Keadilan Seksual The O Project



Judul buku : The O Project
Penulis : Firliana Purwanti
Penerbit : KPG (Kepustakaan
Populer Gramedia)
Kota terbit : Jakarta
Tahun terbit : 2010
Firliana Purwanti dalam bukunya The O Project menuangkan hasil wawancanya dengan berbagai narasumber mengenai orgasme dan keadilan dalam seksualitas. Dalam bukunya ini, ia membagi ke dalam sembilan bab pembahasan. Pertama, Clitoris Envy, dimana dalam bab ini menceritakan tentang adanya sunat perempuan. Penulis menjabarkan, sunat perepuan itu adalah bukti dari kecemburuan laki-laki terhadap klitoris dan vagina perempuan, karena laki-laki tidak bisa menikmati rangkaian kenikmatan seksual sedahsyat perempua. Dimana perempuan bisa menikmatinya melalui dua sumber, yaitu klitoris dan G-Spot.

Hal tersebut sangat bertentangan dengan teori Freud mengenai Pens Envy. Menurut Freud, perempuan merasa cemburu terhadap laki-laki. Ini dikarenakan laki-laki memiliki penis yang bisa membuat perempuan menjadi tidak berlaku.

Kedua, Virginity is Overrated, sebuah bab yang membahas tentang keperawanan. Dalam wawancaranya, Firliana menemukan dua perbandingan antara eorang yang memegang teguh keperawana dan tidak.

Seseorang yang memegang teguh keperawanan berpendapat bahwa segala hubungan itu harus memiliki ikatan emosional. Hal ini buktikan dengan narasumber bahwa ia pernah melakukan hubungan fisik tanpa perasaan, dan ia berkata hal tersebut tidak enak dan tidak nyaman.

Sedangkan narasumber yang tidak percaya terhadap keperawanan mengungkapkan bahwa keperawanan adalah bentuk ketidakadilan bagi perempuan. Dimana keperawanan perempuan diukur berdasarkan selaput dara sedangkan laki-laki tidak. Sehingga terlihat sekali bahwa terdapat ketidak adilan dalam seks, dimana laki-laki bisa melakukan seks dengan siapa pun dan perjaka atau tdaknya, tidak bisa diukur.

Ketiga, Orgasme Perempuan. Penulis menjabarkan tentang keadilan seksual terhadap kontrol sosial. Dimana seringkali dua orang dewasa (tidak berstatus legal) yang melakukan hubungan seksual atas dasar persetujuan bersama mendapat perlakuan buruk dari masyarakat (digerebek warga) karena dianggap mecoreng nama baik tempat tersebut.

“Kontrol sosial berupa main hakim sendiri merupakan pelanggaran hak atas pribadi para pasangan. Selain itu, kontrol sosial juga bias kelas. Pasangan yang melakukan hubangan seks tanpa pernikahan di hotel bintang lima tidak mungkin digerebek warga.” (halaman 40-41)

Keempat, Ayat-ayat Orgasme. Dalam bab ini, Firliana dengan tegas mengecam ketidak adilan mengenai poligami. Ia mengunkapkan bahwa kekerasa dalam rumah tangga (KDRT) terbesar disebabkan oleh adanya poligami. Hal ini didukung dengan adanya fakta bahwa himpitan ekonomi menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga. Setelah itu, hal ini dijadikan alasan bagi laki-laki untuk menambah pasangan hidup.

“Praktik poligami merendahkan marbat perempuan, karena merupakan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.” (halaman 53)

Kelima, Sexercise. Bab ini menjelaskan tentang pelecean tehadap perempuan bertubuh besar. Hal ini merupakan bentuk ketidakadilan bagi perempuan, dimana ia akan mengalami gangguan kenikmatan seksual secara tidak langsung. Banyak pandangan negatif terhadap perempuan berbadan besar akan memicu rasa rendah diri. Hal inilah yang menjadi faktor perempuan tidak bisa mengalami orgasme.

Keenam, Queer. Di Indonesia istilah ini mungkin asing, biasanya masyarakat lebih mengenalnya dengan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Tansgender). Dalam praktiknya, hal ini dilarang di Indonesia. Sehingga bagi mereka yang lesbian, gay, biseksual, maupun transgender harus berjuang untuk menikmati rasa sayang, cinta, dan kenikmatan seksual. Padahal melakukan hubungan seks akan lebih menyenangkan dengan orang yang mereka sayangi.

Ketujuh, Mr. Rabbit. Di Indonesia, lagi-lagi hal ini dianggap tabu, sex toy atau alat permainan sex. Padahal dengan menggunakan sex toy adalah salah satu cara mendapatkan kenikmatan seksual yang aman.

“Seks mandiri dapat dijadikan sebagai praktik seksual alternative agar terhindar dari resiko infeksi menular seksual dan HIV-AIDS.” (halaman 87)

Kedelapan, Safe Sex is Hot Sex. Dari semua bab, bab inilah yang membuat saya terkagum-kagum dengan penulis. Bagaimana tidak, ia bisa menemukan narasumber yang tepat dan dapat menepis stigma saya mengenai penderita HIV-AIDS. Dalam bab ini, penulis menjabarkan tentang penderita HIV-AIDS yang masih mampu melakukan hubungan seks, namun tidak menularkannya kepada pasangan.

Terakhir, Civic Orgasm. Dalam bab ini, dijelaskan adanya ketidakadilan bagi mereka yang ingin menikah dengan sesama jenis. Pemerintah hanya memberi tanda legal bagi mereka yang yang menikah antara laki-laki dan perempuan, selain itu tidak diperbolehkan. 

“Kenikmatan seksual diserahkan kepada individu. Negara hanya intervensi ketika ada diskriminasi, pemaksaan, dan kekerasan.” (Nursyahbani Katjasungkana, pengacara dan anggota parlemen RI 2004-2009)

Buku ini bukan bermaksud untuk menghegemoni pembaca, melainkan memberi pelajaran dan menepis ketabuan akan seksualitas. Bahkan penulis menjabarkannya dengan begitu gamblang bagaimana ketimpangan-ketimpangan mengenai seks itu terjadi. Bukan hanya itu, penulis dengan bagitu bijak memberi solusi dan arahan mengenai hubungan seks yang sehat.

Bagi pemula, buku ini cocok untuk dibaca dan sinya juga ringan. Kalian yang biasanya menggembor-gemborkan ketabuan dalam seks, perlu sedikit asupan dengan membaca buku unik karya Firliana Purwanti ini.

“Tabu-tabu terhadap seksualitas perempuan adalah malapetaka yang membisukan pengalaman seksualitas perempuan untuk mendapatkan kenikmatan atau orgasme.” (halaman 114)

Post a Comment

0 Comments