Latest Posts

Sosiologi ala Feminis

No comments:


Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Sosiologi dan feminis merupakan dua term berbeda. Jika sosiologi mengarah pada studi tentang kemasyarakatan, maka feminis adalah orang yang mengkaji feminisme. Namun, dalam buku Teori Sosiologi karya George Ritzer, keduanya dapat dijadikan sebuah teori, yaitu Sosiologi Feminis.

Sebenarnya, tidak ada istilah pakem untuk mendefinisikan sosiologi feminis. Dari dua kata itu, kita bisa menyimpulkan bahwa sosiologi feminis adalah suatu teori sosiologi yang dikaji dalam perspektif feminis. Singkatnya, segala hal yang berhubungan dengan masyarakat akan dikulik berdasarkan perspektif feminis.

Seperti yang kita tahu, dari babakan klasik hingga modern, belum ada sosiolog yang menyentil perihal keadilan bagi perempuan. Semuanya hanya berputar-putar di dunia masyarakat, baik mikro ataupun makro. Meskipun Marx pernah menyentil babakan keadilan perempuan, namun hanya sebatas buruh perempuan. Ia belum menyentuh detail terkait perempuan, seperti beban ganda yang dialami perempuan di ranah domestik dan publik sekaligus. Maka dari itu, Ritzer mencantumkan sosiologi ala feminis di bukunya.

Menurut Ritzer, akar dari sosiologi feminis adalah ketimpangan dalam mengkaji perempuan dalam masyarakat. Kebanyakan sosiolog hanya menonjolkan peran laki-laki dalam masyarakat. Selain itu, hampir semua teori-teori yang disumbangkan untuk sosiologi merupakan perspektif laki-laki. Hal ini tentu saja semakin menyudutkan perempuan, yang mana mereka terlihat sama sekali tidak memiliki kontribusi dalam keilmuan, khususnya dalam ranah sosial. Padahal perempuan memiliki andil yang sama pentingnya dengan laki-laki dalam masyarakat.

"Para perempuan hadir di sebagian besar situasi kritis. Ketika mereka tidak hadir, itu semua bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan atau minat, tetapi karena telah terdapat upaya secara seksama untuk mengesampingkan mereka. Ketika mereka hadir, perempuan memainkan peran yang sangat berbeda dari konsepsi populer tentang mereka." (Ritzer, h. 488)

Untuk lebih jelasnya, kita perlu mengidentifikasi ciri-ciri teori sosiologi feminis. Pertama, sosiologi dengan pengetahuan feminis. Jika teori sosiologi klasik atau bahkan sampai sekarang didominasi perspektif laki-laki, maka Ritzer menyebut bahwa ada beberapa teori sosiologi dengan perspektif feminis. Artinya, dalam teori sosiologi memuat pengetahuan feminis.

Teori sosiologi dengan pengetahuan feminis ini tidak akan jauh-jauh pembahasan seputar keadilan peran dalam masyarakat. Ciri lainnya adalah pemaparan kasus dari aktor yang tersubordinasi, penjelasan tentang maayarakat secara objektif, baik laki-laki maupun perempuan, bukan hanya mampu menggambarkan aktor sosial, melainkan waktu dan tempatnya juga, serta hal-hal lain yang bersifat emansipatoris lainnya.

Kedua, tatanan makro sosial. Pembahasan makro bertalian erat dengan dunia kerja. Menurut Ritzer, feminis mengecam keras penalaran tokoh fungsionalis yang mengganggap masyarakat sebagai sistem. Jelas saja, feminis tidak ingin melihat manusia sebagai objek yang digerakkan. Bagaimana pun, manusia adalah subjek dalam masyarakat.

Selain itu, dalam dunia kerja, sosiolog sering menggaungkan nama dominasi dan subordinasi. Premis ini mengacu pada tindakan pemilik modal yang memiliki hak atas kehidupan buruh. Padahal, baik pemilik modal maupun buruh itu sama-sama aktor dalam masyarakat. Mereka berhak atas kehidupannya masing-masing. Perbedaannya hanya terletak pada cara posisi kerjanya.

Oleh sebab itu, feminis menginginkan keadilan dalam masyarakat, tak terkecuali dalam dunia kerja. Seperti yang dilakukan oleh Patricia Hill Collins, seorang sosiolog feminis yang gencar sekali menyuarakan keadilan dalam dunia kerja. Ia bahkan sampai turut andil untuk menyuarakan keadilan untuk perempuan kulit hitam (dulu dianggap kasta paling rendah di Barat) untuk bebas bekerja di mana pun mereka mampu.

