Latest Posts

Hidupku, Otoritasku

2 comments:

Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Judul buku                  : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur

Penulis                         : Muhidin M. Dahlan

Penerbit                       : ScriPtaManent

Kota terbit                   : Yogyakarta, 2005

Tebal buku                  : 269 halaman

ISBN                           : 979-99461-1-5

Ini bukan kali pertama saya meresensi buku karya Muhidin M. Dahlan. Tapi ini kali pertama saya meresensi bukunya yang bernuansa memoar. Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur, buku yang dari judulnya saja sudah menarik pembaca, apalagi isinya.

Mungkin karena pernah membaca karya Nawal El Sadawi, Perempuan di Titik Nol, saya kira isinya hampir mirip. Keduanya sama-sama mengisahkan perempuan yang dikukung agama dan tradisi, kemudian memberontak dengan menempuh jalan pelacuran. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak isi dari buku fenomenal Muhidin ini.

Penulis menggambarkan tokoh utama sebagai seorang perempuan bernama Nidah Kirani yang begitu antusias dengan dunia barunya, Islam Kaffah. Ia berambisi untuk belajar Islam sesuai dengan Syariat Islam, Alquran dan Hadits. Mulai dari belajar dengan Rahmi, teman sepondoknya tentang ibadah. Kemudian membuat komunitas bernuansa diskusi Islam dan bergabung dengan Jemaah Islam.

Dalam perjalanannya, Kiran telah merasakan pasang surut keimanan. Semakin ia mengenal jemaahnya, semakin ia merasa santai. Ibadahnya tidak seruntut dulu. Hingga ia memutuskan untuk hijrah ke desanya. Mulanya memang berjalan lancar, hingga akhirnya ia diusir karena ajarannya yang dianggap membahayakan.

Sejak awal, di dalam jemaahnya sendiri, Kiran merasa janggal. Bagaimana titak, ia tidak tahu-menahu tentang sejarah pergerakan jemaahnya. Ia pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan jemaah yang dianggapnya vakum tanpa pergerakan yang berarti.

Namun, Kiran malah semakin terhempas jauh dari kehidupan yang sebelumnya ia anggap putih. Ia merasa tercerabut dari akar-akar kesalehan. Kiran yang sekarang berbeda. Ia lebih berani berjalan di jalan hitam dan tegas menyalahkan Tuhan untuk itu. Karena semua-muanya adalah bentuk kekecewaannya terhadap Tuhan. Ibadahnya, jihadnya, infaknya, dan segala tentang Tuhan tak ada guna lagi, sia-sia.

Dan inilah Nidah Kirani yang sekarang. Tumbuh menjadi perempuan yang mendobrak ketabuan agama dan tubuh. Ia buktikan kepada Tuhan bahwa ia dapat melanggar syariat. Ia berubah menjadi perempuan perokok, kalong (begadang), bermain dengan laki-laki, dan menanggalkan virginitasnya.

Karena, bagi Kiran, laki-laki sama halnya denga Tuhan. Mereka sama-sama memperdaya perempuan dengan kekuatannya. Maka dari itu, setelah menerjang ketabuan Tuhan, ia tak segan untuk mematahkan kekuatan laki-laki. Laki-laki, menurut Kiran, tak ubahnya manusia berselimut baju. Kekuatannya hanya terletak pada apa yang ia kenakan. Apabila yang ia kenakan itu tertanggal, maka laki-laki tak ada apa-apanya.

Kiran menganggap bahwa semua laki-laki sama saja. Mereka hanya terlihat memukau disampulnya. Secerdas, tangkas, saleh, dan sememukau apapun laki-laki, mereka akan lemah karena tubuhnya, tubuh perempuan.

Hingga Kiran percaya bahwa kematian adalah klimaks dari pemberontakannya. Masalah yang menghujamnya secara bertubi-tubi membuatnya semakin garang dalam melawan Tuhan. Ia menyerang Tuhan dengan meminum pil dan soda untuk mengakhiri peperangannya dengan Tuhan. Dan akhirnya ia mengaku kalah, Tuhan menang atas nasibnya.

"Aku telah menjadi orang lain. Menjadi diri sendiri adalah neraka. Menjadi orang lain adalah siksa." (Nidah Kirani)

Setelah percobaan bunuh dirinya itu, Kiran mulai menerawang jauh kebelakang. Bagaimana orang lain dengan lihai mendefinisikan dirinya. Bagaimana ia terbahak atas masa lalunya. Dan beginilah Kiran, hidup dalam hitam dan putih.

Hingga suatu waktu, ia dipertemukan dengan pernikahan. Namun, ia menolak dengan tegas hal itu. Baginya, pernikahan hanyalah sekat untuk kita berekspresi setotal-totalnya, semau-maunya. Dan Kiran tidak suka itu.

"Nikah bagiku adalah pembirokrasian ego negatif dari cinta, yakni ego kepemilikan total yang berarti sebuah pemerkosaan dan pemenjaraan sumber energi cinta yang dimiliki seseorang." (Nidah Kirani)

Dan bagi Kiran cinta itu omong kosong. Dan titik klimaks dari cinta adalah seks. Setelahnya? Bukan apa-apa. Dengan ini, Kiran bertekat menjadi seorang pelacur.

"Lain ketika aku melakukan semuanya dengan cinta, aku tidak mendapatkan apa-apa. Semuanya terkuras: raga, jiwa bahkan pikiran. Cinta hanya melemahkan kekuatan, mebjajahi diri." (Nidah Kirani)

Baginya, menjadi seorang istri tak ubahnya seperti pelacur gratisan. Istri akan digunakan suaminya tanpa tarif, diperbudak. Sedangkan pelacur, punyak hak penuh atas dirinya dan mendapatkan tarif yang tak remeh setelahnya.

"Lain ketika aku menjadi pelacur. Aku bisa memertahankan diriku, melawan, dan tak pernah lengah. Dengan menjadi pelacur paling-paling yang kuberikan kepada lelaki hanyalah sekecumik daging tubuhku. Lainnya tidak." (Nidah Kirani)

Setelah itu, Kiran dihadapkan dengan problematika keluarga yang menjeratnya. Namun, ia memilih pergi untuk sekedar melupakan hal ini. Ia pergi jauh ke suatu tempat untuk menenangkan dirinya, menerawang jauh, dan menertawakan masa lalunya.

Dan lagi, kekecewaannya terhadap Tuhan mengepul. Kiran menyebut bahwa Tuhan-lah sebab dan ia adalah akibatnya. Apapun yang ia lakukan sekarang, baik-buruk, bukan salahnya, tapi Tuhan, sebab dari akibatnya.

Penulis benar-benar menyuguhkan tulisan yang mengagumkan. Mungkin karena diangkat dari kisah nyata dan berlatar di Indonesia, yang mana sarat akan tabu tubuh dan sensitif agama, cerita ini nampak berani. Yah, meskipun tak sefrontal tulisan Barat, tapi cukuplah membuat pembaca takjub akan pesannya.

Read More

Pemilu dalam Hemeneutik Dilthey

No comments:

 

Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Akhir-akhir ini nampaknya dunia sedang ditaburi nuansa pemilihan umum (Pemilu). Bau-bau kampanye pasangan calon (Paslon) nampaknya telah tercium. Pun dengan rentetat skeptis akan visi dan misi yang tak kalah menyengatnya.

Kalau berbicara tentang Pemilu, belum afdol rasanya kalau tidak mengulik aksi-aksi unik masyarakatnya. Di antara dari mereka pasti ada saja yang menggebu-gebu tentang Paslon pilihannya. Entah apa yang membuatnya demikian, pasti ada saja yang skeptis atau optimis pada visi dan misi, sampai pada "bodo amat" tentang Paslon.

