Menguak Puzzles dalam "The Puzzles of Life"

ad+1


Penulis Buku The Puzzles of Life
Alhamdulillah, puji syukur terlangitkan kepada kemaharahiman Allah, Tuhan seru sekalian alam yang memberikan saya kesempatan untuk berdiri hingga titik ini. Salah satu yang ingin saya bidik adalah, saya diizinkan untuk menerbitkan karya. Juga, terima kasih tak lupa terucapkan kepada tim dekret.id yang memberikan ruang kepada saya untuk sekadar mengenalkan secuil catatan yang sudah terdokumentasi dalam bentuk buku ini.

Mungkin boleh, ya jika saya sedikit cerita. Mulanya, saya sudah berjanji dengan Mas Farid Hamka untuk menulis disini dengan durasi sekian waktu. Namun, malangnya saya belum bisa menepati itu. Sebuah permintaan maaf saya khususkan atas janji saya yang kandas kepada Mas Farid. Meski ter-delay, Alhamdulillah, catatan ini masih diterima.

Sebuah buku terbitan Quanta Elexmedia—bisa Pembaca dapatkan di Gramedia—dengan judul The Puzzles of Life: Memiliki Hidup Bermakna Melalui Impian, kebetulan ditulis oleh saya sendiri. Namanya saja karya pertama, mohon maaf jika kontennya masih belepotan di sana-sini. Idenya mungkin masih berjumpalitan, salto. Berbeda dengan Pembaca atau rekan-rekan lain yang mungkin sudah memiliki jam terbang tinggi dalam dunia olah kata. Meski begitu, (semoga) buku ini tetap mampu menghadirkan manfaat. Entahlah, meski secuil remah rengginang saja, atau malah sebutir debu kontribusinya bagi Pembaca yang budiman, semoga, secuil itu bisa mengandung nilai berkah yang di kemudian hari bisa terlahir kemanfaatannya.

Kala itu, mungkin saya masih seorang bayi, namun sudah berani memiliki cita-cita gila, yakni ‘saya ingin berlari’. Seorang bayi yang baru saja terlahir ke dalam dunia kata, bercita-cita mampu menerbitkan karya. Padahal keilmuan tentang literasi masih sebiji atom, entah bagian proton, neutron maupun elektronnya. Akan tetapi, tekad telah bulat. Saya menantang diri saya sendiri. Sebelum diwisuda dalam studi saya, saya harus menerbitkan minimal satu buku. Cukup gila, memang. Namun, saya ikut memedomani kalimat dari Jacques Derrida, yakni “Mari kita mulai dari yang tidak mungkin.” Mendengarkannya pertama kali, saya tertohok. Seperti ada amunisi yang membabibuta membombardir semangat diri ini untuk bisa mewujudkan salah satu cita tersebut. Dan pada akhirnya, sebuah ketidak-mungkinan menjadi sebuah realita.

Setelah mencicip segelas anggur yang disuguhkan oleh dunia kata, saya mabuk. Seketika kenikmatan yang didapatkan tidak ingin ditinggalkan. Saya tidak mau berhenti menenggak hal yang bisa menuntun saya kepada tujuan. Sebab dunia kata menawarkan lajur jalan yang bisa mengantar menuju tujuan.

Akhirnya, terwujudlah sebuah skema di mana tidak ada hari untuk tidak menulis. Karena menulis membutuhkan nutrisi, mau tidak mau diri juga membaca. Sebab, mengutip ungkapan Dr. Ngainun Naim, M.H.I. bahwa menulis tanpa membaca, bisa jadi tulisan kita kering dan tidak sarat makna. Meski masih pemula, boleh dong ya bercita-cita mampu memiliki tulisan yang berkelas. Entah kelas satu ataupun kelas nol. Bermula dari harapan memiliki karya yang berkelas itu, maka buku atau apapun yang bisa memerkaya inspirasi menjadi santapan wajib ketika inspirasi mulai kendur.

Saya suka melabeli diri saya sendiri dengan istilah ‘gila’ dengan impiannya. Di Jawa, mungkin begini kalimat yang mewakilinya, “Pokoke yen uwis duwe karep, ora kena diengkuk”—Jika sudah memiliki kemauan, tidak bisa ditangguhkanAlhasil, bergilalah diri ini pada impian itu.

