Keadilan Seorang Perempuan


https://www.google.com/search
Berbicara mengenai perempuan, tentu tidak lepas kaitannya dengan laki-laki. Keduanya akan berbeda jika menyangkut tentang gender maupun seks. Namun, jangan tanya mengenai kualitas, keduanya memiliki kualitas yang sama meskipun setiap orang menguasai keahlian dibidang masing-masing.

Dalam bidangnya, perempuan tidak bisa dianggap remeh, bahkan kemampuannya bisa saja unggul dibandingkan laki-laki. Tetapi yang perlu diperhatikan bukanlah mengenai siapa yang lebih unggul, tetapi bagaimana keduanya bisa bekerja sama.

Namun, perempuan dalam kinerjanya tak jarang berkiblat pada laki-laki, baik secara sadar maupun tidak. Perempuan selalu saja membandingkan dirinya dengan laki-laki, ingin lebih terlihat, dan tidak dinomorduakan, serta selalu ingin setara dengan laki-laki. Boleh saja jika perempuan menuntut mengenai kesetaraan, tetapi ia juga harus memahami bahwa keadilan itu tidaklah harus sama. Bukan hanya itu, seorang perempuan juga harus tahu arah dan tujuan dari tuntutannya. Banyak yang menuntut kesetaraan, namun tidak tahu kesetaraan yang sebenarnya diinginkan dan dituju.

Bukan bermaksud mencela, namun perempuan tetaplah perempuan. Ia memiliki hak yang sama dengan laki-laki, tetapi tidak dengan kelebihan dari segi fisik. Bagian paling pentingnya ialah perempuan harus sadar akan kualitas pada dirinya. Tidak perlu berkiblat pada laki-laki dan merasa tidak setara, karena sejatinya seorang perempuan sudahlah mulia dan istimewa.

Jika saja perempuan terlalu sibuk mengungkit kesetaraan, ia akan tenggelam dalam rasa ketidakadilan seumur hidupnya. Hal ini sama dengan apa yang diungkapkan Friedan bahwa, “Jika perempuan ingin menjadi seperti laki-laki, maka ia tidak akan terbebaskan.” (Betty Friedan, The Second Stage)

Mengenai hal tersebut, perempuan perlu sesekali menyadari kelebihan yang ada pada dirinya. Buat itu menjadi kualitas yang pantas diunggulkan dari laki-laki. Tetapi bukan dengan maksud untuk mengalahkan laki-laki, melainkan untuk menjadi nilai plus pada diri, wujud kualitas dalam diri sekaligus keanggunan dari seorang perempuan.

Setelah sadar akan kualitas yang dimiliki, ia memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mengembangkannya. Perempuan boleh saja menuntut, jika ia merasa dirinya tidak diberi kesempatan yang sama untuk mengekspresikan diri. Namun, jangan bodoh untuk mudah menuntut, karena hal tersebut justru akan merendahkan diri seorang perempuan.

Hal semacam itu acap kali menjerumuskan perempuan dalam perdebatan, seperti contoh perempuan rumahan dan perempuan karir. Ada yang kekeh untuk berkarir karena lagi-lagi atas nama kesetaraan. Ada yang tidak mau kalah argumen bahwa baiknya perempuan itu dirumah. Astaga, kolot sekali mereka yang masih memperdebatkan hal semacam ini.

Semua itu tentu ada plus minus dari masing-masing opsi. Perempuan yang berkarir, jika ia merasa itu tidak membebani dirinya dan ia merasa nyaman dalam pilihannya maka ia berhak atas itu. Perempuan yang memilih di rumah, jika ia bisa memanjakan diri dan nyaman atas pilihannya, ia juga berhak atas pilihan itu.

Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan itu sama. Jika laki-laki mengunggulkan fisik dan rasionalnya, maka perempuan bisa mengandalkan perasaan dan ketangkasan. Dengan hal ini, semua saling membutuhkan dan tidak ada yang mengunggulkan satu dengan yang lainnya.

Post a Comment

0 Comments