Ketiga, tatanan mikro sosial. Tatanan ini berkaitan dengan psikis perempuan ataupun laki-laki. Jika konstruk menyebut perempuan untuk tunduk dan patuh pada laki-laki, maka feminis menyangkal akan hal itu. Perempuan bebas untuk melakukan apapun yang mereka kehendaki dengan tidak menimbulkan kerugian, setidaknya untuk dirinya sendiri atau masyarakat.

Pun halnya dengan laki-laki. Konstruk menginginkan laki-laki untuk kuat dan bisa dalam segala hal terutama dalam urusan publik. Feminis tentu saja menolak untuk itu. Laki-laki berhak atas dirinya sendiri dan bebas melakukan apa pun, selama mereka tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Sungguh, baik laki-laki maupun perempuan, mereka punya otoritas dalam dirinya sendiri. Demi apa pun, konstruk tidak perlu repot-repot mendikte mereka untuk melakukan hal-hal yang membebani mereka.

Serupa dengan yang dialami oleh Dorothy E. Smith. Ia adalah perempuan yang hidupnya dikelilingi oleh stigma tentang janda. Smith kemudia mampu speak up dan mengajak orang lain untuk berani memiliki otoritas dalam dirinya. Lantas mengapa jika ia janda? Ia hidup dengan nyaman dengan statusnya dan bahkan ia mampu menciptakan karya dengan begitu gemilang di tengah-tengah masyarakat. Ialah bukti dari kebanggaan atas hidupnya sendiri.

Keempat, subjektifitas dalam pengalaman sosial. Sosiolog feminis melihat beberapa masyarakat yang kehilangan subjektifitas akan dirinya. Mereka cenderung melihat dirinya dari sudut pandang orang lain. Oleh sebab itu, harapan sosiolog feminis ini adalah mengembalikan subjektivitas diri dengan respect pada diri dan berhenti mendengarkan standarisasi orang lain terhadap dirinya.

Terakhir, integrasi dalam sosial. Jika masyarakat terlihat menganut atruktur patriarki, maka keinginan sosiolog feminis adalah emansipasi. Dengan ini masyarakat berhenti untuk terus melihat stratifikasi dan mulai untuk berintegrasi.

Dari beberapa hal di atas, saya kira masyarakat akan mampu hidup dengan lebih baik dengan adanya keadilan seperti yang diungkapkan sosiolog feminis. Namun, keadilan tidak akan mampu dicapai jika hanya perempuan yang bergerak. Semua lapisan masyarakat perlu ikut andil demi terwujudnya keadilan. Dengan ini masyarakat berkeadilan akan terealisasi dan bukan hanya dalam narasi saja.

Read More

Etnometodologi: Peduli Praktik Sepele

No comments:

 


Oleh Miftakul Ulum Amaliyah

Belajar tentang sosiologi pastinya tidak akan jauh-jauh dengan masalah mikro-makro. Namun, tidak semua yang dibahas di dalamnya melulu tentang itu. Ada yang lebih memfokuskan perhatiannya pada praktik sepele dari masyarakat dari pada sibuk dengan urusan mikro-makro, sebut saja Etnometodologi.

Menurut George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi (terj., 2017) menyebut bahwa etnometodologi adalah pengetahuan, prosedur, dan pertimbangan masyarakat untuk memahami, menyelami, dan bertindak dalam situasi yang sedang mereka hadapi. Singkatnya, studi yang dipublikasikan oleh Harold Garfinkel ini mencoba untuk menunjukkan praktik sepele dalam masyarakat. Hal ini terlepas dari apapun bentuk organisasi masyarakat, baginya yang terpenting adalah praktik yang sedang dilakukan oleh anggota masyarakat.

Premis tersebut bukan hadir begitu saja. Sama seperti teori-teori sosiologi lainnya, etnometodologi Garfinkel dipengaruhi oleh fakta sosial Emile Durkheim. Jika fakta sosial Durkheim lebih memandang aktor sebagai sesuatu yang mudah dinilai. Maka etnometodologi lebih menganggap fakta sosial sebagai produk yang dibuat anggota. Artinya, etnometodologi memandang fakta sosial sebagai praktik-praktik yang dibentuk oleh anggota masyarakat dan tidak semua orang dapat mengetahui praktik sebenarnya, kecuali anggota yang terlibat dalam praktik tersebut. Hal ini terlihat lebih sepele dari pada apa yang diungkapkan oleh Durkheim.

Oleh sebab itu, kita perlu tahu ragam etnometodologi untuk melihat praktik-praktik sepele di dalamnya. Menurut Ritzer, ada dua ragam fundamental yang diusung Garfinkel dalam ragam etnometodologinya. Pertama, studi terhadap setting institusional yang di dalamnya terdapat praktik formal dan masyarakat perlu tahu itu. Kedua, analisis percakapan yang memuat interaksi dan komunikasi masyarakat sehari-hari dan tidak ada hal formal di dalamnya.

Dalam studi terhadap setting institusional tentunya berbeda dengan hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat di kesehariannya. Dalam institusi tentunya memuat hal-hal formal yang cenderung to the point. Hal ini semata-mata demi keefektifan dan meminimalisir kejadian di luar kontrol. Oleh sebab itu, Ritzer menuliskan beberapa contoh praktik dalam institusi, seperti wawancara kerja, negosiasi eksekutif, panggilan ke pusat gawat darurat, dan penyelesaian perselisihan lewat mediasi dengar pendapat.

Pertama, dalam wawancara kerja tidak mungkin ada percakapan yang terlontar begitu saja. Pastinya terdapat setting di dalamnya. Berbeda dengan percakapan sehari-hari yang terkesan spontan, dalam wawancara kerja terdapat pertanyaan yang telah disusun guna mendapatkan jawaban yang tepat, sesuai tujuan.

Kedua, negosiasi eksekutif juga demikian. Segalanya dilakukan secara matang, terukur, dan masuk akal. Seperti istilahnya, dalam negosiasi hanya bertujuan untuk mencapai kesepakatan final dan meminimalisir adanya perdebatan yan tidak logis yang membuang-buang waktu, tenaga, uang serta pikiran.

Ketiga, panggilan ke pusat gawat darurat yang berbeda dengan panggilan pada umumnya. Jika biasanya kita melakukan panggilan dngan mengawalinya dengan salam, menambahkan guyonan, dan memancing emosi, maka di panggilan darurat hanya ada ujaran serius yang to the point. Hal ini disebabkan karena panggilan darurat hanya berfungsi untuk mereka yang benar-benar dalam keadaan genting, seperti panggilan kepada ambulans ketika ada kecelakaan.

Keempat, penyelesaian perselisihan lewat mediasi dengan pendapat. Jika dalam keseharian kita terdapat cekcok yang begitu panjangnya, maka dalam mediasi akan mereduksi hal-hal semacam itu. Di sini mediator yang memiliki kendali penuh untuk mengatur perbedaan pendapat. Hal ini semata-mata guna meminimalisir percakapan yang sama sekali tidak perlu dan menyelesaian perdebatan secara final.

Berbeda dengan institusi, dalam analisis percakapan sehari-hari lebih menonjolkan sisi spontan. Pratik-praktik yang dilakukan anggota masyarakat tidak begitu terstruktur dan formal. Dengan ini Ritzer memberikan contohnya, seperti percakapan di telepon, memancing gelak tawa, mengundang tepuk tangan, cemooh, cerita, formulasi, integrasi berbicara dan aktivitas nonvokal, serta mengungkapkan rasa malu dan percaya diri.

Pertama, percakapan di telepon berbeda dengan percakapan secara langsung. Oleh sebab itu, percakapan di telepon akan menambahkan kata-kata dalam praktiknya, seperti ucapan salam, perkenalan, guyonan, dan penutup. Selain itu, seseorang yang menelepon tidak akan tahu bagaimana ekspresi dari lawan bicaranya seperti dalam percakapan secara langsung. 

Kedua, memancing gelak tawa adalah peristiwa yang bebas dalam percakapan atau interaksi. Namun, etnometodologi melihat bahwa dalam gelaktawa selalu melibatkan pengorganisasian di dalamnya. Meskipun gelak tawa muncul secara spontan, namun pembuat lelucon secara tidak langsung telah memikirkan sesuatu untuk bahan guyonan.

Ketiga, mengundang tepuk tangan. Hal ini adalah praktik sepele yang sering diabaikan oleh orang lain. Namun, etnometodologi melihat bahwa dalam tepuk tangan ada sesuatu yang ingin ditonjolkan. Hal ini seperti bentuk penegasan atas suatu percakapan. Misalnya, ketika seseorang telah memberi jalan keluar atas masalah, secara spontan beberapa dari kalian akan bertepuk tangan sebagai apresiasi, ungkapan terima kasih, atau bahkan penegasan atas kebenaran ucapan tersebut.

