Dalang : Membekap Makna Kesendirian


  • Judul buku        : The Puppeteer
  • Penulis               : Jostein Gaarder
  • Penerjemah       : Irwan Syahrir
  • Penerbit             : Mizan
  • Kota terbit         : Bandung
  • Tahun terbit      : 2017
  • Tebal                   : 352 halaman
The Pupperteer adalah sebuah novel karya Jostein Gaarder, seorang penulis asal Norwegia. Novel ini berisi tentang kehidupan Jakop Jacobsen, seorang pria dewasa berusia lima puluh tahun yang gemar menghadiri pemakaman. Jakop memiliki Pelle Skrido, boneka yang selalu menemaninya dan sahabat pena, yaitu Agnes, seorang wanita yang selalu ia beritahu tentang acara pemakaman yang dihadirinya.

Gaarder, dalam novel ini bercerita mengenai kehidupan seorang lelaki dewasa, Jakop, yang dilingkupi oleh kesendirian. Ketika masih kecil, ia hanya hidup dengan seorang ibu. Ayahnya hanya sesekali mengunjunginya, karena ia telah memiliki keluarga sendiri. Suatu ketika ibu dan ayahnya meninggal, ia mulai hidup sendiri. Kehidupannya ditopang oleh warisan dari ayahnya.

Ketika Jakop dewasa, ia pernah menikahi seorang perempuan bermata indah, kata Pelle, ia bernama Reidun. Namun, pernikahannya tidak bertahan lama, ia berpisah dengan Reidun. Tidak ada kata cerai dalam pernikahannya, tetapi mereka berdua telah lama hidup sendiri-sendiri. Lagi-lagi, Jakop harus hidup seorang diri. Jalan yang ia ambil untuk membunuh kesendiriannya ini adalah dengan menghadiri pemakaman.

Gaarder menceritakan Jakop sebagai seseorang yang gemar sekali menghadiri pemakaman, baik itu kerabat, seseong yang dikenalnya, maupun seseorang yang sama sekali tidak diketahuinya. Kegemarannya menghadiri pemakaman ini membuatnya hidup dan ia tidak merasakan kesendiriannya. Dalam pemakaman orang yang tidak dikenalnya, ia dapat berperan sebagai seseorang yang seakan-akan memiliki hubungan dekat dengan keluarga almarhum.

Penulis menceritakan awal peran Jakop dalam prosesi pemakaman Erik Lundin, seorang Profesor ternama di Norwegia. Sebenarnya Jakop tidak ada hubungan kekerabatan ataupun hanya seorang kolega dari Erik. Jakop hanya orang asing dalam prosesi pemakaman ini. Namun, ia berperan dengan sangat bagus sebagai mantan mahasiswa dari Sang Profesor ini. Dan bagusnya, tidak ada yang tahu pasti bahwa ia berbohong. Kemudian ia menuangkan ceritanya kedalam surat yang selalu ia kirimkan kepada sahabat penanya, Agnes.

Kebohongan dari cerita Jakop terus berlanjut sampai ia bertemu dengan Agnes dalam pemakaman kakaknya, Grethe Cecilie. Seperti biasanya, ia berperan sebagai seorang yang seakan-akan kenal dekat dengan keluarga almarhum. Ia bercerita bahwa ia kenal dengan Grethe, bahkan dalam drama yang diciptakannya, ia sempat berjalan menaiki gunung bersama Grethe. Namun, Agnes menanggapi cerintanya dengan pernyataan bahwa kakaknya itu telah lumpuh sejak usia enam tahun akibat kecelakaan lalu lintas dan ia tidak mungkin bisa berjalan ke gunung. Disinilah Jakop tidak bisa lagi berbohong dan memainkan perannya sebagai seorang yang seakan kenal dengan keluarga almarhum. Dari peristiwa tersebut, Jakop berjanji tidak akan mengulangi kegiatannya, menghadiri pemakaman seseorang yang tidak ia kenal. Namun, ia melanggar ucapannya. Ia tidak akan malu seandainya ia akan terbukti berbohong kembali.

“Rasa malu mempersyaratkan adanya orang lain yang dihadapan kita merasa malu. Rasa tidak tahu malu mempersyaratkan adanya orang di luar sana yang kau pilih untuk tidak merasa malu.” (halaman 183)

Dalam kehidupan mungkin Jakop merasa gagal, karena ia hanya hidup seorang diri dan tidak punya siapa-siapa selain bonekanya, Pelle dan teman penanya, Agnes. Dengan pergi ke pemakamanlah ia dapat merasakan emosi dalam kekeluargaan. Hal inilah yang membuat Jakop tumbuh menjadi seorang yang ahli dalam berbagai rumpun bahasa Jerman, Nordik, Belanda, dan Inggris. Ia juga gemar sekali menulis cerita dan berbincang.

“Aku tidak punya anak dan cucu yang hidup, dan aku tidak punya saudara atau orang tua yang masih hidup, tapi aku punya kata-kata yang hidup dalam mulutku.” (Jakop Jacobsen, halaman 239)

Namun, penulis mampu menampar pembaca dengan kisah yang diceritakannya. Dimana dalam ending cerita ini, sebenarnya Jakop tidak bisa menjadi dirinya. Ia adalah dalang yang menggerakan bonekanya. Dalang mungkin disebut-sebut sebagai pengatur, namun bukan ia yang terlihat, melainkan bonekanya.

“Kau hanya melihat bunga mawarnya, dan tidak memandang tanah tempatnya tumbuh. Kau melihat boneka di tangan penggeraknya, namun tidak melihat penggeraknya.” (halaman 348)

Post a Comment

0 Comments