Lantas, mengapa masih ada saja visi dan misi Paslon yang acap kali diragukan? Mengingat mayoritas Paslon selalu berkobar-kobar dalam menyampikan visi dan misi. Pasalnya, setelah terpilih dan menjadi ketua atau wakil, mereka lupa visi dan misi, kemudian lupa diri. Inilah yang membuat masyarakat skeptis pada visi dan misi yang diusung Paslon. Jangan-jangan itu hanya bualan belaka untuk menggaet hati masyarakat lagi. Atau parahnya, ada kepentingan lain yang lebih ekstreme lagi dari itu. Siapa yang tahu?

Tetapi, tidak jarang dari masyarakat yang fokus pada visi dan misi Paslon. Mereka bahkan mampu mengritisi visi dan misi itu. Tidak jarang pula hal ini malah dijadikan perbandingan, sekaligus acuan dalam Pemilu.

Lebih lugu lagi, masyarakat akan "bodo amat" dengan visi dan misi. Bagi mereka yang terpenting adalah siapa yang memberikan uang dan keuntungan. Paslon yang "baik" pada masyarakat, maka ia yang mendapat "berkat".

Lantas, apa yang harus dilakukan agar tidak tertipu mulut manis Paslon, atau setidaknya masyarakat bijak dalam Pemilu? Wilhelm Christian Ludwig Dilthey punya cara untuk problematika ini. Tokoh hermeneutik modern ini mengusung hermeneutik ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan sebagai cara untuk memahami ungkapan-ungkapan kehidupan manusia, khususnya kehidupan batiniah. Dalam konteks ini tentunya Pemilu, masyarakat dapat menerapkan hermeneutik Dilthey.

Hermeneutik Dilthey bermaksud untuk melawan positivisme, yang mana manusia selalu dipahami dari segi lahirnya atau kenampakannya saja. Positivisme terlalu ikut campur dalam hajat hidup masyarakat, mengaburkan dan mengacaukan sisi batiniah atau esensi kehidupan sosial. Baginya, seakan-akan masyarakat dapat dikalkulasi dan apapun dapat diperhitungkan.

Dalam kasus Pemilu ini, misal, ada beberapa masyarakat yang fokus pada visi dan misi Paslon, atau uang yang didapatkan, tanpa tahu sesuatu dibaliknya. Inilah salah satu kelancangan positivisme. Ia seolah-olah dapat menyelesaikan problematika Pemilu hanya lewat visi dan misi atau uang, yang mana masuk dalam lahiriahnya. Padahal, ada sisi batiniah yang perlu dipahami untuk bisa menjadi pertimbangan dalam Pemilu.

Lantas, bagaimana kita tahu batiniah Paslon? F. Budi Hardiman dalam bukunya yang bertajuk Seni Memahami menyatakan bahwa ada dua hal yang perlu kita pahami untuk mengetahui kehidupan batiniah Paslon. Pertama, lingkup atau kehidupan di sekitarnya yang berpengaruh. Misal, Paslon tinggal di lingkungan agamis, ia terkenal sebagai pengurus pondok, aktif berorganisasi, dan lain sebagainya. Sehingga cara berpikirnya, perilakunya, dan cara hidupnya kurang lebih sama dengan lingkupnya.

Dengan ini, setidaknya kita hanya terpaku pada visi dan misi yang diajukan Paslon. Mengingat betapa berpengaruhnya lingkup pada kehidupan Paslon. Ia tidak akan jauh-jauh dari pengaruh lingkup.

Kedua, empati kepada Paslon. Kalau Schleirmacher dalam hermeneutikanya, kita harus memasuki dunia batiniah Paslon dengan introspeksi, maka Dilthey berbeda. Ia lebih menyarankan untuk interpretasi. Menurutnya, kita tidak bisa memahami orang lain dengan seolah-olah menjadi orang itu.  Kita tidak akan pernah bisa membayangkan atau merenungkan untuk menjadi orang lain. Jadi, cara yang paling ampuh adalah dengan interpretasi atau menafsirkan pemahaman atas ekspresi kehidupan seseorang.

Lantas, bagaimana cara kita nginterpretasi Paslon? Dilthey menyebut bahwa kita perlu melakukan studi terhadap data tentang Paslon. Selain itu, ketahui konteks berdasarkan maknanya.

Misal, dalam konteks ini adalah memilih Paslon. Tentu kita tidak akan menjadi Paslon hanya untuk memastikan pilihan kita benar. Pasalnya, kita juga tidak akan pernah benar-benar bisa menjadi orang lain. Maka dari itu, hanya lewat interpretasi atas data dan konteks berdasarkan maknalah, kita bisa berempati kepada Paslon. Seperti, apa prestasi Paslon, pengalamannya, studinya, serta kesusuaian visi dan misinya dengan keadaan sekarang ini.

Dengan hermeneutik Dilthey, kita mendapat alasan yang tepat untuk pilihan Paslon. Tidak lagi asal memilih karena uang, visi dan misi semata. Lebih dari itu, kita mengenali lingkup dan dapat menginterpretasi pilihan atas Paslon kita.

Read More

Menuhankan Buku? Belajar Hermeneutika Schleiermacher Dulu!

No comments:

Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Siapa bilang kalau buku itu selalu benar? Ia bahkan bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Namun, ada saja dari mereka yang seolah-olah menuhankan buku. Parahnya, percaya berlebihan kepada buku hingga buta realita.

Rupanya problematika ini bukan hal yang baru. Bahkan dari masa ke masa selalu ditumbuhi perkara serupa. Buktinya, seorang yang dijuluki sebagai bapak hermeneutika modern ini telah tertarik untuk menelitinya, Schleiermacher.

Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher, mashur dengan nama Schleiermacher. Ia terkenal dengan hermeneutika universalnya yang berusaha untuk memahami teks dari dua sisi, yaitu gramatis dan psikologis. Dengan harapan, adanya kesinambungan antara pembaca, teks, dan penulis. Sehingga pembaca benar-benar dapat memahami isi teks dan tidak menuangkan prasangkanya.

Bagi Schleiermacher, hermeneutika adalah seni untuk memahami yang diibaratkan sebagai fine art. Mengapa fine art? Karena untuk memahami sesuatu, seseorang memerlukan kepiawaian dalam mengatasi kesalahpahaman dan dilakukan dengan kaidah-kaidah tertentu pula. Nah, inilah letak “seni”-nya, seseorang memerlukan “kepiawaian” layaknya seniman yang menghasilkan fine art.

Oleh karena itu, kita perlu mengenali “apa, sih, maksud memahami dari sisi gramatis dan psikologis?”. Pertama, sisi gramatis fokus pada unsur-unsur bahasa teks. Artinya, memahami sebuah teks bertolak dari bahasa, struktur kalimat-kalimat, dan hubungan antara teks yang dibaca dengan karya-karya lainnya yang sejenis.

Misal, satu buku saja tidak cukup untuk dijadikan sumber rujukan. Mengapa demikian? Kita perlu membandingkan isinya dengan buku lain yang serupa atau sama genre, problem, dan topik bahasan. Tujuannya bukan untuk membandingkan buku mana yang lebih menarik, melainkan, apakah buku ini falid dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Jika dalam Hadist, apakah ini termasuk sahih atau daif.

Kedua, sisi psikologis fokus pada diri penulisnya. Artinya, memahami sebuah teks tidak cukup hanya melihat teksnya saja, melainkan menghadirkan kembali dunia mental penulis. Pembaca diharapkan seolah-olah mengalami kembali pengalaman penulis. Bukan emosinya, melainkan pikiran penulis.

Misal, ketika membaca buku terdapat kalimat-kalimat yang dianggap kasar. Sebagai pembaca yang memahami buku dengan melibatkan sisi psikologis, ia tidak akan mudah menjustifikasi buku tersebut dengan label tak layak baca. Pembaca akan melihat penulisnya, latar belakang penulisan buku, apa yang dipikirkan penulis dengan kalimat-kalimat di bukunya itu, dan lain sebagainya.

Lantas, sebagai pembaca yang bijak, manakah yang harus didahulukan? Memahami buku dari gramatisnya dulu atau psikologisnya dulu?

Schleiermacher menyebut, baik gramatis ataupun psikologis memiliki kedudukan yang setara dalam upaya memahami buku. Jadi, baik gramatis maupun psikologis perlu dilakukan secara bersamaan. Lantas, bagaimana caranya? Seperti yang ditulis F. Budi Hardiman dalam bukunya, Seni Memahami, Schleiermacher menyebut bahwa rasio manusia memiliki kekuatan “divinatoris” atau “intuitif”. Sehingga, pembaca dalam memahami teks akan mengambil alih posisi penulis agar dapat menagkap kepribadiannya.

Lalu, ketika kita ingin memahami kitab suci, misal, yang digadang-gadang sebagai wahyu Tuhan, apakah pembaca perlu menjadi Tuhan untuk memahami isi dalam kitab suci tersebut? Konyol, jelas tidak mungkin.

Schleiermacher menyebut, “Roh Kudus dapat berbicara melalui mereka hanya sebagaimana mereka sendiri berbicara.” (F. Budi Hardiman, Seni Memahami, h. 54)

Artinya, dalam memahai Kitab Suci, pembaca harus memahami konteks ruang dan waktu. Misal, peristiwa apa yang melatarbelakangi munculnya wahyu Tuhan itu? Kapan peristiwa itu terjadi? Di mana peristiwa itu terjadi? Sehingga, pembaca dapat menempatkan teks sesuai dengan konteks dan dari sinilah maknanya baru dapat dipahami.

Apakah dengan cara-cara memahami seperti yang dipaparkan di atas artinya pembaca dapat dikatakan beyond the writer? Tentu tidak. Pembaca tetaplah pembaca. Mereka tidak akan bisa memahami secara penuh melebihi penulisnya. Hanya saja, pembaca diharap dapat mengetahui hal-hal lain di luar isi buku yang ditulis penulis. Sehingga, pembaca tidak akan mudah terpengaruh atau percaya begitu saja terhadap isi buku.

Dari Schleiermacher, minimal kita bisa mengedukasi diri lah, ya, untuk tidak mengamini begitu saja buku-buku yang dibaca. Kita juga perlu selektif dan “memahami” buku dari sisi gramatis dan psikologisnya. Dengan ini kita bisa meminimalisir penuhanan terhadap buku, setidaknya bagi diri sendiri, syukur, deh, kalau ditularkan ke orang lain juga “seni memahami”-nya.

Read More

Urgensi Prespektif Perempuan dalam Sosiologi

No comments:

 


Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Term sosiologi identik dengan studi kemasyarakatan. Artinya, bukan hanya laki-laki yang terlibat dalam pembentukan masyarakat, melainkan juga perempuan. Lantas, mengapa hanya andil laki-laki saja yang ditonjolkan dalam sosiologi?

Seperti yang telah ditulis Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi, ia menyebut setidaknya ada lima tokoh penggagas sosiologi. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya, Auguste Comte, Emile Durkheim, Karl Marx, Max Weber, dan George Simmel. Apa sosiologi terkesan patriarki jika melihat semua tokoh penggagasnya adalah laki-laki?

Sebenarnya tidak masalah, baik laki-laki atau pun perempuan yang mengagas sosiologi. Permasalahannya terletak pada perspektif yang mereka usung di dalamnya. Lihatlah, bahkan dari kelima tokoh pengagas sosiologi, hanya Marx yang sempat mengusung isu perempuan. Itu pun hanya sekedar gambaran buruh perempuan yang dieksploitasi.

Belum lagi dalam babakan modern. Hampir semua tokoh sosiologi modern adalah laki-laki. Parahnya, ada suatu teori yang membuat saya geram. Teori ini diusung oleh fungsionalis dan strukturalis.

Fungsionalis dengan serampangannya menyebut bahwa sistemlah yang membentuk masyarakat. Ada kejanggalan? Jelas sekali bahwa fungsionalis seakan-akan menjadikan sistem sebagai subjek yang mengontrol objek (masyarakat). Sistem dianggap memiliki andil besar dalam terbentuknya masyarakat yang dinamis.

Sedangkan strukturalis juga tak kalah pamornya. Mereka beranggapan bahwa masyarakat dapat didefinisikan dengan bahasa. Salah? Bukan salah, melainkan kurang tepat saja. Mana bisa masyarakat hanya dapat dipahami melalui bahasa. Mereka, para strukturalis mungkin bisa menjabarkan bagaimana masyarakat kelihatannya. Namun, mereka sama sekali tidak akan pernah sampai menyentuh bagaimana esensi dari masyarakat.

Sebenarnya masih banyak sosiolog modern yang seakan-akan mendiskreditkan peran masyarakat, terutama perempuan. Namun, semuanya akan mendapatkan kritik dari aliran post modern nantinya. Mereka, para tokoh post modern akan mengembalikan subjektivitas masyarakat dari yang sebelumnya dianggap objek oleh tokoh-tokoh modern.

Sebelum post modern beraksi, sebenarnya sosiolog feminis telah lebih dulu mengusung perspektifnya ke dalam sosiologi. Tidak banyak, namun cukup untuk menyadarkan betapa pentingnya perspektif perempuan dalam sosiologi. Setidaknya, mereka cukup mampu untuk mendongkrak konstruk patriarki dalam masyarat pada masanya dan semoga setelah ini bisa selamanya.

Pertama, sosiolog feminis menekankan emansipasi dalam kajiannya. Mereka melihat banyaknya ketimpangan dalam masyarakat. Misalnya, dalam babakan mikro, masyarakat belum bisa mengerti dirinya sendiri. Kebanyakan dari mereka melihat dirinya dari sudut pandang orang lain. Masyarakat cenderung memenuhi standar dalam masyarakat meskipun mereka harus terbebani.

Belum lagi dalam ranah makro, kita ambil dunia kerja. Bisa dilihat dari dulu bahkan sampai sekarang, pemilik modal seakan-akan memiliki hak atas hidup buruhnya. Kalian bisa melihat keadilan atau ketimpangan di sini? Atau bahkan kalian melihat suatu kewajaran? Sial, hidup seseorang merupakan otoritasnya sendiri, bukan milik bosnya. Dan ini tidak bisa dianggap sebagai kewajaran.

Kedua, sosiolog feminis lebih condong pada masyarakat tertindas atau tersubordinasi. Menurut mereka, penting untuk mengetahui pendapat mereka dalam masyarakat. Mereka lebih bisa dipercaya, apa adanya, dan tidak ada manipulasi dalam hidupnya. Berbeda jika kita meminta pendapat kalangan atas, mereka cenderung hiperbola. 

Ingat tentang buruh yang tertindas dalam cerita Marx? Menurutmu dari mana Marx dan sahabatnya, Engels menemukan gagasan epik itu? Mereka bertemu dan berbaur langsung dengan kaum buruh. Mereka tidak serta merta menulis pengalaman kaum buruh, tetapi melihat dan mendengarkan pendapat dari kaum buruh.

Ketiga, sosiolog feminis mengembalikan subjektivitas masyarakat. Jelas saja, dari beberapa teori yang disajikan oleh sosiolog modern membuat sosiolog feminis kecewa. Bukannya membumikan sosiologi, namun mereka kelewat semangat untuk itu. Sampai-sampai lupa bahwa subjek dalam masyarakat adalah manusia itu sendiri, bukan sistem atau struktur pembentuknya.

Bagaimana? Sosiologi benar-benar butuh perspektif perempuan, bukan? Seperti yang digambarkan oleh sosiolog feminis, perspektif perempuan itu penting dalam membangun sosiologi. Bukan demi kepentingan perempuan saja, melainkan demi keadilan bersama dalam masyarakat. Panjang umur keadilan!

