Sekelebat Skripsi, Suka Duka Mahasiswa Tingkat Akhir


Di perkongkow-an kali ini, mari kita mengerucut pada salah satu hal yang bisa dikatakan sebagai momok paling menyeramkan, yang mau tidak mau harus dihadapi ketika seorang mahasiswa telah menyemat gelar ‘mahasiswa tingkat akhir’ (MTA) sebelum meraih gelar kesarjanaan. Apalagi yang sedang kita bincangkan jika bukan kumpulan kata hasil penelitian dan harus dipertanggungjawabkan segala-gala konten kata itu di hadapan sidang akbar bersama dosen penguji dan pembimbing, yakni skripsi?

Skripsi bisa disabdakan sebagai sebuah tugas terberat bagi mahasiswa tingkat akhir selama bersafari dan berproses di lahan perkuliahan. Skripsi bisa dirajut sebagai rangkuman dari hasil belajar selama masih duduk dibangku kuliah, teori-teori dan ilmu pengetahuan yang didapat dengan kurun kurang lebih empat tahun, dicoba untuk dikembangkan sebagai sebuah riset dalam tindak nyata, bukan teori belaka. Penemuan-penemuan tersebut menjadi tolak ukur mahasiswa dalam menguasai teori dan materi atau sebuah perwujudan pengembangan ilmu pengetahuan yang sudah dipelajarinya.

Menjejaki level pencarian judul Sekripsi yang sering menyesatkan dan dianggap sebagai tugas yang mahaberat bagi sebagian MTA. Dan judul yang dicari tentu saja harus relevan serta berbeda, tidak digunakan oleh mahasiswa sebelumnya. Perubahan-perubahan kecil diperbolehkan dari skripsi yang terbit sebelumnya sebagai bentuk upgrading. Judul yang ditentukan oleh mahasiswa ataupun dosen pembimbing bisa dilabeli sebagai sebuah tugas yang tidak mudah, tugas berat, selain berfokus kepada kejelasan subjek dan objek yang diteliti. Dan barang tentu, keduanya haruslah selaras. Jangan sampai sebuah subjek dan objek tidak cocok, bahkan meluas atau melakukan perceraian. Hal itu dapat menjadi malapeta bagi mahasiswa yang mengerjakan judul tersebut.

Lanjut dengan masalah-masalah lainnya, seperti buku referensi primer, sekunder, tertier dengan limitasi sekian totalnya. Karena proses keilmuan terus berkembang dan pakar pada suatu bidang tidak hanya satu orang ahli saja, ada banyak ahli. Yang sedang kita diskusikan ini baru satu materi, belum lagi jika dalam satu skripsi terdapat beberapa variabel yang dikembangkan. Kalikan saja dengan minimalnya dua sumber ahli, maka harus tersedia sekian referensi. Dan ada pula masalah lain yaitu terdapat pada dosen pembimbing yang sering dikeluhkan mahasiswa, dikarenakan kendala, misal sulit ditemui. Mengapa demikian? Jangan salahkan dosen pembimbing karena seorang dosen mengemban tri dharma perguruan tinggi yakni mengabdi kepada masyarakat, meneliti, dan mengajar. Bisa dibayangkan, kesibukan dosen tidak hanya bisa berfokus a hundred percent melulu mengurus MTA, tetapi masih ada urusan-urusan lain yang perlu dikerjakan. Ini jelas demi kebaikan kampus maupun mahasiswa, karena riset dan ilmu harus terus berkembang seiring berjalannya zaman. Setiap harinya selalu ada perubahan dan masalah-masalah baru yang ditemukan. Demi menyelesaikan itu semua, dosen memiliki tanggung jawab yang sangat berat.

Skripsi menjadi sebuah sesuatu yang sakral bagi dunia perkampusan, apa lagi jika kampus tersebut bersetatus negeri dan cukup Waow, terkenal. Jelas saja, semakin sulit dan kritis, semakin berkembang, semakin baik dan maju kualitas penelitian mahasiswa, maka kampus tersebut bisa memberikan hasil yang signifikan dalam mencetak mahasiswa-mahasiswa berprestasi, tangkas dan memiliki nilai jual pada skill yang tinggi.