Keempat, cemooh adalah lawan sikap dari tepuk tangan. Jika dalam tepuk tangan berarti kamu menyetujui ungkapan, maka dalam cemooh kamu tidak sependapat untuk itu. Atau bisa jadi kamu kecewa atas ungkapan yang diberikan oleh lawan bicaramu.

Kelima, cerita akan muncul dalam beberapa percakapan. Etnometodologi mengamati beberapa orang dalam berinteraksi, kemudian ia mendapatkan beberapa hal termasuk cerita di dalam interaksi tersebut. Hal inilah yang nantinya akan mengundang percakapan akan terus mengalir dengan respon dari lawan bicara.

Keenam, formulasi adalah bentuk percakapan yang mana lawan bicara dapat menyimpulkan maksud dari pembicara. Artinya, pembicara mencoba untuk memahamkan lawan bicaranya. Dengan ini, lawan bicara akan menanggapinya dengan pemahaman yang mereka dapat dari apa yang dibicarakan.

Ketujuh, integrasi berbicara dan aktivitas nonvokal. Jika dalam percakapan memusatkan perhatiannya pada pembicaraan, maka dalam etnometodologi menambahkan fokus tersebut dengan aktivitas nonvokal, seperti gestur. Dengan ini, tidak hanya pembicaraannya yang dapat dipahami, melainkan dengan gestur kita akan lebih paham maksud dari percakapan tersebut. 

Kedelapan, mengungkapkan rasa malu dan percaya diri. Etnometodolog begitu yakin bahwa dalam percakapan kedua rasa itu selalu ada. Kita akan cenderung diam dan menghindari topik-topik percakapan ketika kita merasa malu. Sebaliknya, kita akan terus memancing lawan bicara kita dengan topik-topik tertentu ketika kita percaya diri dengan itu.

Dari beberapa contoh yang disebutkan oleh Ritzer, jelas sekali bahwa etnometodologi berbeda dengan fokus sosiologi klasik sebelumnya. Etnometodologi begitu tertarik terhadap praktik-praktik sepele yang dilakukan oleh anggota masyarakat. Namun, dengan ini etnometodologi membuktikan bahwa dirinya telah tumbuh menjadi tak terbatas dan kehilangan spesifikasi atas dirinya.

Read More

Erving Goffman: Peran Diri dari Konsep Dramaturgi

No comments:



“Seluruh dunia ini bukan panggung -sama sekali bukanlah teater.” (Erving Goffman, Frame analysis, 1974)
Ujaran tentang “jadi diri sendiri” telah marak bermunculan diberbagai kalangan masyarakat. Pasalnya sebagian dari mereka terlalu asyik mendalami peran orang lain. Hingga mereka lupa atau bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. Hal ini sangat disayangkan, bagaimana kita bisa menghargai diri sendiri jika kita sendiri tidak tahu atau mengenal diri kita sendiri?

Premis tersebut rupanya telah menjadi problematika masyarakat sejak dulu. Bahkan Erving Goffman, sosiolog kelahiran Kanada, 11 Juni 1922 itu tertarik untuk menelitinya. Ia membuat konsep tentang diri yang diberi nama “Dramaturgi”.

Dramaturgi adalah gambaran dari laku diri. Artinya, ada peran yang dilakukan oleh aktor dalam dua sisi, yang sebenarnya dan yang ditampilkannya. Singkatnya, diri ini memiliki dua sisi yang perlu untuk ditunjukkan kepada audiens (masyarakat) dan sisi yang harus disembunyikan dari audiens. 

Sedangkan Goffman menyebutnya sebagai peran di atas panggung dan peran di balik layar. Keduanya akan selalu melekat pada diri manusia dan tidak terelakkan. Oleh sebab itu, kita perlu mengenali diri sebelum terjebak dalam salah peran.

Pertama, peran diri di atas panggung atau sisi dari diri kita yang perlu ditampilkan pada audiens. Manusia tidak mungkin menunjukkan sisi buruknya di depan masyarakat, kecuali kalian memang ingin melakukannya. Dan tentu saja hal buruk yang kalian tampilkan akan menciptakan stigma kepada masyarakat.