Read More

Masyarakat Tanpa Kelas ala Muhammad SAW dan Marx

No comments:

Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Judul buku: Muhammad SAW dan Karl Marx tentang Masyarakat Tanpa Kelas

Penulis: Munir Che Anam

Penerbit: Pustaka Pelajar

Kota terbit: Yogyakarta, 2008

Tebal buku: xx + 289 halaman

ISBN: 978-602-8055-39-0

Siapa sangka ada penulis yang terpikir untuk membandingkan pemikiran Muhammad SAW dengan Karl Marx. Apalagi ini terkait dengan masyarakat tanpa kelasnya. Yang mana keduanya memiliki cara yang berbeda, tetapi dengan tujuan yang sama tentang dihapuskannya kelas dalam masyarakat.

Munir Che Anam, dalam bukunya yang bertajuk "Muhammad SAW dan Karl Marx tentang Masyarakat Tanpa Kelas" mampu mengemas pemikiran kedua tokoh fenomenal ini secara epik. Meskipun pembahasan mengenai Muhammad SAW dan Karl Marx bukanlah sesuatu yang baru, namun pemikiran keduanya tentang masyarakat tanpa kelas adalah pembahasan yang belum pernah disinggung sedetail ini. Untuk lebih jelasnya mari kita simak pembahasannya yang terbagi menjadi empat bab dan kesimpulan ini.

Pertama, pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, telaah literatur, metode penelitian, dan alasan tentang penulisan buku. Penulis memberikan gambaran singkat tentang Muhammad dan Marx yang dianggapnya sebagai revolusionis pada zamannya. Kedua tokoh ini juga dinilai memberikan pengaruh yang besar dan ajarannya dianut hingga sekarang.

Selain itu, ada beberapa perbedaan mendasar terkait pengetahuan Barat dan Islam. Barat yang dinilai lebih humanis dan antrosentris. Sedangkan Islam yang lebih ke theosentris tanpa mengecualikan manusia. Jadi, antara keduanya memiliki keinginan untuk mengafirmasi peranan manusia. Namun, Islam tidak akan pernah bisa mengabaikan kekuatan Allah dalam segala hal.

Kedua, biografi Muhammad SAW dan Karl Marx. Seperti halnya biografi, dalam bab ini penulis merangkum biografi tokoh dari Muhammad SAW dan Karl Marx dari beberapa sumber. Penulis menyebut di awal bahwa tidak ada yang dapat melukiskan secara paripurna tentang riwayat kedua tokoh, terutama Muhammad SAW. Selalu ada buku-buku sejarah yang membingungkan dan kontradiktif dalam menuliskan sejarah.

Selain itu, ada latar geografis dan sosial yang membentuk karakter kedua tokoh. Muhammad SAW misalnya, di satu sisi ia tinggal di Mekkah dengan masyarakat yang terbilang homogen dan pusat perdagangan. Di sisi lain, Nabi hijrah dan mengenal Madinah dengan masyarakat yang heterogen dan daerah pertanian, perkebunan, serta bukit-bukit. Secara tidak langsung, latar belakang ini tidak hanya mampu membentuk karakter, namun juga akan memengaruhi cara pandang dan berpikir Muhammad SAW.

Pun halnya Karl Marx. Penulis menjabarkan biografi Marx dari kelahiran, keluarga, studi, pengalaman, hingga kematiannya. Tidak lupa pula, penulis mencantumkan nama-nama besar yang telah mempengaruhi Marx, seperti Hegel dan Engels. Selain itu, ada penjelasan tentang setting sosial yang memberikan andil dalam aksi revolusioner Marx dan penjabaran tentang karya-karya Marx dalam berbagai bidang, seperti filsafat, politik, sejarah, dan ekonomi.

Ketiga, prinsip-prinsip masyarakat tanpa kelas ala Muhammad SAW dan Karl Marx. Pembahasan bab ini dimulai dari pandangan Muhammad SAW tentang masyarakat tanpa kelas. Demi memperjelas pandangan masyarakat tanpa kelas, penulis menjabarkannya ke dalam beberapa kajian, yaitu tentang prinsip sosialisme dalam Islam, kepemilikan bersama, hak-hak tenaga kerja, upah buruh, dan kelas.

Prinsip sosialisme dalam Islam adalah pandangan tentang egaliter atau tumbuhnya masyarakat yang setara, tidak ada eksploitasi dan penindasan, masyarakat yang berkeadilan dan semangat persaudaraan. Premis ini memang bertentangan di zaman Muhammad SAW, yang mana masyarakatnya tersesat bukan saja dalam hal teologis namun juga ekonomi kapitalis. Oleh karena itu, banyak kaum yang menentang ajarannya bukan hanya karena teologi -bahkan masalah teologi bukan hal yang besar- namun karena dalam ajaran Muhamas SAW yang mengancam ketenangan kaum kapitalis.

Beberapa ajaran yang mengusik kaum kapitalis diantaranya adalah tentang kepemilikan bersama. Dalam salah satu Hadist Nabi disebutkan adanya kepemilikan bersama (air, makanan ternak atau tumput, api, dan lain sebagainya) tanpa mengabaikan tugasnya untuk menjaga dan menggunakan dengan bijak harta pribadi. Selain itu, ada ajaran tentang hak-hak tenaga kerja yang wajib dihormati, upah buruh yang sesuai dengan kesepakatan ledua belah pihak, dan kelas yang satu dengan dasar tauhid.

Pembahasan selanjutnya di bab ini adalah pandangan tentang masyarakat tanpa kelas oleh Karl Marx. Demi pemahaman yang lebih kompleks, maka penulis menjabarkqnnya dalam beberapa kajian, yaitu prinsip sosialisme, alienasi, kepemilikan, dan perjuangan kelas. Hampir sama dengan konsep masyarakat tanpa kelas dari Nabi, namun Marx sama sekali tidak melibatkan teologi di dalamnya (sekuler).

Dalam prinsip sosialismenya misal. Penulis menyebut bahwa Marx tidak pernah menyebut istilah sosialisme, melainkan Engels. Menurutnya, sosialisme adalah ideologi yang menginginkan adanya kepemilikan bersama, menolak kepemilikan pribadi, dan humanisasi. Ada pula pendapat yang menyebut bahwa dalam sosialisme, negara harus menjamin kemakmuran masyarakat.

Selanjutnya alienasi, kepemilikan atas barang produksi, dan perjuangan kelas adalah sebagian dari usaha Marx. Lagi-lagi kapitalisme menjadi dalang dalam problematika di atas. Keinginan Marx atas masalah itu adalah revolusi, menghancurkan kekuasaan negara yang menciptakan kelas, dan membangun masyarakat tanpa kelas.

Bab empat adalah analisis terhadap pemikiran Muhammad SAW dan Marx tentang masyarakat tanpa kelas. Keduanya sama-sama memainkan peran rasio dan indera dalam masalah ini. Namun, yang menjadi pembeda adalah, Muhammad SAW meyakini sumber pengetahuan adalah Allah, sedangkan Marx sama sekali tidak ingin melibatkan agama dalam urusan masyarakat. Marx tidak menolak atau anti terhadap agama, hanya saja ia geram dengan aktor yang menyalahgunakan agama sebagai alat kuasa.

Tidak lupa, penulis menjabarkan pengaruh kedua tokoh ini di Indonesia. Di negara yang mayoritas muslim ini, tidak mungkin rasanya pengaruh Muhammad SAW diindahkan begitu saja, apalagi terkait masyarakat tanpa kelas. Tentu saja ada beberapa golongan yang berapi-api menyuarakan sosialisme ala Muhammad SAW, seperti Syarikat Islam. Disusul oleh oleh pengaruh Marx tentang komunismenya yang juga dianut oleh Partai Komunis Indonesia.

Bab terakhir adalah kesimpulan. Bab ini berisi poin-poin yang diusung penulis terkait bukunya. Mulai dari konsep masyarakat tanpa kelas ala Muhammad SAW dan Marx, persamaan dan perbedaannya, serta pengaruh kedua tokoh di Indonesia.

Secara keseluruhan, topik dalam buku ini cukup menarik. Pembaca bukan hanya disuguhkan tentang pemikiran tokoh terkait mayarakat tanpa kelas, tetapi juga perbandingan sejarah. Yang mana akan memancing pembaca berpikir dua kali untuk mengamini kebenaran sejarah.

Read More

Pandemi Virus: Tentang Umat Manusia dan Masa Lalunya

1 comment:
Covid-nineteen, corona, pandemi, work from home, sanitizer, APD, dan lain-lain;

Nyatanya semua kata tersebut bak jadi keywords dan headline harian di media. Update perkembangan virus, berita kelangkaan APD dan alat-alat medis, masyarakat yang cenderung rewel dan persetan dengan protokol keamanan, dan sebagainya. Sebagai masyarakat, tentu kita jenuh dengan repetisi hal-hal tersebut dan berharap semoga semuanya kembali normal tanpa embel-embel new. Tapi tunggu, apakah semudah itu? Tentu tidak. Harus ada sinergi yang masif di berbagai lapisan untuk bersama-sama menahan laju pandemi agar tidak semakin dinamis. Tenaga medis bukan segalanya tanpa kebijakan pemerintah dan kepatuhan dari masyarakat. Maka dari itu, dengan mengedepankan rasionality dan humanity, masyarakat memang hendaknya manut tanpa perlu meributkan soal teori-teori konspirasi yang bisa jadi bias pikir semata.

Bicara soal pandemi sebagai mahasiswi yang non-medis, pikiran saya melayang jauh ke masa di mana dunia belum mengenal kata canggih atau teknologi atrificial intellegence. Saya teringat cerita soal pandemi di masa Romawi Kuno abad 4-5, kemudian wabah shirawayh dan amwas yang terjadi di masa kenabian Muhammad dan khilafah rasyidah, terus berjalan hingga pandemi paling luar biasa dalam sejarah Eropa -Black Death yang menghabisi hampir 1/3 penduduk benua biru, kemudian Spanish Flu yang menambah semarak dunia pasca Perang Dunia I, virus ebola di Afrika, MERS, SARS di awal abad 21, hingga berhenti di titik pandemi corona sejak akhir 2019 lalu.

Saya berpikir, berapa dan betapa lama umat manusia sudah berjibaku dengan pandemi dari masa ke masa, berikut cara penanganan yang seadanya pada masa itu. Garis waktu pandemi seperti ini seharusnya sudah memberi pelajaran dan hikmah yang implisit bagi umat manusia setelahnya, bahwa adanya virus dan pandemi bak siklus yang tinggal menunggu waktu tayang. Memang, seiring dengan dinamika zaman, teknologi dalam berbagai hal akan terus berkembang. Namun, tidakkah kita dapat belajar lebih banyak dari kasus-kasus sebelumnya? Terkait upaya preventif, kuratif, kondisi masyarakat, pengondisian wilayah, maupun kebijakan yang diambil?

Saya teringat akan berbagai kebijakan yang pernah diterapkan guna membendung pandemi pada masa itu, semisal wabah pes di Hindia Belanda sekitar abad 17-18. Pemerintah kolonial begitu gencar memberlakukan lockdown atas daerah-daerah yang terkena wabah. Patroli keamanan diberlakukan dengan ketat untuk memastikan tidak ada orang sakit yang berkeliaran ke luar daerah. Para jamaah haji yang baru pulang-pun tidak luput dari protokol pembersihan besar-besaran; seperti wajib membakar baju yang dikenakan selama perjalanan, sampai membuang barang bawaan dari tempat asing. Cara ini terbilang cukup efektif dalam menangani wabah, terlebih karena pemerintah kolonial enggan mengeluarkan banyak uang untuk urusan wabah terhadap kaum pribumi maupun orang-orang Eropa.

Kasus penanganan kedua yang saya soroti adalah Flu Spanyol tahun 1918-1919, di mana banyak negara sudah menerapkan protokol lockdown dan cukup efektif, maka sistem lockdown sempat dilonggarkan dan masyarakat kembali beraktivitas seperti semula. Namun sayangnya, kebijakan ini justru mendatangkan gelombang kedua pandemi dengan korban yang jauh lebih besar. Puluhan juta orang meninggal akbat wabah tersebut.

Pertanyaannya, seberapa banyak kita mau belajar dari masa lalu kita?

Ketimbang mempermasalahkan bias pikir teori konspirasi elit global yang jadi undercover dari pandemi, saya sendiri lebih senang menyimak perkataan atau perbincangan ahli atau tokoh global terkait pandemi, salah satunya Bill Gates. Dalam sebuah forum di TEDTalks pada awal tahun 2015 lalu, Bill Gates bicara banyak soal pandemi Ebola dan apa yang harus kita pelajari dari pandemi tersebut. Pada kalimat pembuka, ia sedikit mengomparasikan antara persiapan dunia menghadapi war dengan persiapan dunia menghadapi pandemic. Dunia bisa saja bersiap atas banyak hal untuk menghadapi perang; tentara yang terlatih, persiapan alutsista, logistik, bahkan pakta pertahanan -tapi nyatanya, perang tidak serta merta terjadi, terlebih di era kontemporer pasca Perang Dingin. Sebaliknya, Bill Gates menyindir ‘dangkalnya’ persiapan dunia untuk menghadapi pandemi-pandemi selanjutnya dengan musuh sekecil virus.

Apakah setiap negara sudah mengantisipasi terjadinya pandemi? Epidemologis bekerja lebih keras dan waspada? Atau, persiapan vaksin untuk kemungkinan-kemungkinan derivat virus baru di masa depan? Sebagai penutup, ia menyampaikan beberapa poin penting yang dapat menjadi acuan untuk menghadapi pandemi yang dapat datang sewaktu-waktu, seperti; 1) memperkuat sistem medis; 2) membuat korps siaga medis; 3) tenaga militer dan medis yang saling bersinergi; 4) membuat simulasi virus; dan 5) pengembangan penelitian yang mutakhir. Harapannya, dengan menyiapkan aspek-aspek tersebut secara lebih awal, kedatangan pandemi sudah dapat diantisipasi dengan berbagai upaya preventif dan lebih efektif dari segi penanganan.

Tapi sepertinya, negara kita -atau bahkan dunia- tidak belajar banyak dari masa lalu, termasuk apa yang dikatakan Bill Gates lima tahun yang lalu.

Tahun ini, Bill Gates kembali berkomentar banyak soal pandemi, termasuk menganalogikan pandemi corona sebagai perang dunia ketiga. Yang membedakan antara perang ini dengan dua perang dunia sebelumnya adalah dari segi lawan. Dari manusia versus manusia, menjadi manusia versus virus -dan ini jauh lebih sulit. Bicara soal vaksin virus, tentu tidak semudah membuat jamu masuk angin yang terbilang instan. Butuh waktu lama untuk riset, pengembangan, juga uji coba. Untuk saat ini, umat manusia hanya butuh untuk patuh atas berbagai protokol dan kebijakan, bukan ramai-ramai mencari celah konspirasi dan menabrak aturan.

Saat ini, sembari mencoba menguatkan diri untuk tetap mematuhi aturan dan berdamai dengan keadaan, saya berpikir panjang mengenai historical consciousness alias kesadaran sejarah. Harusnya, umat manusia bisa mengambil pelajaran atas segala sesuatu yang menimpa sebelumnya demi menciptakan keadaan yang lebih baik, tidak hanya asal tahu lalu berlalu. Tidak hanya perihal medis, tapi juga kebijakan, teknologi, dan segala aspek kehidupan, karena hakikatnya, history repeats itself. Sejarah akan berulang dengan pola yang sama, terlepas dari siap atau tidaknya umat manusia. Maka memang penting bagi kita untuk sadar sejarah, bukan hanya tahu sejarah dan bersikap seolah-olah paling tahu soal dunia.

