Berpolitik Kok Kaleng – Kaleng, Berisik ...!!!

ad+1



Filsuf fenomenal Plato yang dituliskan oleh Henry J. Schandt,  profesor ilmu politik Universitas Wisconsin-Milwauke dalam bukunya Filsafat Politik bahwa salah satu dari  empat konsep fundamental politik Plato adalah ’tujuan masyarakat politik adalah kebaikan bersama’, bukan sebaliknya seperti fenomena sekarang ini, yang berindikasi melahirkan perpecahan.

Di negaraku kini terdapat beberapa kata yang tidak terkait begitu erat, namun seolah mereka tak terpisahkan. Seperti misal 'aku dan benar', serta 'dia dan salah'. Kata-kata itu cukup sering menyeruak hari-hari ini, terutama di tengah  fase kampanye serta dialektika para pendukung fanatik, yang bahkan membumbuinya dengan isu-isu SARA bernuansa “perpecahan”.  Satu kubu membenarkan kelompoknya dan menyalahkan rivalnya. Begitu pula sebaliknya, berita hoax yang diartikan sebagian orang sebagai berita bohong, mencuat kemana-kemana. Hal ini dikarenakan kedua belah pihak sudah mulai kehabisan ide untuk berdialektika terkait misi dan visi.

Saya pernah  berdiskusi dengan beberapa pendukung fanatik dari kedua paslon. Miris sahabat, beberapa orang di antaranya, ternyata tak paham visi misi dari pasangan calon yang dia dukung. Ini artinya mereka banyak memakan isu-isu yang berkembang di berbagai media, baik dari media TV maupun internet secara bulat dan mentah, padahal sangat perlu dikaji kebenarannya.

Saya telah mencoba menggali nilai positif yang terkandung dalam fenomena ini, namun sayang, nilai itu tidak pernah tiba pada titik fundamental dimana ketertarikan masyarakat terhadap politik seharusnya berdampak positif bagi masyarakat itu sendiri.

Menurut hemat saya, masyarakat Indonesia sebenarnya mampu mendorong politik yang ada ini sampai pada tahap fundamental, dengan satu prinsip tunggal kepentingan bersam. Masyarakat khususnya para mahasiswa sepatutnya mampu mempertengkarkan ide dan gagasan dari kedua paslon pres dan wapres. Lantas mampu mengawali ide dan gagasan tersebut hingga sampai pada tahap implementasi, bukan mengadu dengan isu-isu sensitif bernuansa SARA yang sangat kentara terkesan dibuat-buat oleh politisi dengan muara tercapainya kepentingan.

Satu lagi hal yang menarik terhadap potensi perpecahan ini. Sebenarnya rakyat Indonesia tidak benar-benar terpecah menjadi dua kubu besar yang biasa disebut kubu Cebong maupun Kampret. Melainkan dapat ditemui pula eksistensi kubu lain yang tidak tertarik dengan kegalakan isu-isu yang ada. Bahkan tidak tertarik terhadap suatu pesta demokrasi ini. Mereka cuek dan masa bodoh tentang perang argumen antar pihak. Mereka adalah barisan pesimis, barisan yang tidak perduli tentang siapapun yang terpilih, barisan yang merasa bahwa dia yang terpilih tidak akan memberinya peluang untuk mengubah keluarganya menjadi lebih baik, tidak akan mampu membuat masa depannya cemerlang, tidak akan mampu menghilangkan korupsi yang telah menjadi budaya para pejabat, tidak akan mampu mengusut tuntas kasus-kasus pelanggaran HAM seperti sebelum-sebelumnya.

Persepsi ini  tentu mempunyai latar belakang dan historis yang panjang. Kubu pesimis ini bisa terkonstruksi dari fenomena-fenomena yang mereka rasakan selama hidup berbangsa dan bernegara. Bagi kelompok ini kata pemimpin tak dapat dipisahkan dengan kata pembual, pemberi janji-janji palsu tanpa ada bukti.

Saya ingin mencoba masuk pada ide dasar adanya pemilu. Bagi saya, keberadaan pemilu ini adalah ajang eksistensi ide dan gagasan yang “universal”, tersusun secara sistematik dengan rumusan masalah atau fenomena yang terjadi di negara Indonesia. Artinya para anak bangsa yang terpilih sebagai calon pemimpin negeri ini seharusnya memiliki ide dan gagasan dengan guna menyelesaikan permasalahan yang terjadi didi tengah masyarakat. Dengan ajang pencarian solusi yang solutif itu, masyarakat Indonesia diberi peluang untuk menganasilis secara mendalam  ide dan gagasan dari calon dan menentukan siapa yang mereka yakini mampu menyelesaikan masalah yang ada di negara kita Indonesia.

Kita sudah berada dalam fase demokrasi liberal , dimana kita hanya perlu mengawal ide-ide dan gagasan yang tertuang dalam janji mereka, dan siap menarik turun mereka yang tidak menepati janjinya. Juga menjamin pemerintahan dan para anggotanya akan berpikir 1000x untuk membuat janji-janji palsu. Sedemikian sederhananya Sahabat. Lantas, perlukah kita membawa imanku dan imanmu dalam politisasi ini?

1 comment: Leave Your Comments

  1. Politik silent menjadi solysinya, diam tidak ada apa2...eh.

    ReplyDelete