Tidak salah juga jika mengatakan bahwa skripsi merupakan sebuah dilema. Karena banyak masalah yang hadir mengiringi skripsi. Yaaa saya disini bukan ingin menyalahkan skripsi, namun dari sebagian banyak mahasiswa tidak mampu berhadapan dengan Tuhan ketika berkaitan dengan skripsi. Dosen pembimbing sendiri menjadi dewa-dewinya para MTA. Sehingga harus hormat bahkan sampai mengemis kepada dosen tersebut. Padahal memang betul sibuk, mungkin jika tuhan dan dewa adalah manusia, mereka tampak seperti dosen yang mengurus ini itu dan hanya disampaikan lewat doa. Jawab ini, tunda dulu, bahkan tidak juga dijawab. Yaa itu semua kembali kembali kepada pribadi mahasiswa sendiri sih, jika mau berusaha dan berdoa bisa jadi skripsi itu menjadi suatu perkara yang mudah.

Setelah bertemu dengan dosen pembimbing sebaiknya sabar juga menunggu skripsi direvisi. Ini biasanya tidak berjalan sesusai keinginan, entah itu dicoret-coret bahkan sampai ganti judul lagi. Jika harus ganti judul, ya menunggu lagi untuk bimbingan berikutnya sampai judul dan proposal di ACC. Barulah bisa mengerjakan skripsi dengan lancar, ujian dan dinyatakan ANDA LULUS. Akhirnya MTA bisa memberikan undangan wisuda keorang tua. Undangan yang sangat dinanti-nantikan oleh mereka. Sebagai bukti bahwasanya anaknya sudah belajar degan baik di perguruan tinggi. Orang tua mana yang tidak bahagia melihat anaknya diwisuda. Perjuangan selama berbulan-bulan bahkan tahunan itu menghasilkan sesuatu yang tidak bisa diucapkan selain kata ‘Alhamdulillah’. Jadi, ketika mengerjakan, jangan mau menyerah begitu saja dengan semua halangan yang hadir mengiringi skripsi, apalagi hanya karena dosen sulit ditemui. Yakin, tidak ingin memakai toga dan melakukan foto bersama keluarga? Makanya ayoo semangat para pejuang skripsi. Singsingkan semua penghambat. Selanjutnya yang ditunggu-tunggu kemudian adalah tanggal wisuda. Biasanya menunggu tanggal wisuda bukanlah suatu hal yang berat, ini sama saja dengan menunggu tanggal pesta atau perayaan sudah selesainya masa-masa dibangku kuliah dan berhasilnya menaklukkan skripsi, dan karena satu beban telah terlepas, kita bisa menunggu prosesi wisuda dengan perasaan riang gembira.

Tetapi, ada PR besar yang hadir menanti pasca wisuda. Mari, para calon wisudawan yang telah bergelar sarjana untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih berat dan rumit yaitu terjun langsung di masyarakat dan menuangkan ilmu yang sudah didapatkan di masyarakat. Juga, tidak munafik untuk menunggu kerja. Jika memang memiliki rezeki dan skill yang bisa diadu, menunggu sekali saja langsung diterima pada lamaran yang dikirim di lowongan pekerjaan yang dipilih, tapi ada juga mahasiswa yang sudah berstatus sarjana menunggu pekerjaan dengan susah payah sampai merasa bosan.

Awalnya melamar, lalu menunggu panggilan, menunggu tes tulis, praktik dan lain sebagainya. Apabila ditolak alhasil mencari pekerjaan lagi sampai diterima lagi. Dan jika masih ditolak ya harus melamar lagi. Atau jika memang di era digitalisasi ini memiliki inovasi untuk tidak hanya bergantung dan menunggu diperkerjakan, maka menciptakan lapangan kerja merupakan tantangan luar biasa bagi seorang sarjana. Sebab, kesarjanaan bukanlah sebuah BLK. Ia mencipta dan memberikan skill keilmuan. Bagi para jomblo bertambahlah lagi permasalahan, yaitu mencari dan menunggu jodoh.

Post a Comment

0 Comments