Gumaman Alisa






Suatu hari di bulan November...

Gemercik air sungai terdengar riuh ditelingaku, sepertinya volume sungai cukup tinggi. Kebetulan, tempat tinggalku bersanding dengan sungai. Aku berfikir, mungkin ini karena hujan deras yang sejak semalam turun.

Pagi ini hawa dingin masih terasa, kabut-kabut menyelimuti pagi, jalanan terlihat masih gelap. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi.

“Lis!, diminum tehnya, biar anget” tukas bu Amin sembari menaruh sepiring pisang rebus di meja makan.

“iya bu” balasku seraya mencicipi pisang rebus yang asapnya masih mengepul.

Seperti biasa, usai shalat subuh aku memulai aktivitas dengan mandi, bersih-bersih rumah, dan membantu bu Siti menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Selebihnya aku habiskan dengan mengajar di salah satu sekolah dekat tempatku tinggal.

Aku bukan asli warga sini, bu Sitilah yang mengajakku. Kita dipertemukan disalah satu komunitas relawan mengajar ketika aku masih duduk di bangku kuliah. Bu Siti memiliki dua orang putra, dan keduanya tinggal di pesantren. Sedangkan pak Karjo---suami bu Siti, bekerja di pertambangan yang akan pulang setiap satu bulan sekali. Itu sebabnya, bu Siti menawariku tinggal di rumahnya untuk membantunya mengolah sekolah yang sudah dua tahun beliau pimpin. Sekaligus menjadi temannya berbicara di rumah. Begitu jelas ketika bu Siti ditanya orang-orang mengenai skenario aku bisa tinggal bersamanya.

“Nanti setelah ngajar, kita bersih-bersih langgar yo Lis, mau dibuat pengajian ibu-ibu nanti sore” pinta bu Siti, kemudian keluar rumah menuju sekolah untuk mengajar.


Setiap kali teman-temanku dari kota kebetulan bertemu denganku, sering sekali mereka menanyakan profesiku dan kenapa aku mau mengerjakannya. Benar saja, dulu semasa aku duduk di bangku kuliah, aku lebih sering menghabiskan waktu luangku dengan hal-hal yang terbilang hanya untuk diriku saja. Ke Mall, bioskop, atau sekedar nongkrong di kafe bersama teman-temanku. Itu sebabnya banyak orang bertanya, kenapa aku mau susah payah tinggal di desa dengan segala keterbatasan yang harus aku terima.

Di desa, tidak ada café---tempat nongkrong dengan desain menarik yang multi fungsi menjadi tempat selfi, bahkan jaringan internet juga akan sangat sulit, terkadang sinyal itu bisa digunakan atau bahkan menghilang dengan tiba-tiba. Sering aku akan online ketika menghubungi keluargaku di Surabaya (untuk sekedar menanyakan kabar), itupun aku menelponnya dengan numpang di warung kopi yang menyediakan fasilitas wifi gratis, dan letaknya cukup jauh dengan rumah bu Siti.

Bagiku semua bukanlah masalah, terbukti genap enam bulan aku bisa bertahan. Hatiku setiap hari riang gembira. Aku bisa bertemu dengan anak-anak desa, yang setiap tingkah lakunya membuatku tertawa. Aku senang ketika aku mengajar membaca, menghitung, bahkan ilmu sosial. Antusias mereka sangat tinggi. Dan aku senang bisa berbagi. Itu sebabnya kenapa aku memilih sepeti ini, menjadi guru honorer di salah satu sekolah swasta. Aku bisa menemukan kepuasan yang selama ini tidak bisa di beli oleh apapun.

Mungkin ini jawabannya, saat aku masih duduk di bangku SMA, aku sering bertanya-tanya kenapa banyak orang mau menjadi relawan, mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran hanya untuk orang lain, bahkan memikirkan dirinya sendiri kadang terlupa. Kini aku sadar, hidup itu memang tidak semestinya melulu tentang pencapaian dan derajat kemewahan yang setiap harinya berusaha kita timbun. Tapi, tentang bagaimana kita bisa menjalankan pertokohan kita sebagai manusia yang sesungguhnya.

Seperti aku, aku ingin membagikan apa saja yang sudah aku peroleh selama mencari ilmu. Aku ingin, banyak orang termotivasi karena ceritaku, aku ingin menjadi perantara tumbuhnya mimpi-mimpi anak-anak desa yang sempat hilang karena ketakutan bahkan minder. Aku ingin, mengamalkan apa yang sudah aku pelajari. Dan aku ingin dikenang karena amal baikku, bukan amalan bodoh yng pernah aku lakukan semasa SMA.

Post a Comment

0 Comments