Romansa Ber-Tuhan Menjadi Manusia Seutuhnya

ad+1



Pernahkah kalian merasakan kenikmatan dari sebuah “cinta” (Dibaca: perasaan yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata dan logika)?, Pernahkah kegundahan ikut serta hanyut dalam “cinta” yang kalian rasakan?, dan semestinya manusia biasa, Pernahkan kalian merasa sangat senang saat mendengar nama kekasih (Dibaca: orang yang di”cinta”/buah hati: tempat mencurahkan isi hati)?, Tentunya sebagian pembaca pernah mengalami, atau bahkan sampai menuai makna diri kedalam esensi sebuah kata “cinta”.

Disini mari kita belajar mengenal kata “cinta” akan dzat adikodrati atau sering disebut dengan “Tuhan”. Loh, kenapa belajar mengenal “Tuhan” segala? Toh, Tuhan itu diyakini keberadaannya saja sudah cukup. Sedangkan untuk mengenali sepertinya manusia akan sulit untuk menjangkaunya. Nah, untuk mencapai kepada titik “cinta” kita perlu namanya “kenal”. Bagaimana bisa mencapai pada taraf “cinta” kalau tidak “kenal”? Tuhan sudah mengenal manusia melebihi manusia itu sendiri, “loh” kok bisa? Karena pencipta lebih tahu segalanya tentang ciptaannya dan untuk apa diciptakan. Seperti selayaknya manusia menciptakan teknologi smartphone, yang selama ini sebagaimana fungsinya dan kegunaanya membuat gaduh netizen sampai perselisihan terjadi dimana-mana.

Memang benar, Tuhan itu diyakini akan keberadaannya secara esensial dan keberadaan secara eksistensial melalui ciptaannya. Tetapi,  apa kalian tahu Tuhan adalah penyebab konflik yang sedari dulu sampai sekarang terjadi dimana-mana? Bagaimana tidak! Kalian hanya mengetahui nama Tuhan yang kalian terima dari distributornya saja, seperti orang tua, guru dan masyarakat di lingkunganmu. Benar atau tidaknya ini hanya kalian yang tahu.

Secara tidak langsung manusia telah mengatributkan atau melegitimasi nama Tuhan seperti: Tuhan Allah SWT. atribut dari agama islam, Tuhan Yahweh atribut dari agama Yahudi, Tuhan Sang Hyang Widhi Wase atribut dari agama Hindu, Tuhan Allah atribut dari agama Kristen, Sang Hyang Adhi Budhi atribut dari agama Budda dan masih banyak yang lagi lainnya. Ketika mendengar penyebutan nama Tuhan pastilah akan memahaminya sebagai tuhan dari agama yang tekait yang diyakini masing-masing individu.

Nah, disinilah letak mengapa nama Tuhan sebagai pusat konflik sedari dulu, karena manusia-lah yang mengatributkan Tuhan dengan agama yang diyakininya dan menganggap agamanya-lah yang paling benar. Dengan begitu memahami dan mengenali Tuhan menjadi penting untuk manusia beragama. Istilah “ber-Tuhan” bagi keber-agama-an umat ber-agama menjadi sangat penting, bahkan umat “ber-Tuhan” sekarang ini banyak yang sudah menyerupai Tuhan dengan cara menghakimi umat “ber-Tuhan” lainnya dengan kata (Dibaca: kafir, sesat, dan berdosa), seolah sudah lupa jika mereka mahluk (Dibaca: manusia “ber-Tuhan”). Dengan penegasan lain manusia beragama pasti “ber-Tuhan” dan bukan Tuhan. Jadi, “ber-Tuhan” merupakan bentuk dari ke-ber-agama-an manusia dan menunjukkan sisi ke-manusia-annya atas dasar “cinta” kepada Tuhan, kepada manusia dan kepada alam semesta.

Dari sisnilah penulis ingin mengajak para pembaca untuk beromansa dengan Tuhan, Tuhan sejatinya hanya satu. Apapun penyebutan nama Tuhan, dimana-pun tempat kamu menyembah, Tuhan akan selalu ada dan tetap satu meskipun banyak penyebutan. Bagaimana caranya? Seseorang akan merasa bahagia ketika melihat, mendengar, merasakan, mengecup kekasihnya. Itu karena manusia memiliki Hormon Oksitosin yang menyebbkan rasa gembira, senang dan bahagia jika kekasihnya disebut atau mendengar  kisah “cinta” orang lain. Perasaan bahagia lahir dari “cinta” (Dibaca: sebuah kata yang mewakili perasaan terhadap orang yang didambakannya). Pecandu “cinta” akan memanggil kekasihnya dengan penyebutan (Dibaca: sayang, beb, dinda, kanda, mas, adek, endhel, bawel, khumairoh, abi-umi, dll.) indah bukan romansa dari dua orang yang saling men”cinta”?.

Ketika dalam hubungan pastinya akan memliki bumbu-bumbu yang mem-bikin hubungan akan semakin syahdu dan sedap tentunya bukan bumbu dapur. Tetapi, esensial dari rasa bumbu dapur bisa menjadi bumbu dari “cinta”, seperti: cemburu, egois, marah, sedih, senang, gundah, galau dan rindu. Lika-liku cerita “cinta” akan membuat cerita sendiri dalam kehidupan masing-masing. Oh iya, bagaimana kita bisa beromansa dengan Tuhan? Kuncinya terletak pada hati dan akal, seperti contoh menyebut kekasih dengan nama apapun yang membuat kalian merasa bahagia. Begitu juga dengan Tuhan, Tuhan hanya satu tetapi manusia yang men”cinta” dengan Tuhan menyebutnya dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan jalan cerita “cinta”nya yakni “agama”.

“cinta” bagaimana kamu akan men”cinta” bila kamu sendiri tidak mengetahuinya, wahai abdi “cinta”.

Kata-kata tersebut mencerminkan sebuah ungkapan untuk mengetahui, memantaskan, memperjuangkan sebuah “cinta” dengan pujaan hati. Begitu juga dengan Tuhan! Kita tidak akan tahu Tuhan sebelum kita mengetahui (Dibaca: Siapa aku?  dan Siapa Tuhan?). Ketika sudah mengetahu itu, sebuah romansa “cinta” Tuhan dengan “aku” akan terjalin dengan ikatan suci tanpa noda dan dusta diantara kita. Karena Tuhan adalah maha “cinta” dengan segala penyebutannya.

0 Comments: