Taboo La Rasa "Segala Ke-Taboo-an Tidak Lahir Dari Ruang Kosong"




Hukuman atas pelanggaran terhadap sesuatu yang dianggap Tabu akan mendapatkan marah nenek moyang atau ada yang beranggapan akan mendapatkan kuwalat, bahkan sebagian orang mendapatkan hukuman moral berupa claim buruk sampai dikucilkan oleh masyarakat.

Banyak permasalahan yang menyangkut-pautkan yang bersifat Tabu dengan mitologi yang berkembang di daerah masing-masing. Namun, tahukah kalian apa itu Tabu? Tabu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah hal yang tidak pantas atau tidak baik untuk disentuh, diucapkan, dan sebagainya karena berkaitan dengan kekuatan supranatural yang berbahaya (ada resiko atau kutukan). Tabu bisa diartikan sebagai pantangan atau larangan.

Menurut Wundt, Tabu merupakan kode hukum tidak tertulis yang dimiliki manusia. Seperti halnya hukum, Tabu berisi batasan akan sesuatu dan bermaksud untuk menjaga. Tabu tidak semata-mata untuk membatasi hak asasi manusia, tetapi menjaga manusia dari hal-hal yang buruk. Tabu hampir sama dengan adat, yaitu sama-sama menjadi hukum yang tidak tertulis. Namun, bagi seseorang yang melanggar Tabu, kebanyakan orang percaya akan mendapat konsekuensi dari sesuatu yang dianggap gaib atau mistis. Setiap daerah memiliki nenek moyang yang berbeda-beda sehingga mitologi yang berkembang disetiap daerah kemungkinan besar juga berbeda. Ini sebabnya berbeda pula aturan Tabu dan konsekuensinya.

Sigmund Freud dalam karyanya Totem & Taboo, mengungkapkan bahwa ada tiga macam Tabu yang melekat pada masyarakat primitif di Amerika dan Afrika, yaitu perlakuan terhadap musuh, kepala suku, dan orang mati. Seseorang yang telah membunuh musuhnya akan dianggap sebagai pelanggar Tabu. Jika dia tidak melakukan penyucian, dia akan mendapatkan konsekuensi. Kemudian, sesuatu yang dianggap Tabu terhadap kepala suku atau penguasa memiliki konsekuensi yang lebih besar. Dulunya, penguasa dianggap sebagai seseorang yang mengatur jalannya dunia bahkan ada yang menganggapnya orang suci atau dewa. Jadi akan banyak batasan-batasan yang harus dipatuhi. Misalnya, penguasa tidak boleh keluar atau meninggalkan singgasana tanpa pengawal. Sedangkan Tabu pada orang meninggal adalah semacam batasan seseorang setelah memegang atau menguburkan jenazah. Pelaku atau seseorang yang telah menyentuh jenazah, mereka dilarang menyentuh makanan. Mereka harus diberi makan oleh orang lain. Rasionalnya, segala macam Tabu diatas adalah suatu bentuk menghargai dan menghormati seseorang. Kita dituntut untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, seperti memiliki rasa senasib.

Dari Barat, kita beralih ke Indonesia. Tabu di Indonesia bisa disebut dengan Gugon-Tuhon. Gugon-Tuhon adalah petuah turun-temurun yang disampaikan orang tua kepada keturunannya secara lisan. Dalam Gugon-Tuhon, terdapat suatu pesan implisit yang ditutup dengan rapat. Zaman dahulu, Gugon-Tuhon ini adalah cara yang ampuh untuk melarang anak-anak melakukan atau mengucapkan sesuatu dengan konsekuensi yang menakutkan tentunya berhubungan dengan unsur mitologi daerah masing-masing yang sudah mendarah-daging disetiap penduduknya. Hal ini dilakukan karena mengingat dulunya kepercayaan terhadap mistis lebih besar dari era sekarang. Sebagai contoh, Ojo lingguh ing ngarep lawang, mengko jodone suwe ora moro (Dibacajangan duduk di depan pintu, nanti jodohnya tidak kunjung datang), padahal kalian menghalangi orang yang lewat. Selanjutnya, Ojo ngidone sumur, mengko lambene suwing (Dibaca: jangan meludah di sumur, nanti bibirmu sumbing), Sumur adalah tempat air bersih yang biasanya digunakan untuk memasak, jadi sama halnya kalian menelan ludah yang telah kalian muntahkan.

Maraknya sesuatu yang dianggap Tabu yang beredar di zaman dahulu, tidak menampik kemungkinan bahwa manusia di zaman Modern juga terkena imbasnya. Kepercayaan-kepercayaan terhadap sesuatu yang Tabu masih diyakini oleh beberapa masyarakat di zaman Modern. Sadar atau pun tidak, mereka telah melakukannya sekarang. Misalnya saja mengenai makan, ungkapan-ungkapan yang terlintas ketika tidak menghabiskan makanan adalah “nanti ayamnya mati”, istilah tersebut merupakan warisan dari orang tua terdahulu atau dari leluhur, sehingga melakukan “makan atau memakan suatu makanan yang berujung menyia-nyiakan dengan cara disisakan setelah itu dibuang” merupakan perilaku yang dianggap Tabu. Meskipun secara rasional ini tidaklah masuk akal, tetapi yang merupakan warisan tetap haruslah dihargai. Sebagai layaknya daging berakal, mengahargai warisan bukanlah aib. Justru karena berakal, memanfaatkan akal untuk menangkap maksud baik dalam pesan implisit Tabu itu penting. Karena berakal itu pula, meminimalisir hujatan terhadap sesuatu yang dianggap Tabu adalah suatu perbuatan yang bijaksana.

Tabu bukanlah suatu penjara dalam tindakan maupun ucapan. Tabu adalah pesan implisit yang disampaikan oleh orang terdahulu secara halus. Dengan adanya Tabu, kita akan terlindungi, terjaga, dan akan merasa aman dari hal-hal yang negatif.

Post a Comment

0 Comments