Inilah yang oleh Goffman diringkas dalam lima fakta di atas panggung. Hal tersebut meliputi, kesenangan diri sendiri yang ditekan, kesalahan diri yang ditutupi, menyembunyikan proses atau hanya menunjukkan hasil, menyembunyikan kecurangan atau kerja kotor, dan menyembunyikan standar diri. Jelasnya, aktor akan menyembunyikan berbagai fakta pada dirinya di depan audiens.

Kedua, peran diri di balik layar atau sisi yang tidak diketahui audiens. Dari sisi ini seharusya kita bisa menjadi “benar-benar” subjek untuk diri kita. Pasalnya, inilah sisi kebenaran yang hanya diri kita yang tahu. Tidak mungkin diri kita mampu menipu diri sendiri, kecuali memang menghendaki yang demikian.

Dari sisi ini jelas sekali bahwa kita memiliki kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang tahu betul bagaimana diri ini kecuali diri kalian sendiri. Sesempurna apapun seseorang mendikte bagaimana diri kalian, mereka tidak akan pernah paham betul diri kalian.

Namun, memang banyak diantara kita yang tidak mengenal bagaimana dirinya sendiri. Ada banyak faktor yang salah satunya adalah “terlampau senang” menjadi diri “yang digemari” banya orang. Hingga mereka lupa bahwa menjadi diri sendiri adalah hal yang amat menyenagkan, sekalipun tidak banyak yang menyukai. Kesenangan diri itu adalah hak, selama tidak merugikan orang lain. Lagi pula, siapa yang peduli bagaimana kehendak audiens yang bertolak belakang dengan diri kita -seharusnya.

Sederhananya, omong kosong jika seseorang tidak tahu dirinya sendiri. Ia adalah aktor yang bebas mengekspresikan diri tanpa pusing tuntutan dari audiens. Dengan ini ia akan bertindak natural dan menjadi subjek untuk dirinya sendiri.
Read More

Kemerdekaan (Bukan) Hanya Milik "Agustus"

No comments:



Tepat di tahun 2020 Indonesia telah 75 tahun merdeka. Artinya, selama 75 tahun pula tidak ada penjajahan atau penindasan yang diderita masyarakat Indonesia. Dan selama itu pula, masyarakat telah terjamin kemerdekaannya.

Namun, benarkah pernyataan tersebut? Apakah Indonesia telah menjamin kemerdekaan setiap masyarakatnya? Apakah mereka benar-benar telah merdeka tanpa embel-embel penjajahan dan penindasan?

Well, kalau yang dimaksud merdeka hanyalah ucapan proklamasi dan tidak ada penjajahan negara lain seperti halnya 75 tahun silam, ya, Indonesia saat ini begitu. Tapi, kalau merdeka yang dimaksud telah bebas dari segala bentuk penindasan, saya kira itu belum. Pasalnya, masih ada saja orang berkecukupan yang merengek meminta belas kasihan. Ada pula mereka yang benar-benar kekurangan yang tidak lagi ditengok untuk diberikan bantuan. Mengenaskan.

Kalau begini ceritanya, apakah Indonesia yang katanya merdeka itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang berkecukupan, tidak dibungkam, apalagi tertindas dan dirampas haknya? Apa kemerdekaan hanya sebatas upacara bendera? Apa kemerdekaan hanya milik Agustus saja? Apa iya?

Duh, kalau berujar merdeka saja semangatnya sampai ke ubun-ubun. Giliran ada masyarakat yang mati kelaparan saja pura-pura buta, tuli, dan belagak prihatin. Lah, gimana merdeka bukan hanya milik golongan? Kalau, toh, kemerdekaan tidak pernah dirasakan bersamaan.

Dan apa ini, kemerdekaan hanya sebatas upacara di atas rumput lapangan. Macam mana pula ini negara? Disuruh upacara tapi bodo amat sama situasi sekitar. Yang ditanamkan hanya menghormati perjuangan pahlawan, tapi abaikan penderitaan masyarakat yang kurang berkecukupan. Ini maksudnya asal negara bahagia, masyarakat tak apa menderita gitu, ya? Sedih.

Upacara bendera dengan embel-embel menghormati perjuangan pahlawan yang telah memberikan kemerdekaan pada Indonesia -atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa-. Rasa syukurnya itu baik, asal bukan buat gegayaan biar dikira "wah" saja. Akan lebih baik lagi kalau mau peduli ke sesama masyarakat, ya, kan? Jadi rasa kebangsaannya ada, rasa kemanusiaannya berfungsi, dan akal kritisnya dipakai. Bukan belagunya yang ditonjolkan.

