Memorial Candi Maimunah


Kala itu, aku berjalan di bawah langit kota Nganjuk yang cerah. Hawa panas menyergapku tanpa ampun. Debu jalanan bertaburan kesana-kemari. Sesekali aku terbatuk-batuk, karena tak sengaja menghirup debu yang terbawa oleh angin.

Sejenak aku menduduki kursi kosong di depan panti, sembari menyaksikan riuh anak-anak panti yang tengah bermain petak umpet. Teriakan mereka bersahut-sahutan, dan terdengar cukup gaduh.

“Makasih ya Nin, mau berkunjung kesini lagi” ucap Septi saat menyambut kedatanganku. “Oh iya, minggu lalu cerita tentang si kancil bagus banget, anak-anak sangat suka dengan dongengmu” tambahnya memujiku.

“Ah, biasa aja Sep, itu memang dongeng andalanku meskipun sudah biasa diceritakan kemana-mana, pasti kamu sudah pernah dengar juga ceritanya” jawabku mengelak.

Septi adalah temanku sewaktu SMA, kita sudah akrab sejak lama. Hanya saja, Septi melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi lokal sekitar Nganjuk, sedangkan aku menempuh kuliah di Yogya. Dia mengabdikan diri di panti asuhan sebagai Pembina bersama keempat temannya.

Hari ini adalah kali ke lima aku berkunjung di panti asuhan ini, namanya panti asuhan “Kasih Ibu”. Tempat ini baru berdiri dua tahun lalu, namun jumlah anak yang tinggal disini sudah cukup banyak. Mereka juga berasal dari daerah yang berbeda-beda.

Sembari menunggu anak-anak selesai bermain dan makan siang, sengaja aku duduk menikmati pemandangan sekitar panti asuhan. Tempat ini cukup lengkap dengan fasilitas umumnya yang megah, mulai dari masjid, gedung TK dan TPQ, perpustakaan, sampai aula serba guna. Semua bangunan ini sengaja didirikan oleh Pak Jalal selaku pemilik dan donator tunggal panti asuhan.

Terlihat di pojok kiri halaman panti asuhan, Pak Jalal sedang duduk termangu bersama pikirnnya yang entah kemana. Pandangannya menatap lurus kedepan, sembari menikmati rokok yang sekarang ini berada diujung jari telunjuk dan tengahnya. Wajahnya lesu, keriput dan janggutnya tebal. Sesekali ia terbatuk-batuk karena asap rokok yang dihirupnya. Ia sama sekali tak menghiraukan kedatanganku, pandangannya kosong. Ini sudah menjadi hal biasa bagiku.

Konon dia adalah saudagar kaya di daerahnya. Awalnya ia hidup cukup pas-pasan, namun berkat dukungan dan do’a  ibu Maimun---istri tercintanya, pak Jalal bisa meraih kesuksesan yang tidak disangka-sangka. Rumah mewah, mobil banyak, tanah yang luas dan berbagai bisnis yang dimilikinya mampu menjadikan pak Jalal meraih predikat konglomerat. Sayangnya, pak Jalal belum dikaruniai putra.

Septi pernah bercerita, semua bangunan yang sudah berdiri ini merupakan aset pak Jalal dari hasil kerja kerasnya bersama ibu Maimun. Dulu, pak Jalal bersama istrinya memulai usahanya ini dari nol, mereka bekerja keras dari siang hingga malam tiba. Mulai dari menjadi buruh tani, buruh panggul, hingga alih profesi menjadi pedagang bakso keliling. Bu Maimun-lah yang mendukung penuh semua usaha pak Jalal, sampai semua harta peninggalan orang tua ibu Maimun terjual untuk memodali usaha pak Jalal.

Tapi sayang, saat pak Jalal mulai menapaki masa kejayaannya, ibu Maimun meninggal dunia karena sakit mendadak, entah apa penyakit yang dideritanya. Yang lebih pilu lagi, pak Jalal tidak bisa menemani saat-saat terakhirnya karena menghadiri rapat dengan klien di Pontianak. Itu sebabnya, banyak orang bilang yayasan ini adalah Candi Maimunah. Karena sejak kepergian ibu Maimun, satu persatu bangunan didirikan megah dari hasil kerja keras pak Jalal beserta Istri, dan memang benar yayasan ini sengaja dipersembahkan pak Jalal kepada ibu Maimun. Dengan harapan, pak Jalal tetap bisa merasakan kasih sayang ibu Maimun dari semua fasilitas yang disediakan untuk khalayak.

“Memang benar kata bapak Mario Teguh, bahwa dibalik laki-laki yang hebat, disana ada wanita hebat yang selalu ada di setiap langkahnya. Dan perbuatan yang telah dilakukan oleh pak Jalal, membuktikan bahwa “cinta” nya yang tulus tak bisa begitu saja hilang oleh waktu.”