Ada Hikmah Di Balik Nasihat

ad+1



Bukankah manusiawi jika Aku “baper”?, bukankah manusiawi jika Aku “dendam”?, bukankah manusiawi jika Aku “marah”?, begitulah yang masih sering terdengar ditelinga kita sebagai manusia.

Saya bingung, kenapa banyak orang benci terhadap seseorang yang memberikan nasehat pada dirinya. Tak heran, ekspresi dan tanggapan dari mereka pun juga beragam. Ada yang hanya diam, langsung marah, atau bahkan mereka membalasnya dengan bantahan dan berbalik menuduh. Oleh karenanya, banyak orang yang berfikir ulang untuk sekedar menasehati seseorang. Mereka akan lebih memilih untuk diam dan membiarkannya begitu saja, atau justru menasehati seseorang itu sak karepe dewe.

Pernah saya bertemu dengan orang tua hijrah---orang tua yang semangatnya masih membara untuk menjadi pribadi lebih baik, kemudian ia bertemu dengan seorang ustadz yang baru saja memberikan ceramah. “Ustadz, tolong nasehati anak saya. Dia susah sekali disuruh sholat subuh”, jelasnya dengan tiba-tiba. Jika saya boleh mengambil kesimpulan, bukankah posisi yang sekarang ini ustadz alami adalah hal yang membuatnya bimbang?. Karena dengan menasehati seorang anak di tempat umum, yang kemudian membuat banyak orang mengetahui kekurangannya akan membuatnya “kecil hati”. Dan malah membuatnya malu, dan kemudian kehilangan kepercayaan diri sekaligus tidak bisa membuatnya berubah.

Sering kita melihat dari satu sudut saja ketika ingin menasehati. Tanpa berfikir, “apakah ini waktu yang tepat?”, atau “bagaimana cara agar dia tidak tersinggung?, atau hanya sekedar “apa nasehatku sudah benar?”. Jika boleh jujur, mungkin hanya satu koma sekian persen dari mereka yang sempat memikirkan itu sebelum menasehati. Karena tanpa sadar, terkadang nasehat yang kita berikan tidak bisa diterima atau membuatnya tersinggung, bahkan membuatnya lebih buruk. Bukan isi atau maksud dari nasehat yang salah, melainkan cara dan waktu penyampaikan kita yang tidak tepat.

Oleh sebab itu, menjadi seorang insan saja tak cukup untuk bisa melapangkan dada agar tidak “baper” menerima atau menasehati. Melainkan harus bisa menaikkan level mental kita menjadi mukmin. Karena jika menjadi insan, seseorang pasti hanya akan sering menggunakan sifat “manusiawi” yang ada dalam dirinya. Sifat “manusiawi” inilah yang justru membuat laki-laki mampu berkata, “laki-laki banget kan kalau aku marah?” (berarti ego yang menguasai). Selain itu membuat seorang perempuan berkata, “perempuan banget kan kalau aku nangis?” (berarti perasaan yang menguasai).

Bedakan jika seorang mukmin yang sedang dalam posisi itu. Maka apa yang dikatakannya? “La’allahu khair (semoga ada kebaikan di dalamnya)”, atau “mungkin ini sudah qadarullah (takdir dari Allah)”, atau berkata “ini bukti cinta-Nya pada makhluknya, dan akan diganti dengan yang lebih baik”. Inilah bukti nyata bahwa dengan menjadi mukmin, kita bisa lebih survive dalam hidup, dan bisa menerima apapun rencana Tuhan. Karena dengan menjadi mukmin, kita punya iman (keyakinan) pada Tuhan yang membuat kita tenang tanpa mengkhawatirkan apapun.

Bahkan Rasulullah saw. bersabda, ‘aajaban li amri mukmin, inna amrahum kulluhu khair “sungguh Aku takjub atas perkara seorang mukmin, sesungguhnya urusan-urusan mereka adalah baik”. 

Maka ciri dari seorang mukmin, adalah jika mendapatkan kebaikan dia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika dia mendapatkan ujian kemudian ia bersabar, maka itu juga baik bagi dirinya. Sejatinya, semua hal tersebut tidak dapat dirasakan selain oleh seorang mukmin.

Ketika Allah swt. sendiri yang mengatakan “watawaa shoubil haqqi” (dan salinglah memberikan nasehat). Untuk apa? Untuk menjaga dua perkara penting, yaitu “iman” dan juga kualitas “amal shaleh”.
Jika tidak ada nasehat, maka bagaimana seseorang itu bisa menjaga keduanya dengan sendirinya. Sedangkan nyatanya, iman itu yaziidu wa yanqus, terkadang iman itu naik dan juga turun. Sama halnya dengan amal shaleh, saya yakin akan lebih banyak amalan yang tidak khusyu’ atau ikhlas dalam mengerjakannya dibandingkan sebaliknya.


Nabi kita Rasulullah saw. juga pernah mengalami kondisi yang “lemah”, namun arti lemah disini bukan seperti lemahnya kita. Melainkan lemahnya Nabi itu lebih kepada sedih atau merasa berat dalam berdakwah.
Kemudian, apa buktinya? Yaitu Allah menurunkan ayat Inna a’thaina kal kautsar, atau ayat waddhuha wallaili idzaa sajaa ma wadda ‘aka rabbuka wama qalaa, begitulah cara Allah menegur dan menghibur Kekasih-Nya. Dari ayat-ayat itulah mari maknai secara kontekstual bahwa Rasulullah saw. juga pernah diberikan nasehat, namun itu hanya datang dari Allah swt dan juga melalui malaikat Jibril. Lalu, bagaimana dengan kita yang penuh dengan dosa, sikap mengeluh dan iman yang terkadang naik dan turun? Maka kita membutuhkan orang lain untuk menasehati diri kita agar ingat dan kembali iman kepada Allah swt.