Mirisnya lagi, kenapa, sih, selalu di Agustus saja semangat kemerdekaannya. Dalam setahun ada dua belas bulan, lo. Apa kemerdekaan hanya milik Agustus?

Kalau kata @rahung dalam laman sosial medianya menyebut bahwa rasa kebangsaan ereksi setiap bulan Agustus. Pasalnya, rasa kemanusiaan mampus setiap harinya. Sayang banget, ya, hidup kok cuma jadi batang pinang, itu pun setahun sekali.

Sudah 75 tahun, loh, ini. Masyarakat Indonesia gak mau hidup malmur sejahtera gitu? Masyarakat gak mau hidup berdampingan dengan selimut kemerdekaan gitu? Beneran gak mau hidup dengan tanpa penindasan, nih? Beneran gak mau?

Sekali lagi, satu tahun ada dua belas bulan, loh. Yakin kemerdekaan hanya milik Agustus? Yakin gak mau merdeka setiap harinya? Yakin gak mau?

Bukan bermaksud untuk memprofokasi, tapi ayolah merdeka bersama. Jangan mau menindas atau tertindas. Jangan mau bungkam. Taukan kalau semua manusia memiliki hak yang sama? Maka dari itu ayo merdeka bersama dengan peduli dengan sesama.

Kalau kalian masih merasa sedih dan tidak terima terhadap penindasan, kalian masih manusia.
Kalau kalian masih peduli terhadap kemanusiaan, kalian humanis.
Dirgahayu untuk 75 tahun Indonesia. Semoga hanya hal-hal baik yang tak akan binasa.
Read More

Remember Me Iringi Kisah COCO

1 comment:

 


COCO

"Dia alasanku menyeberangi jembatan. Aku ingin bertemu lagi dengannya. Harusnya aku tak meninggalkan Santa Cecilia. Kuharap aku bisa memberitahunya kalau papanya berusaha pulang. Bahwa papanya sangat menyayanginya. Coco-ku".

Film ini tidak hanya mengisahkan tentang seorang anak kecil bernama Miguel, namun juga seluruh anggota keluarganya. Dimana keluarga ini sampai-sampai dijuluki keluarga Rivera---pembuat sepatu selamanya. Namun, kisah ini tidak sesederhana yang dibayangkan, karena dibalik nama keluarga tersebut ternyata memiliki history yang sangat panjang. Jadi, bagi kalian yang menyukai film kartun dan juga berbumbu fiksi, Aku rasa film dari Pixar animations studios ini patut kalian cantumkan dalam daftar kalian. Karena tidak hanya petualangan dan visualisasi yang menarik, namun juga pesan kehidupan yang sesuai dengan keluarga.

Dalam cerita ini, Miguel adalah pemeran utama dalam film. Kalian akan mendengar history tentang bagaimana keluarganya bisa menjadi pembuat sepatu darinya. Awalnya, nenek buyut (biasa dipanggilnya Mama Imelda) dan juga kakek buyutnya adalah seorang musikus. Mereka sangat mencintai musik, bahkan selalu menyanyi dan menari bersama setiap waktu bersama putrinya. Tetapi, pada suatu ketika kakek buyutnya meninggalkan keluarganya dan mengatakan bahwa ia ingin bernyanyi untuk dunia. Mungkin itu terdengar luar biasa, tapi sayangnya ia tak pernah kembali setelahnya dan membuat Mama Imelda merasa sakit hati. Setelah itu, mama Imelda memutuskan untuk membuang dan melupakan segala hal yang berhubungan dengan musik. Kemudian, ia mulai mencari cara agar bisa menafkahi putrinya hingga "membuat sepatu" akhirnya menjadi pilihan terbaik baginya. Sejak saat itulah, Mama Imelda mengajarkan cara membuat sepatu kepada seluruh keluarganya termasuk juga Coco.

Dengan memandangi Ofrenda---ruang khusus yang digunakan untuk memajang foto anggota keluarga yang telah meninggal, ia bertanya-tanya kenapa kakek buyutnya meninggalkan keluarga dan tak kembali. Karena tanpa disadari Miguel juga mencintai musik, sebagaimana kakek buyutnya yang pernah menjadi musikus dan memiliki impian besar terhadap musik. Dengan alasan belum resmi menjadi pekerja di keluarganya sendiri, Miguel bekerja menjadi penyemir sepatu di plaza yang terletak dekat dengan rumahnya. Dari tempat itu ia mendengar suara musik setiap hari, dan dari sanalah ia menemukan ada perlombaan musisi yang dikenal dengan nama De Los Muertos.

