Mengenal Hukum Tiga Tahap Comte



Mempelajari ilmu-ilmu Barat memang tidak akan pernah ada habisnya. Selalu saja ada hal-hal yang menyenangkan dan mengundang untuk dipelajari. Salah satunya adalah hukum tiga tahap milik The Father of Sociology ini.

Hukum tiga tahap Comte ini adalah Teologis, Metafisik, dan Positivistik. Teologis adalah tahap dimana kepercayaan supranatural adalah akar segala-segalanya. Maksudnya, dulu masyarakat lebih percaya akan Tuhan yang dipersonifikasi atau dewa-dewa.

Lantas masih berlakukah tahap Teologis di zaman modern ini? Tentu saja masih berlaku, namun hanya beberapa yang masih menganutnya, Hindu-Buddha misalnya. Meskipun demikian, mereka tetap diterima walaupun kepercayaan ini tergolong minoritas.

Selanjutnya, tahap metafisik. Tahap ini merupakan tahap transisi, dimana kepercayaan terhadap kekuatan abstrak masih berlaku, namun bukan dalam bentuk Tuhan yang dipersonifikasi. Tahap ini lebih cenderung terhadap kekuatan-kekuatan alam. Seperti misalnya, matahari yang memiliki kekuatan, pohon-pohon atau alam yang dianggap dapat memberikan keselamatan, dan sebagainya.

Tahap tersebut juga masih berjaya di zaman modern ini, sebut saja Suku Samin di Gunung Kendeng. Mereka percaya bahwa alam dapat melindungi mereka dari mara bahaya. Selain itu mereka juga percaya selama alam dijaga dengan baik-baik saja, maka mereka akan tetap aman. Pun sebaliknya, jika alam terluka maka mereka akan rugi sendiri.

Mengenai hal tersebut, sudah banyak artikel dan berita beredar mengenai Suku Samin yang begitu gigih mempertahankan alam (Gunung Kendeng) dengan menolak pembangunan pabrik semen. Bahkan mereka rela mengecor kaki mereka dengan semen hanya demi mempertahankan alam yang telah dianggap sebagai rumahnya.

Kemudian di tahap terakhir adalah tahap Positivistik. Tahap ini merupakan tahap yang cocok untuk mewakili pemikiran modern ini. Dimana pada tahap ini orang lebih percaya pada sesuatu yang telah benar-benar telah diuji kebenarannya secara ilmiah, ilmu pengetahuan.

Coba saja tanyakan mengapa ada fenomena gerhana bulan. Jika saja dulu orang akan beranggapan bahwa ada raksasa yang memakan dewi bulan, sekarang jawaban itu akan ditampik dengan pengetahuan. Dimana matahari, bumi, dan bulan berada dalam garis lurus, sehingga cahaya matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.

Tidak heran jika dulu orang-orang lebih cenderung pada hal-hal berbau supranatural, karena memang belum ada teknologi modern yang dapat membuktikan adanya hal tersebut. Namun, tidak semua hal dapat di empiriskan, bukan? Jadi tidak ada alasan untuk men-­judge kepercayaan orang lain. Semua baik menurut kepercayaan masing-masing.

Perlu ditegaskan lagi, bahwa tahap-tahap yang ditawarkan Comte bukan bermaksud untuk menjatuhkan masing-masing. Nyatanya, ini hanyalah tahap yang dirumuskannya sebagai tahapan intelektual manusia. Dimana pada masanya, tahapan ini dianggap ahistoris. Namun pada saat ini, hukum tiga tahap itu berlaku dalam waktu yang sama.

Post a Comment

0 Comments