Riuh Hiruk-Pikuk Sepekan Berdemokrasi




by. Miftah Farid Hamka

Belakangan ini warganet dibuat bising oleh kegaduhan pesta rakyat Indonesia yang tengah merayakan tasyakuran berdemokrasi. Melihat betapa antusiasnya warganet yang mempersibuk diri di sosial media untuk menyambut pesta tersebut, dengan sedikit nyinyiran yang ramah data dan sedikit bumbu cabai rawit yang ditaburkan ke-mata warganet, supaya pedas ketika sedang membacanya. Tapi tidak semua warganet turut serta menyumbangkan suaranya melalui karya tulis agak ilmiah itu di akun facebook, whatsapp story dan twitter. Sebagian ada yang cuma menyumbangkan “like” melalui akun media sosial mereka, sebagai pemeriah seperti sporter pertandingan nasional bola sepak.


Sebagai warga negara yang baik, saya mencoba berbijak diri dengan mencoba ikut serta dengan cara menyimak saja pergulatan orator ulung di media sosial sepekan ini. Banyak data dari masing-masing kubu bertebaran di media sosial sebagai salah satu trik jitu untuk mempengaruhi warganet agar lebih bijak untuk menggunakan hak pilihnya. Namun, semua itu tidak semudah dan se-ideal yang terbayangkan bukan, yang terjadi malah pertikaian yang berujung saling menyudutkan kedua belah pihak.


Memanas? Sepertinya bukan masyarakat atau publik yang memanas, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa pun masih tenang-tenang saja. Tidak ada kegaduhan apapun soal pesta rakyat yang mengusung semangat demokrasi itu. Jika ada gejala memanas terjadi, itu pun saya mengira hanya gejala demam biasa. Dengan meminum obat dari apotik dan sedikit beristirahat-pun sudah cukup menurunkan demam. Nah, Perkiraan saya yang memanas hanya timses dan calon yang diusungnya saja, sebagai pemegang proyeksi dan kendali akan tanggung jawab pemenangan kubu, juga bertaruh malu karena sudah memakan dana sedekah cukup tinggi dari berbagai sektor pendukung, sebagai jaminan kesuksesan pesta rakyat yang di idam-idamkannya.

Mulai dari stasiun televisi, berbagai acara debat di tayangkan sebagai unjuk informasi dari masing-masing kubu. Setidaknya anggapan baik sudah terbersit dibenak kalian, yang menganggap ajang debat itu juga ada sisi positifnya. Meskipun, pada akhirnya beradu mulut seperti mak-mak di pasar yang saling bernegosiasi tawar-menawar harga pun terjadi. Dari harga yang ditawarkan cukup tinggi hingga tidak berharga sama sekali. Menariknya acara tersebut diikuti dan disaksikan oleh kaum terpelajar (Dibaca: Mahasiswa) dari Universitas ternama. Ya, mau berkata apa lagi harapan mendengarkan secara langsung informasi yang valid dan logis dari narasumbernya, malah mendapatkan tontonan seperti turnamen pencak silat, iya (Dibaca: silat lidah).

Seusai pemilu berakhir sasaran warganet beralih arus, perlahan-lahan menukik tajam seperti tendangan jarak jauh kapten Tsubasa tepat mengenai sasaran (Sebut saja: pihak ketiga), yang awalnya tidak muncul sama sekali di media sosial dan sekarang ibarat naik di panggangan daging guling. Dipanaskan dan dibolak-balik sampai panasnya merata. Saking panasnya pihak ketiga ini, selain sebagai pemegang tanggung jawab besar untuk menjaga dan menyampaikan suara masyarakat indonesia dari hasil pesta demokrasi kemarin, kini malah memikul beban tuduhan dari warganet yang bertubi-tubi. Kali ini Tudingan itu katanya atas dasar data juga, entah itu benar atau tidak adanya. Saya juga belum mengikuti lebih lanjut persoalan itu.

Sebenarnya dari beberapa kehebohan di media sosial sepekan ini, saya hanya terpaku heran terhadap apa yang diinginkan sebenarnya dari kedua belah pihak, selain dua kata (Dibaca: kalah dan menang). Bukankah, sebagai calon pemimpin cukup mengenalkan diri dan sampaikan visi-misinya, dari timses menyampaikan apa yang disampaikan calon pemimpin yang didukung ke masyarakat, dan suara masyarakat yang menentukan pilihannya. Tentunya, tanpa ada ekspansi suara, terjadinya paksaan, ancaman dan diskriminasi sedikitpun.


Nah, seolah dengan adanya opini publik tanpa dasar dan opini berdasarkan data setengah benar, hingga opini yang berdasarkan data buatan (Dibaca: palsu), yang beredar di media sosial secara membabi-buta (Warning: maaf sebut nama hewan: takut menyinggung) alam bawah sadar warganet, menjadikannya dalih sebagai ajang menguji kecerdasan bangsa ini. Dengan Atas dasar berbagai aragumen pembelaan yang multitafsir ngawur itu. 


Saya membayangkan fenomena ini seperti ketika saya mengikuti ujian nasional dimana seluruh pelajar di Indonesia diuji kecerdsannya dengan soal-soal yang dibuat oleh ognum-ognum tertentu. Disela-sela persoalan disebarkan, kunci jawaban setengah benar bahkan salah semua juga diedarkan dengan harga jual yang tinggi. Sehingga menyebabkan ketimpangan fakta dan opini mengenai persoalan atas apa yang terjadi dibalik semua ini.


Dengan begini alasan saya mengatakan bersikap baik dan berbijak, dengan menyimak fenomena akhir-akhir ini adalah menolak untuk tergesa-gesa (Dibaca: kata agamaku itu sifat syaiton), dalam menyimpulkan fakta-fakta dan opini yang beredar di media sosial pekan ini. Sebaiknya, sebagai warga negara yang baik dan berbudi daya luhur yang tidak ingin Hak pilihnya terbuang sia-sia, karena peta kesimpulan terganganggu oleh opini yang isinya menyudutkan salah satu pihak. Maka bersabarlah, bacalah dengan seksama dan gunakan akal sehat.