Lantas, dari pandemi kali ini, apa yang akan dunia wariskan pada generasi setelahnya?
Read More

Sosiologi ala Feminis

No comments:


Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Sosiologi dan feminis merupakan dua term berbeda. Jika sosiologi mengarah pada studi tentang kemasyarakatan, maka feminis adalah orang yang mengkaji feminisme. Namun, dalam buku Teori Sosiologi karya George Ritzer, keduanya dapat dijadikan sebuah teori, yaitu Sosiologi Feminis.

Sebenarnya, tidak ada istilah pakem untuk mendefinisikan sosiologi feminis. Dari dua kata itu, kita bisa menyimpulkan bahwa sosiologi feminis adalah suatu teori sosiologi yang dikaji dalam perspektif feminis. Singkatnya, segala hal yang berhubungan dengan masyarakat akan dikulik berdasarkan perspektif feminis.

Seperti yang kita tahu, dari babakan klasik hingga modern, belum ada sosiolog yang menyentil perihal keadilan bagi perempuan. Semuanya hanya berputar-putar di dunia masyarakat, baik mikro ataupun makro. Meskipun Marx pernah menyentil babakan keadilan perempuan, namun hanya sebatas buruh perempuan. Ia belum menyentuh detail terkait perempuan, seperti beban ganda yang dialami perempuan di ranah domestik dan publik sekaligus. Maka dari itu, Ritzer mencantumkan sosiologi ala feminis di bukunya.

Menurut Ritzer, akar dari sosiologi feminis adalah ketimpangan dalam mengkaji perempuan dalam masyarakat. Kebanyakan sosiolog hanya menonjolkan peran laki-laki dalam masyarakat. Selain itu, hampir semua teori-teori yang disumbangkan untuk sosiologi merupakan perspektif laki-laki. Hal ini tentu saja semakin menyudutkan perempuan, yang mana mereka terlihat sama sekali tidak memiliki kontribusi dalam keilmuan, khususnya dalam ranah sosial. Padahal perempuan memiliki andil yang sama pentingnya dengan laki-laki dalam masyarakat.

"Para perempuan hadir di sebagian besar situasi kritis. Ketika mereka tidak hadir, itu semua bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan atau minat, tetapi karena telah terdapat upaya secara seksama untuk mengesampingkan mereka. Ketika mereka hadir, perempuan memainkan peran yang sangat berbeda dari konsepsi populer tentang mereka." (Ritzer, h. 488)

Untuk lebih jelasnya, kita perlu mengidentifikasi ciri-ciri teori sosiologi feminis. Pertama, sosiologi dengan pengetahuan feminis. Jika teori sosiologi klasik atau bahkan sampai sekarang didominasi perspektif laki-laki, maka Ritzer menyebut bahwa ada beberapa teori sosiologi dengan perspektif feminis. Artinya, dalam teori sosiologi memuat pengetahuan feminis.

Teori sosiologi dengan pengetahuan feminis ini tidak akan jauh-jauh pembahasan seputar keadilan peran dalam masyarakat. Ciri lainnya adalah pemaparan kasus dari aktor yang tersubordinasi, penjelasan tentang maayarakat secara objektif, baik laki-laki maupun perempuan, bukan hanya mampu menggambarkan aktor sosial, melainkan waktu dan tempatnya juga, serta hal-hal lain yang bersifat emansipatoris lainnya.

Kedua, tatanan makro sosial. Pembahasan makro bertalian erat dengan dunia kerja. Menurut Ritzer, feminis mengecam keras penalaran tokoh fungsionalis yang mengganggap masyarakat sebagai sistem. Jelas saja, feminis tidak ingin melihat manusia sebagai objek yang digerakkan. Bagaimana pun, manusia adalah subjek dalam masyarakat.

Selain itu, dalam dunia kerja, sosiolog sering menggaungkan nama dominasi dan subordinasi. Premis ini mengacu pada tindakan pemilik modal yang memiliki hak atas kehidupan buruh. Padahal, baik pemilik modal maupun buruh itu sama-sama aktor dalam masyarakat. Mereka berhak atas kehidupannya masing-masing. Perbedaannya hanya terletak pada cara posisi kerjanya.

Oleh sebab itu, feminis menginginkan keadilan dalam masyarakat, tak terkecuali dalam dunia kerja. Seperti yang dilakukan oleh Patricia Hill Collins, seorang sosiolog feminis yang gencar sekali menyuarakan keadilan dalam dunia kerja. Ia bahkan sampai turut andil untuk menyuarakan keadilan untuk perempuan kulit hitam (dulu dianggap kasta paling rendah di Barat) untuk bebas bekerja di mana pun mereka mampu.

Ketiga, tatanan mikro sosial. Tatanan ini berkaitan dengan psikis perempuan ataupun laki-laki. Jika konstruk menyebut perempuan untuk tunduk dan patuh pada laki-laki, maka feminis menyangkal akan hal itu. Perempuan bebas untuk melakukan apapun yang mereka kehendaki dengan tidak menimbulkan kerugian, setidaknya untuk dirinya sendiri atau masyarakat.

Pun halnya dengan laki-laki. Konstruk menginginkan laki-laki untuk kuat dan bisa dalam segala hal terutama dalam urusan publik. Feminis tentu saja menolak untuk itu. Laki-laki berhak atas dirinya sendiri dan bebas melakukan apa pun, selama mereka tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Sungguh, baik laki-laki maupun perempuan, mereka punya otoritas dalam dirinya sendiri. Demi apa pun, konstruk tidak perlu repot-repot mendikte mereka untuk melakukan hal-hal yang membebani mereka.

Serupa dengan yang dialami oleh Dorothy E. Smith. Ia adalah perempuan yang hidupnya dikelilingi oleh stigma tentang janda. Smith kemudia mampu speak up dan mengajak orang lain untuk berani memiliki otoritas dalam dirinya. Lantas mengapa jika ia janda? Ia hidup dengan nyaman dengan statusnya dan bahkan ia mampu menciptakan karya dengan begitu gemilang di tengah-tengah masyarakat. Ialah bukti dari kebanggaan atas hidupnya sendiri.

Keempat, subjektifitas dalam pengalaman sosial. Sosiolog feminis melihat beberapa masyarakat yang kehilangan subjektifitas akan dirinya. Mereka cenderung melihat dirinya dari sudut pandang orang lain. Oleh sebab itu, harapan sosiolog feminis ini adalah mengembalikan subjektivitas diri dengan respect pada diri dan berhenti mendengarkan standarisasi orang lain terhadap dirinya.

Terakhir, integrasi dalam sosial. Jika masyarakat terlihat menganut atruktur patriarki, maka keinginan sosiolog feminis adalah emansipasi. Dengan ini masyarakat berhenti untuk terus melihat stratifikasi dan mulai untuk berintegrasi.

Dari beberapa hal di atas, saya kira masyarakat akan mampu hidup dengan lebih baik dengan adanya keadilan seperti yang diungkapkan sosiolog feminis. Namun, keadilan tidak akan mampu dicapai jika hanya perempuan yang bergerak. Semua lapisan masyarakat perlu ikut andil demi terwujudnya keadilan. Dengan ini masyarakat berkeadilan akan terealisasi dan bukan hanya dalam narasi saja.

Read More

Etnometodologi: Peduli Praktik Sepele

No comments:

 


Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Belajar tentang sosiologi pastinya tidak akan jauh-jauh dengan masalah mikro-makro. Namun, tidak semua yang dibahas di dalamnya melulu tentang itu. Ada yang lebih memfokuskan perhatiannya pada praktik sepele dari masyarakat dari pada sibuk dengan urusan mikro-makro, sebut saja Etnometodologi.

