap bangsnya. Ia telah lupa bahwa bangsanya adalah sumber yang abadi pada tulisannya.

Sekali mengenali bangsa sendiri, akan kau temukan sumber tulisan yang takkan kering-keringnya, sumber tulisan abadi. Bahkan Kartini pernah mengatakan bahwa mengarang adakah bekerja untuk keabadian. Jika sumbernya abadi, bisa jadi karangan itu menjadi abadi juga. (Kommer, Anak Semua Bangsa, h.121)

Pun halnya yang dikatakan oleh Nyai Ontosoroh kepada Minke tentang negerinya. Negeri asing tidak untuk dikagumi karena kolonialnya. Sebaliknya, ia harus berjuang untuk bangsanya sendiri, bukan seperti kolonial, tapi sebagai seorang penulis.

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari. (Nyai Ontosoroh, Anak Semua Bangsa, h.84)

Begitu tegas dan lugas yang ditulis oleh Pramoedya dalam bukunya ini. Buku yang dapat menyadarkan orang hanya dengan membaca. Ini adalah buku yang sangat recommended untuk dibaca terkhusus pelajar.

Judul Buku : Anak Semua Bangsa
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Kota terbit : Jakarta
Tahun terbit : 2010