Ia bercerita bahwa menyukai musik tentu bukan salahnya, tetapi De La Cruz. Dia adalah penyanyi legendaris dalam sejarah Meksiko, tidak lain adalah penyanyi yang sangat diidolakan oleh Miguel. Ia pun termotivasi untuk mengikuti perlombaan itu, dan berusaha untuk memberanikan diri sebagaimana yang dilakukan oleh idolanya tersebut. Ia mulai membuat gitarnya sendiri, dan menonton ulang kaset lama De La cruz sekaligus menyanyikan kembali lagu-lagunya. Tanpa ia sadari ia memandang kembali foto yang dibawanya dari Ofrenda, dan menemukan bahwa gitar yang dipegang oleh kakek buyutnya mirip dengan gitar milik De La Cruz. Hal itulah yang membuatnya berkesimpulan bahwa kakeknya adalah De La Cruz, penyanyi idola nya selama ini.

Dengan percaya diri, ia pun membicarakan niatnya pada seluruh keluarga dan mengatakan bahwa ia ingin menjadi musikus seperti De La Cruz. Namun, bisa kalian bayangkan bahwa tentu Mama Elena (putri dari Mama Coco) pasti akan marah besar. Karena ia menjalankan rumah keluarga kecilnya sama persis dengan Mama Imelda, dimana ia tak pernah mengijinkan ada musik di rumah Rivera. Gitar yang dibuat oleh Miguel pun dirusak oleh Mama Elena, dan ia pun kabur meninggalkan rumah dan langsung pergi ke Plaza.

Singkat cerita, Miguel yang kesal atas ulah neneknya akhirnya pergi menuju pemakaman De La Cruz dan berniat untuk mengambil gitar legendaris miliknya. Dengan satu kali memainkan senar gitar itu, orang-orang yang sedang berziarah justru langsung mengetahui bahwa pasti ada seseorang yang mencoba untuk mencuri gitar milik penyanyi tercinta mereka. Tanpa Miguel sadari, seketika itu ia berubah menjadi tak kasat mata. Dengan cepat ia menembus apapun yang ditabraknya, dan kemudian bertemu dengan seluruh keluarganya yang telah wafat. Karena kejadian ini, Miguel diajak untuk bertemu dengan petugas di dunia kematian dan membantunya kembali hidup di dunianya.

Untuk kembali Miguel membutuhkan restu dari keluarganya, namun Mama Imelda memberikan syarat kepadanya untuk tidak bermusik lagi. Tentu Miguel menolaknya, dari sinilah kemudian ia bertemu dengen Hector. Tanpa sengaja ia mendengar Hector bercerita bahwa dirinya adalah teman dekat De La Cruz. Maka dari itu, Miguel meminta bantuannya agar dapat meminta restu dari sosok yang ia percayai sebagai kakek buyutnya itu. Dengan syarat anak laki-laki itu bisa memajang fotonya saat kembali, mereka pun bersepakat untuk pergi menemui De La Cruz. Perjalanan demi perjalanan mereka lewati dengan memberikan banyak pesan dan hiburan bagi siapapun yang menonton.

Adegan yang Aku sukai adalah ketika Mama Imelda menemukan Miguel dan berkata, “Tentu Aku sangat mencintai musik. Saat suamiku bermain, dan Aku pun akan bernyanyi. Hanya itulah yang berarti. Hingga Kami memiliki Coco, dan Aku merasa memiliki sesuatu yang lebih penting dibandingkan musik. Namun suamiku ingin bernyanyi untuk dunia…” Seketika Miguel menjawab, “Namun Aku tidak bisa memihak. Kenapa kau tak bisa memihakku? Itulah yang seharusnya dilakukan keluarga. Membantumu.”

Dari percakapan mereka, terutama apa yang disampaikan oleh Miguel Aku rasa ada benarnya juga. Karena sebagai keluarga memang haruslah mendukung satu sama lain. Apapun yang ingin dilakukan oleh seorang anak, adalah tugas orang dewasa untuk support dan membantunya melewati masa perjuangannya. Selain itu, sesampainya Miguel bertemu dengan De La Cruz. Ada sesuatu yang berbeda darinya, Miguel mulai menyadarinya saat Hector menyusul dan berusaha membantunya kembali. Entah kenapa Hector serasa lebih dekat dan pengertian, berbeda dengan De La Cruz yang justru tak ingin Miguel kembali ke dunianya. Aneh bukan, akan lebih terasa saat kalian menontonnya.