Menurut George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi (terj., 2017) menyebut bahwa etnometodologi adalah pengetahuan, prosedur, dan pertimbangan masyarakat untuk memahami, menyelami, dan bertindak dalam situasi yang sedang mereka hadapi. Singkatnya, studi yang dipublikasikan oleh Harold Garfinkel ini mencoba untuk menunjukkan praktik sepele dalam masyarakat. Hal ini terlepas dari apapun bentuk organisasi masyarakat, baginya yang terpenting adalah praktik yang sedang dilakukan oleh anggota masyarakat.

Premis tersebut bukan hadir begitu saja. Sama seperti teori-teori sosiologi lainnya, etnometodologi Garfinkel dipengaruhi oleh fakta sosial Emile Durkheim. Jika fakta sosial Durkheim lebih memandang aktor sebagai sesuatu yang mudah dinilai. Maka etnometodologi lebih menganggap fakta sosial sebagai produk yang dibuat anggota. Artinya, etnometodologi memandang fakta sosial sebagai praktik-praktik yang dibentuk oleh anggota masyarakat dan tidak semua orang dapat mengetahui praktik sebenarnya, kecuali anggota yang terlibat dalam praktik tersebut. Hal ini terlihat lebih sepele dari pada apa yang diungkapkan oleh Durkheim.

Oleh sebab itu, kita perlu tahu ragam etnometodologi untuk melihat praktik-praktik sepele di dalamnya. Menurut Ritzer, ada dua ragam fundamental yang diusung Garfinkel dalam ragam etnometodologinya. Pertama, studi terhadap setting institusional yang di dalamnya terdapat praktik formal dan masyarakat perlu tahu itu. Kedua, analisis percakapan yang memuat interaksi dan komunikasi masyarakat sehari-hari dan tidak ada hal formal di dalamnya.

Dalam studi terhadap setting institusional tentunya berbeda dengan hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat di kesehariannya. Dalam institusi tentunya memuat hal-hal formal yang cenderung to the point. Hal ini semata-mata demi keefektifan dan meminimalisir kejadian di luar kontrol. Oleh sebab itu, Ritzer menuliskan beberapa contoh praktik dalam institusi, seperti wawancara kerja, negosiasi eksekutif, panggilan ke pusat gawat darurat, dan penyelesaian perselisihan lewat mediasi dengar pendapat.

Pertama, dalam wawancara kerja tidak mungkin ada percakapan yang terlontar begitu saja. Pastinya terdapat setting di dalamnya. Berbeda dengan percakapan sehari-hari yang terkesan spontan, dalam wawancara kerja terdapat pertanyaan yang telah disusun guna mendapatkan jawaban yang tepat, sesuai tujuan.

Kedua, negosiasi eksekutif juga demikian. Segalanya dilakukan secara matang, terukur, dan masuk akal. Seperti istilahnya, dalam negosiasi hanya bertujuan untuk mencapai kesepakatan final dan meminimalisir adanya perdebatan yan tidak logis yang membuang-buang waktu, tenaga, uang serta pikiran.

Ketiga, panggilan ke pusat gawat darurat yang berbeda dengan panggilan pada umumnya. Jika biasanya kita melakukan panggilan dngan mengawalinya dengan salam, menambahkan guyonan, dan memancing emosi, maka di panggilan darurat hanya ada ujaran serius yang to the point. Hal ini disebabkan karena panggilan darurat hanya berfungsi untuk mereka yang benar-benar dalam keadaan genting, seperti panggilan kepada ambulans ketika ada kecelakaan.

Keempat, penyelesaian perselisihan lewat mediasi dengan pendapat. Jika dalam keseharian kita terdapat cekcok yang begitu panjangnya, maka dalam mediasi akan mereduksi hal-hal semacam itu. Di sini mediator yang memiliki kendali penuh untuk mengatur perbedaan pendapat. Hal ini semata-mata guna meminimalisir percakapan yang sama sekali tidak perlu dan menyelesaian perdebatan secara final.

Berbeda dengan institusi, dalam analisis percakapan sehari-hari lebih menonjolkan sisi spontan. Pratik-praktik yang dilakukan anggota masyarakat tidak begitu terstruktur dan formal. Dengan ini Ritzer memberikan contohnya, seperti percakapan di telepon, memancing gelak tawa, mengundang tepuk tangan, cemooh, cerita, formulasi, integrasi berbicara dan aktivitas nonvokal, serta mengungkapkan rasa malu dan percaya diri.

Pertama, percakapan di telepon berbeda dengan percakapan secara langsung. Oleh sebab itu, percakapan di telepon akan menambahkan kata-kata dalam praktiknya, seperti ucapan salam, perkenalan, guyonan, dan penutup. Selain itu, seseorang yang menelepon tidak akan tahu bagaimana ekspresi dari lawan bicaranya seperti dalam percakapan secara langsung. 

Kedua, memancing gelak tawa adalah peristiwa yang bebas dalam percakapan atau interaksi. Namun, etnometodologi melihat bahwa dalam gelaktawa selalu melibatkan pengorganisasian di dalamnya. Meskipun gelak tawa muncul secara spontan, namun pembuat lelucon secara tidak langsung telah memikirkan sesuatu untuk bahan guyonan.

Ketiga, mengundang tepuk tangan. Hal ini adalah praktik sepele yang sering diabaikan oleh orang lain. Namun, etnometodologi melihat bahwa dalam tepuk tangan ada sesuatu yang ingin ditonjolkan. Hal ini seperti bentuk penegasan atas suatu percakapan. Misalnya, ketika seseorang telah memberi jalan keluar atas masalah, secara spontan beberapa dari kalian akan bertepuk tangan sebagai apresiasi, ungkapan terima kasih, atau bahkan penegasan atas kebenaran ucapan tersebut.

Keempat, cemooh adalah lawan sikap dari tepuk tangan. Jika dalam tepuk tangan berarti kamu menyetujui ungkapan, maka dalam cemooh kamu tidak sependapat untuk itu. Atau bisa jadi kamu kecewa atas ungkapan yang diberikan oleh lawan bicaramu.

Kelima, cerita akan muncul dalam beberapa percakapan. Etnometodologi mengamati beberapa orang dalam berinteraksi, kemudian ia mendapatkan beberapa hal termasuk cerita di dalam interaksi tersebut. Hal inilah yang nantinya akan mengundang percakapan akan terus mengalir dengan respon dari lawan bicara.

Keenam, formulasi adalah bentuk percakapan yang mana lawan bicara dapat menyimpulkan maksud dari pembicara. Artinya, pembicara mencoba untuk memahamkan lawan bicaranya. Dengan ini, lawan bicara akan menanggapinya dengan pemahaman yang mereka dapat dari apa yang dibicarakan.

Ketujuh, integrasi berbicara dan aktivitas nonvokal. Jika dalam percakapan memusatkan perhatiannya pada pembicaraan, maka dalam etnometodologi menambahkan fokus tersebut dengan aktivitas nonvokal, seperti gestur. Dengan ini, tidak hanya pembicaraannya yang dapat dipahami, melainkan dengan gestur kita akan lebih paham maksud dari percakapan tersebut. 

Kedelapan, mengungkapkan rasa malu dan percaya diri. Etnometodolog begitu yakin bahwa dalam percakapan kedua rasa itu selalu ada. Kita akan cenderung diam dan menghindari topik-topik percakapan ketika kita merasa malu. Sebaliknya, kita akan terus memancing lawan bicara kita dengan topik-topik tertentu ketika kita percaya diri dengan itu.

Dari beberapa contoh yang disebutkan oleh Ritzer, jelas sekali bahwa etnometodologi berbeda dengan fokus sosiologi klasik sebelumnya. Etnometodologi begitu tertarik terhadap praktik-praktik sepele yang dilakukan oleh anggota masyarakat. Namun, dengan ini etnometodologi membuktikan bahwa dirinya telah tumbuh menjadi tak terbatas dan kehilangan spesifikasi atas dirinya.

Read More

Erving Goffman: Peran Diri dari Konsep Dramaturgi

No comments:



“Seluruh dunia ini bukan panggung -sama sekali bukanlah teater.” (Erving Goffman, Frame analysis, 1974)
Ujaran tentang “jadi diri sendiri” telah marak bermunculan diberbagai kalangan masyarakat. Pasalnya sebagian dari mereka terlalu asyik mendalami peran orang lain. Hingga mereka lupa atau bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. Hal ini sangat disayangkan, bagaimana kita bisa menghargai diri sendiri jika kita sendiri tidak tahu atau mengenal diri kita sendiri?

Premis tersebut rupanya telah menjadi problematika masyarakat sejak dulu. Bahkan Erving Goffman, sosiolog kelahiran Kanada, 11 Juni 1922 itu tertarik untuk menelitinya. Ia membuat konsep tentang diri yang diberi nama “Dramaturgi”.

Dramaturgi adalah gambaran dari laku diri. Artinya, ada peran yang dilakukan oleh aktor dalam dua sisi, yang sebenarnya dan yang ditampilkannya. Singkatnya, diri ini memiliki dua sisi yang perlu untuk ditunjukkan kepada audiens (masyarakat) dan sisi yang harus disembunyikan dari audiens. 

Sedangkan Goffman menyebutnya sebagai peran di atas panggung dan peran di balik layar. Keduanya akan selalu melekat pada diri manusia dan tidak terelakkan. Oleh sebab itu, kita perlu mengenali diri sebelum terjebak dalam salah peran.

Pertama, peran diri di atas panggung atau sisi dari diri kita yang perlu ditampilkan pada audiens. Manusia tidak mungkin menunjukkan sisi buruknya di depan masyarakat, kecuali kalian memang ingin melakukannya. Dan tentu saja hal buruk yang kalian tampilkan akan menciptakan stigma kepada masyarakat.

Inilah yang oleh Goffman diringkas dalam lima fakta di atas panggung. Hal tersebut meliputi, kesenangan diri sendiri yang ditekan, kesalahan diri yang ditutupi, menyembunyikan proses atau hanya menunjukkan hasil, menyembunyikan kecurangan atau kerja kotor, dan menyembunyikan standar diri. Jelasnya, aktor akan menyembunyikan berbagai fakta pada dirinya di depan audiens.

Kedua, peran diri di balik layar atau sisi yang tidak diketahui audiens. Dari sisi ini seharusya kita bisa menjadi “benar-benar” subjek untuk diri kita. Pasalnya, inilah sisi kebenaran yang hanya diri kita yang tahu. Tidak mungkin diri kita mampu menipu diri sendiri, kecuali memang menghendaki yang demikian.

Dari sisi ini jelas sekali bahwa kita memiliki kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang tahu betul bagaimana diri ini kecuali diri kalian sendiri. Sesempurna apapun seseorang mendikte bagaimana diri kalian, mereka tidak akan pernah paham betul diri kalian.

Namun, memang banyak diantara kita yang tidak mengenal bagaimana dirinya sendiri. Ada banyak faktor yang salah satunya adalah “terlampau senang” menjadi diri “yang digemari” banya orang. Hingga mereka lupa bahwa menjadi diri sendiri adalah hal yang amat menyenagkan, sekalipun tidak banyak yang menyukai. Kesenangan diri itu adalah hak, selama tidak merugikan orang lain. Lagi pula, siapa yang peduli bagaimana kehendak audiens yang bertolak belakang dengan diri kita -seharusnya.

Sederhananya, omong kosong jika seseorang tidak tahu dirinya sendiri. Ia adalah aktor yang bebas mengekspresikan diri tanpa pusing tuntutan dari audiens. Dengan ini ia akan bertindak natural dan menjadi subjek untuk dirinya sendiri.
Read More

Kemerdekaan (Bukan) Hanya Milik "Agustus"

No comments:



Tepat di tahun 2020 Indonesia telah 75 tahun merdeka. Artinya, selama 75 tahun pula tidak ada penjajahan atau penindasan yang diderita masyarakat Indonesia. Dan selama itu pula, masyarakat telah terjamin kemerdekaannya.

Namun, benarkah pernyataan tersebut? Apakah Indonesia telah menjamin kemerdekaan setiap masyarakatnya? Apakah mereka benar-benar telah merdeka tanpa embel-embel penjajahan dan penindasan?

Well, kalau yang dimaksud merdeka hanyalah ucapan proklamasi dan tidak ada penjajahan negara lain seperti halnya 75 tahun silam, ya, Indonesia saat ini begitu. Tapi, kalau merdeka yang dimaksud telah bebas dari segala bentuk penindasan, saya kira itu belum. Pasalnya, masih ada saja orang berkecukupan yang merengek meminta belas kasihan. Ada pula mereka yang benar-benar kekurangan yang tidak lagi ditengok untuk diberikan bantuan. Mengenaskan.

Kalau begini ceritanya, apakah Indonesia yang katanya merdeka itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkecukupan, tidak dibungkam, apalagi tertindas dan dirampas haknya? Apa kemerdekaan hanya sebatas upacara bendera? Apa kemerdekaan hanya milik Agustus saja? Apa iya?

Duh, kalau berujar merdeka saja semangatnya sampai ke ubun-ubun. Giliran ada masyarakat yang mati kelaparan saja pura-pura buta, tuli, dan belagak prihatin. Lah, gimana merdeka bukan hanya milik golongan? Kalau, toh, kemerdekaan tidak pernah dirasakan bersamaan.

Dan apa ini, kemerdekaan hanya sebatas upacara di atas rumput lapangan. Macam mana pula ini negara? Disuruh upacara tapi bodo amat sama situasi sekitar. Yang ditanamkan hanya menghormati perjuangan pahlawan, tapi abaikan penderitaan masyarakat yang kurang berkecukupan. Ini maksudnya asal negara bahagia, masyarakat tak apa menderita gitu, ya? Sedih.

Upacara bendera dengan embel-embel menghormati perjuangan pahlawan yang telah memberikan kemerdekaan pada Indonesia -atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa-. Rasa syukurnya itu baik, asal bukan buat gegayaan biar dikira "wah" saja. Akan lebih baik lagi kalau mau peduli ke sesama masyarakat, ya, kan? Jadi rasa kebangsaannya ada, rasa kemanusiaannya berfungsi, dan akal kritisnya dipakai. Bukan belagunya yang ditonjolkan.

Mirisnya lagi, kenapa, sih, selalu di Agustus saja semangat kemerdekaannya. Dalam setahun ada dua belas bulan, lo. Apa kemerdekaan hanya milik Agustus?

Kalau kata @rahung dalam laman sosial medianya menyebut bahwa rasa kebangsaan ereksi setiap bulan Agustus. Pasalnya, rasa kemanusiaan mampus setiap harinya. Sayang banget, ya, hidup kok cuma jadi batang pinang, itu pun setahun sekali.

Sudah 75 tahun, loh, ini. Masyarakat Indonesia gak mau hidup malmur sejahtera gitu? Masyarakat gak mau hidup berdampingan dengan selimut kemerdekaan gitu? Beneran gak mau hidup dengan tanpa penindasan, nih? Beneran gak mau?

Sekali lagi, satu tahun ada dua belas bulan, loh. Yakin kemerdekaan hanya milik Agustus? Yakin gak mau merdeka setiap harinya? Yakin gak mau?

Bukan bermaksud untuk memprofokasi, tapi ayolah merdeka bersama. Jangan mau menindas atau tertindas. Jangan mau bungkam. Taukan kalau semua manusia memiliki hak yang sama? Maka dari itu ayo merdeka bersama dengan peduli dengan sesama.

Kalau kalian masih merasa sedih dan tidak terima terhadap penindasan, kalian masih manusia.
Kalau kalian masih peduli terhadap kemanusiaan, kalian humanis.
Dirgahayu untuk 75 tahun Indonesia. Semoga hanya hal-hal baik yang tak akan binasa.
Read More