Gelagat Perempuan Dalam Dimensi Kampus

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Gelagat perempuan acap kali menjadi topik hangat bagi setiap kalangan. Tanpa topik yang satu ini, seakan-akan bergosip pun akan terasa gersang. Apalagi gelagat perempuan yang begitu hot dan memancing untuk digunjing. Misalnya saja cara jalan perempuan yang berlenggak lenggok, pemakaian make up yang dianggap menor, merokok, dan berbicara kasar. Hal ini akan menjadi topik yang tidak akan pernah bosan untuk dibicarakan.

Bagaimana bisa bosan, jika setiap orang yang menerima gosip mengenai gelagat perempuan akan selalu antusias dan maniak keingintahuan. Tidak berhenti disitu, jika hal yang didapat tidak begitu memuaskan, mereka akan mencari tahu kebenaran gosip tersebut kepada orang lain. Tidak heran jika hal ini yang menyebabkan mudah tersebarnya gosip diberbagai kalangan.

Ada sebuah ungkapan yang menyebutkan bahwa cepat rambat gosip dapat mengalahkan cepat rambat cahaya hingga ke bumi. Hal ini terbukti dengan adanya gosip mengenai gelagat perempuan yang sedikit “nyeleneh”, pada detik berikutnya akan menjadi rahasia publik. Apalagi dalam dimensi kampus, rahasia itu seakan menjadi kata yang resmi dihapus oleh jamaah kampus.

Lantas, mengapa gelagat perempuan yang “nyeleneh” justru menjadi topik hangat? Sama halnya dengan titik hitam dikain putih, ia lebih menarik untuk ditelisik. Hal ini akan selalu mengundang rasa penasaran sebelum tahu kenyataannya.

Demi memenuhi rasa penasaran tersebut, tidak jarang banyak pihak yang melontarkan stigma terhadap masalah ini (gelagat “aneh” perempuan). Perempuan yang tidak menahu tentang dirinya yang menjadi bahan perbincangan akan merasa dirugikan. Ia akan mendapat stereotip dikalangan kampus.

Siapa yang salah dalam hal ini? Pertanyaan purba semacam ini acap kali diperdebatkan oleh berbagai kalangan. Padahal yang lebih penting adalah bagaimana cara memperbaikinya.

Jika gelagat perempuan diperdebatkan, maka pihak pendebat harus membuka perspektifnya. Ia tidak boleh melontarkan stigma sebelum mengetahui argumen mengenai gelagat perempuan. Bisa saja itu memang keinginannya atau pun kesalahan yang harus diperbaiki.


Jika pun itu keinginan, toleransi perlu diterapkan antarsesama. Dimana, didalannya ada hak yang harus dihormati. Kalau pun itu kesalahan, tidak ada orang yang berhak men­-justice, melainkan harus memberitahu bahwa gelagatnya memang menyimpang.

Bagi perempuan, bercermin itu suatu keharusan, bukan karena dirinya buruk tetapi karena sadar diri itu perlu. Tidak hanya perempuan, laki-laki pun sama, ia perlu bercermin untuk sadar tindakan.

Post a Comment

0 Comments