Dalam buku The Puzzles of Life ini, penulis juga tentu saja mengulasnya. Salah satu subbab memiliki judul ‘Be crazy to get your dreams!’ Jadilah gila untuk menggenggam impian-impianmu. Pada paragraf ketiga dari quote, Pembaca akan disuguhi kalimat:

“Coba, apa namanya jika tidak gila ketika kita temui seseorang yang telah terjatuh ribuan kali, tetapi tetap bangun dan terus bangun sampai impiannya benar-benar tergenggam dalam tangan? Hanya orang yang benar-benar gila dengan tujuannya saja yang mau melakukan hal itu.” (h. 69-70).

Impian membutuhkan kegilaan. Akan lain cerita dan rasa ketika impian dipetik tanpa ada rasa gila. Gila itu apa coba? Memiliki pikiran yang berbeda dari kebanyakan orang. Jika semua orang di dunia ini berpikir bahwa ‘kita tidak mungkin bisa,’ maka menjadi gila sangat perlu. Gunanya mematahkan kungkungan pendapat tersebut dengan sebuah aksi. Kita ambil contoh Thomas Alfa Edison. Kurang gila apa beliau? Beliau, dengan penemuan sejenius itu dan merupakan orang yang membuat hidup kita bercahaya—dengan makna yang sebenarnya—telah dikeluarkan dari sekolah. Sekolah tidak menganggap bahwa ia memiliki potensi. Dengan tekun sang ibunda pun mendidik Thomas kecil. Pernah saya menemukan kalimat asyik sang ibu ketika Thomas bertanya, mengapa ia tak lagi masuk sekolah seperti kawan-kawannya? Sang ibu pun menjawab, “Engkau terlalu pintar. Sekolah tidak mampu menangani kepintaranmu. Mulai hari ini, biarkan ibu saja yang mendidikmu.” Kegilaan tersebutlah yang kemudian membuat mereka rela berpeluh dan berjuang. Tidak mudah, tentu saja sebelum meraih puncak kegemilangan. Maka, patut juga bagi kita untuk mengirikan bagaimana mereka menebas belukar yang menghadang. Bagaimana cara mereka bertahan dari batu yang menggelinding dari atas, maupun lereng yang curam. Dan beragam perjuangan yang membutuhkan kegilaan lainnya.

Begitulah, buku ini sebenarnya juga berangkat dari kegilaan si penulis untuk berkontribusi dalam dunia kata, dan mewujudkan cita dalam bentuk aksi, satu demi satu. Penulis juga mendapatkan amunisi, bahwa untuk menjadi penulis, tugas penulis ya menulis, menulis, menulis, menulis, menulis dan menulis. Tanpa menulis, seseorang tidak akan pernah bisa menjadi seorang penulis. Dan, saya menyukai konteks dan konten dalam percakapan ini. Ketika ada yang bertanya, “Kamu ingin menjadi penulis, ya?” “Ah tidak.” “Loh, benarkah?” “Benar. Karena saya adalah penulis itu sendiri.”

Jadi sebenarnya, buku ini dan isinya merupakan wujud dari kegilaan saya. Mengapa? Saya memiliki sebuah cita, semoga di sisa usia yang kita tidak pernah tahu kapan Tuhan memanggil kembali untuk pulang ke kampung halaman, ke rumah, detik yang sedikit ini setidaknya mampu memberikan dan menebarkan kemanfaatan. Tidak lain dan tidak bukan, syair Maulana Jalaluddin Rumi juga membius diri. “Di dunia ini, jangan engkau tanam, kecuali cinta.” Maka, sebuah raya bagi saya bisa menemukan puzzle demi puzzle yang mencoba mengisi kehidupan diri ini. Sebuah hal yang raya ketika saya menemukan saya. Dan, siapa tahu, proses ‘menemukan saya’ ini bisa sedikit membantu Pembaca dalam ‘menemukan saya’ juga. Begitu saja. Salam.


Blitar, 24 Maret 2019

Penulis Buku The Puzzles of Life

0 Comments: