Menjungkir-Balikkan Kehidupan Bersama Nawal el - Saadawi



Judul buku : Perempuan di Titik Nol
Penulis : Nawal el Sadawi
Penerjemah : Amir Sutaarga
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tempat : Jakarta
Tahun : 2003
Tebal Buku : 156 halaman
Perempuan di titik nol adalah sebuah novel feminis dari Nawal el Sadawi. Novel ini menceritakan tentang serang gadis bernama Firdaus yang hidup dalam belenggu patriarki. Selama menjalani kehidupannya, ia mendapatkan berbagai pelajaran yang dapat menjungkir-balikan kehidupannya.

Nawal menjelaskan secara gamblang bagaimana kehidupan Firdaus dari kecil hingga dewasa yang hidup di lingkungan patriarki. Firdaus kecil diceritakan sebagai anak penurut dan polos. Ia mengikuti apa pun yang diperintahkan oleh orang tuanya tanpa banyak membantah. Firdaus memiliki seorang ayah yang keras dan berkuasa. Dimana ayahnya selalu memperakukan ibunya dengan semena-mena, seperti memukul dan memperbudaknya setiap malam.

Jika melihat zaman sekarang, seorang suami yang memperlakukan istrinya dengan tidak baik, ia bisa di kenakan tuntutan. Suami bisa saja dipenjara dan mebayar ganti rugi atas tindakan yang merugikan istri. Namun, dalam novel ini menyajikan sesuatu yang berbeda, dimana istri hanya bisa tunduk dihadapan suaminya. Peristiwa tersebut memperlihatkan kepada kita betapa kentalnya budaya patriarki.

Dalam novel ini, kehidupan tokoh utama berubah ketika orang tuanya meninggal. Ia kemudian diasuh dan disekolahkan oleh pamannya. Di sekolah ia dididik menjadi seorang perempuan yang terpelajar. Namun, setelah tamat sekolah, Firdaus dijodohkan oleh bibinya, istri dari pamannya.

Terbesitkah pertanyaan dibenak kalian, mengapa pamannya tidak menolak perjodohan ini? Paman Firdaus telah menolak perjodohan ini. Namun, pamannya tidak memiliki daya yang cukup untuk membantah istrinya. Mengapa? Nawal menjelaskan bahwa seorang istri yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari suami, ia akan mendapatkan hak yang sama, termasuk untuk memaksa suami menuruti keinginannya.

Selanjutnya, disinilah hidup Firdaus terjungkir-balik. Ia merasakan apa yang dulu ayahnya perlakukan terhadap ibunya. Firdaus merasakan kekangan dalam statusnya sebagai seorang istri. Sebagai bentuk perlawanannya terhadap patriarki, Firdaus melacurkan dirinya. Menurutnya, ia merasa lebih bebas karena tidak terkekang oleh suaminya.

“Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas dari pada menjadi seorang istri yang diperbudak”. (halaman 133)

Kalimat itu seakan menjadi semboyan yang ia banggakan selama menjadi perempuan bebas. Hingga suatu hari, semboyan itu hancur karena dua kata yang dilontarkan seseorang kepadanya, “tak terhormat”.

Berdasarkan pernyataan tersebut, kebebasan bukanlah sesuatu yang selamanya baik. Kebebasan itu tetap ada batasan-batasan yang harus dipatuhi. Melihat betapa bebasnya kehidupan Firdaus, ia mengabaikan batas akan kebebasan. Ia lupa bahwasannya ada kebebasan yang lebih baik dari kebebasan yang dipilihnya.

Dalam hal ini, Firdaus membuka lembaran baru dalam hidupnya. Ia bekerja di kantor dan meninggalkan dunia kelamnya. Di sini, ia menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah didapatkannya selama hidupnya, cinta.

Dalam novel ini, penulis menggambarkan kisah cinta yang tragis pada tokoh utama. Dimana Firdaus tidak bisa mendapatkan cintanya. Sekali lagi, ia benar-benar hancur.

“Ketika saya menjadi pelacur saya tidak pernah memberikan sesuatu dengan cuma-cuma, tetapi selalu menganbil sesuatu sebagai imbalan. Tetapi di dalam cinta, saya memberikan tubuh dan jiwa saya, pikiran, dan segala upaya yang dapat saya kumpulkan dengan cuma-cuma”. (halaman 124)

Karena cinta, Firdaus menjadi perempuan yang lemah. Ia bukan lagi Firdaus yang merasakan kebebasan seperti ketika ia melacur dulu. Hal ini lah yang dirindukan oleh Firdaus. Ia ingin menjadi seperti dulu lagi, perempuan yang bebas.

Di akhir novel karya Nawal ini, tokoh utama digambarkan menjadi seseorang yang lebih bebas dan ‘berani’. Jika dulu ia hanya bisa merasakan bebasnya hidup, sekarang ia merasakan betapa menyenangkannya memiliki sifat berani. Dalam kehidupannya yang penuh tekanan ia berhasil membunuh seseorang. Dan ia dijebloskan ke penjara.

“Saya tidak lebih dari seorang pelacur yang sukses dan tak jadi soal betapapun suksesnya seorang pelacur, dia tidak pernah mengenal semua lelaki. Akan tetapi dengan setiap lelaki yang saya pernah kenal, saya selalu dihinggapi hasrat yang kuat untuk mengangkat tangan saya tinggi-tinggi dan menghantamnya ke muka mereka”. (halaman 149)



Post a Comment

1 Comments