Insyaf Berkarya


Mengikis waktu dengan jeda yang lama untuk tidak menulis, ternyata dampak yang dihasilkan bisa membuat otot-otot menulis mulai kaku. Indikasi yang dapat dilihat oleh mata adalah sulitnya mengumpulkan diksi yang sesuai ketika merajut ide dari dalam pikiran dengan baik, benar, efektif, efisien dan menarik. Jika gejala itu telah terdeteksi, maka diri harus segera insyaf dan bersegera melakukan sebuah pertobatan dengan level nasuha. Senam menulis harus dijadwal dengan rutin, dan diri harus mulai diajak untuk disiplin memeluk kata agar kemampuan yang mungkin sedang koma bisa sembuh, tidak semakin parah.


Banyaknya pengaruh faktor X terhadap kehidupan seseorang ternyata memiliki andil yang besar untuk membuat seorang penulis berhenti menulis. Seorang pembaca berhenti membaca. Mengerikan memang. Apa yang akan dilakukan oleh seorang penulis jika dia tidak menulis? Ah, bahkan label ‘penulis’ pun seakan tidak pantas disematkan kepadanya. Sebab, menyadur ungkapan Dr. Ngainun Naim, M.H.I. bahwa “Tugas seorang penulis ya menulis.” Jika seseorang berhenti menulis, maka ia tidak pantas lagi disebut sebagai seorang penulis. Mungkin, kata mantan bisa dilekatkan kepada seorang itu. Saya bergidik. Mantan penulis? Terrible. 

Menulis memang pekerjaan yang mungkin tidak banyak orang suka menggelutinya. Tidak heran jika Dr. Naim menyebut penulis sebagai ‘makhluk langka’. Namanya langka, tentu minim peminat. Selain itu, kebanyakan manusia juga mengejar materi. Adakah jaminan istimewa terkait materi ketika kita telah menjadi penulis?

"Kebanyakan manusia lebih mengejar sesuatu yang sifatnya instan, sedangkan proses menulis tidak dapat dilakukan dengan cara instan. Butuh ketabahan, kesabaran, keuletan dan ketelatenan dalam menulis."

Mari kita coba telaah. Jika materialisme yang dikejar, apakah iya dengan menulis, seseorang bisa dengan mudah mendapatkan gemerlap materi? Mungkin ada, beberapa saja. Itu juga untuk mereka yang telah mendaki gunung lewati lembah dalam dunia kata. Akan tetapi, kebanyakan mereka yang menulis adalah orang-orang yang memang menyukai dunia itu, dan target utama mungkin bukan hanya untuk mendapatkan penghargaan ini itu. Membicangkan tentang penghargaan, mencomot ungkapan Mbah Nun-Emha Ainun Nadjib-setelah melakukan sesuatu, hakikatnya apa yang didapatkan adalah sebuah akibat. Seperti seseorang yang kerja, kemudian akibat dari ia bekerja ia mendapatkan gaji. Esensi dari kerja adalah proses memberdayakan diri, sebuah proses ibadah, sedang gaji adalah akibat dari bekerja.

Begitu pula menulis. Penghargaan, fee, eksistensi, popularitas adalah akibat, sebabnya adalah mau mendayagunakan diri demi kepentingan orang lain. Bukan egosentris, melainkan lebih berusaha menerapkan "khairunnas anfauhum minnas". Jika seseorang bisa memberikan kemanfaatan kepada orang lain, maka otomatis orang lain akan memberi rasa hormat dan sanjungan. Jadi, rasa hormat dan sanjungan, serta semua dampak dari melakukan ini itu bukan sebagai sebuah tujuan mutlak. Ia adalah akibat. Karena, kausalitas yang ada dalam sistem yang sedang kita bicarakan di sini belum mencapai ranah hukum, seperti air selalu menempati wadah, air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah. Titik berat yang kita ulas adalah sebuah sebab akibat.

Jika kita mencoba untuk menoleh dan melihat bagaimana kisah jungkir balik para penulis kelas advance, mereka kebanyakan memiliki idealisme yang tinggi, kemauan kuat, kegigihan, ketekunan untuk mendapatkan bahan tulisan agar semakin gurih dan renyah, kesabaran dan keuletan dalam merangkai kata demi kata agar ide yang dihasilkan bisa layak baca oleh orang lain, serta sebuah rasa senang ketika menelurkan ide-ide dari alam pikirannya. Jika ketujuh ritme itu tidak padu, kemungkinan besar terjadi ketimpangan. Jika seorang penulis melupakan poin kesabaran dalam merangkai kata, maka kemungkinan besar hasil tulisannya semrawut, tidak padu, bahkan tidak selesai. Jika seorang penulis menafikan poin menyenangi proses menulis, maka hasil tulisannya, kemungkinan besar akan kehilangan rasa. Sebab ketidaksenangan membuat seseorang terpaksa dalam menyampaikan idenya. Sehingga, ruhnya tidak ada. Maka, ketujuh poin itu menjadi titik pijak seorang penulis untuk menulis.

Baiklah, mari menarik napas sebentar dan mengembuskannya perlahan. Apa ribet dalam menulis? Hehe, maafkan. Baiklah, mari membuat proses menulis menjadi simpel dan mudah. Lupakan ketujuh poin di atas. Jika memang ingin menjadi penulis, cukup bangkit, ambil pena dan kertas, atau duduklah di depan ponsel atau laptop dan lakukan aksi untuk menulis, saat ini juga. Seorang penulis tidak akan pernah menghasilkan tulisan jika ia tidak bersegera bangun dan menulis. Poin ke delapan ini adalah poin pamungkas dan cukuplah semuanya terangkum dalam poin terakhir ini. Poin-poin sebelumnya pelengkap jika poin kedelepan ini sudah diaksikan.

Ada sebuah kalimat menarik yang bisa dijadikan prinsip dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam dunia menulis. “Saya tidak akan pernah berhenti sebab lelah. Saya hanya akan berhenti, ketika saya selesai.” Nasihat indah itu patut dijadikan referensi juga dalam menulis. Kita tidak bisa berhenti di tengah jalan hanya karena lelah. Bukan berhenti, kata yang tepat hanyalah mem-pause diri sebentar, mengisi amunis. Setelah energi ter-charged, maka kita harus mendisiplinkan diri untuk kembali menulis, mengerjakannya, sampai ia benar-benar selesai.