Renung Kemanusiaan


Oleh: Dewar Al-Hafiz

Jauh di lubuk sangkar jelaga

Hendak totalitas daku mengenal-Nya tanpa sekat dan mencutat nama

Nihil akan hasrat kemanusiaan yang nyata

Menanggal hiruk-pikuk pikulan beban sepanjang nyawa itu bermasa

 

Tak terperi seberat pun zarah diperhitungkan

Sehelai rambutpun banalitas  pergelutan usaha teruntuk hidup  adalah anugerah yang enggan dinapikan

Memang, hampir tidak mungkin

Nafas-nafas harapan harus kupenggal dan menyebutnya dengan sarkas “sungguh keterlaluan!”

 

Toh, hidup bukan semata menyoal kalkulasi usia itu yang kau sombongkan

Setumpuk perhiasan dunia janganlah dijadikan alasan

Menabuh jumawa sebangsa penuh keangkuhan

Bahkan kau tahu tanpa harus disebutkan

Malaikat Izroil itu datang berkat titah Tuhan

Tahta, kaya dan rupa tak berlaku dijadikan sogokan

 

Pun satu malaikat tak pernah masuk tribun surat kabar kawan!

Apalagi sekadar usil karena menjadi target operasi tangkap tangan

Tak mungkinlah ia mengkhianati Tuhan

Terlebih lagi bak coretan merah koruptor di Senayan

 

Ah, apalah daya, raga tak mampu kau banggakan

Sebab, hanya kan terpendam dalam tanah yang pernah kau caci maki dan hinakan

Meski dengan bebal kerap kali kau timbun ia berlapiskan aspal hitam dan cor-coran  

Tapi takdir pengakhiran itu tetap cerita hidup yang tak terelakan  

 

Dan sepi kesendirian dalam gelap adalah sejatinya teman

Pun membusuk termakan hewan menjadi bagian

Sementara musuhmu berucap syukur tak terkirakan

Terpikal-pikal mengumbar tawa mengiring duka perkabungan

 

Kecuali memang, kau termasuk golongan mereka yang dimuliakan

Namanya menggetarkan mihrab bangsa kelangitan

 

Kesempurnaan pun keabadian hanya kekal milik Tuhan

Yang berwujud bagi makhluk hanya proses memaksimalkan

Akal, anugerah terbesar-Nya jangan kau sia-siakan

Nurani lentera bahasa kebeneran terlalu naïf kau acuhkan

Rasakan, cukuplah semua terkontrol sadar dikendalikan

Porposional menjiwai hidup, menikmatinya tanpa paksaan