Aku sarankan untuk segera tonton dan nikmati keseruan dan kisah penuh makna dari film ini. Tapi sebelum itu, hal lain yang ingin Aku sampaikan adalah lagu favorit Mama Coco. Lagu dengan judul Remember Me, yang ternyata selalu dinyanyikan kakek buyutnya kepada putrinya setiap mereka akan berpisah. Film ini memberikan pesan bahwa seorang ayah akan selalu mencintai keluarganya bahkan putrinya sendiri. Kalaupun ada kejadian tak mengenakkan, tentu ia memiliki alasan. Sebagaimana alasan suami dari Mama Imelda yang sebenarnya bukan lah keinginan mutlak darinya untuk tak pernah kembali. Melainkan ada sesuatu yang menimpanya, hingga lagu-lagu buatannya pun dicuri oleh sahabatnya sendiri.  

“Remember me, Though I have to say goodbye. Remember me. Don't let it make you cry. For ever if I'm far away. I hold you in my heart. I sing a secret song to you. Each night we are apart. Remember me. Though I have to travel far. Remember me. Each time you hear a sad guitar. Know that I'm with you. The only way that I can be. Until you're in my arms again. Remember me……” 

Read More

Tetap Sebut Kemenangan Di Masa Pandemi Covid-19

No comments:

by. Ira Risdiana Dewi 

“Selama banteng-banteng indonesia, masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka jangan mengharap bangsa Indonesia akan menyerah”

-Bung Tomo.

Berkiprah terhadap sejarah tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia, termasuk dalam kehidupan kita. Sejarah dapat berupa apa saja, pengalaman atau peristiwa yang sedang terjadi pada masa lampau pun merupakan bentuk sejarah. Dan salah satu peristiwa penting yang perlu diketahui adalah sejarah kemerdekaan Indonesia. Indonesia memiliki banyak sekali sejarah penting yang terlahir dari pahlawan-pahlawan besar yang telah memerdekakan bangsa Indonesia itu sendiri. Pada tanggal 17 Agustus 1945 menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia dengan dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan oleh sang proklamator Ir. Soekarno.

Pada masa sebelum Indonesia merdeka, para proklamator beserta rakyat Indonesia telah melalui fase yang sangat panjang untuk memerdekaan bangsa Indoneisa. Tepat pada tanggal 18 Agustus 1945, akhirnya PPKI mengambil keputusan untuk mengesahkan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dengan begitu, Indonesia telah resmi ditetapkan sebagai negara merdeka serta kedaulatan berada ditangan rakyat. Dari peristiwa tersebut, tentu kita sebagai bangsa Indonesia paham dan turut merasakan betapa beratnya perjuangan yang telah  ditempuh para pejuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Hingga tanpa disadari kita telah memasuki bulan agustus yang bertepatan pada hari lahirnya kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 2020 yang ke-75 ini. Setiap tahun warga negara Indonesia selalu antusias memperingati tradisi dan momentum tersebut, entah dengan menggelar upacara bendera, membuat berbagai macam lomba, maupun dengan mengadakan do’a bersama di daerah atau wilayah  masing-masing. Akan tetapi, ada yang membedakan tahun ini dengan tahun sebelumnya. Apakah itu? Perbedaan adalah peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang tidak seramai dahulu.

Peringatan hari kemerdekaan Indonesia tahun 2020 ini justru hanya digelar di beberapa tempat saja, bahkan dengan mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dan tentunya menjaga jarak dengan orang lain. Selaku Menteri Sekretaris Negara, beliau mengeluarkan kebijakan untuk membatasi jumlah peserta upacara secara terbatas dan menghimbau masyarakat agar tetap berpartisipasi di lingkungan masing-masing. Pembatasan tersebut tidak lain bertujuan untuk meminimalisir penularan covid-19 yang masih dikhawatirkan akan terus terjadi penularan. 

Beri aku 1000 orang tua niscaya akan ku cabut gunung semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia

- Ir.Soekarno.

Ungkapan Ir.Soekarno diatas, sudah menjadi kewajiban kita sebagai warga negara Indonesia (terutama generasi muda penerus bangsa) untuk menanamkan karakter yang kuat dalam diri, dedikasi yang tinggi serta semangat nasionalisme yang membara, juga memperkokoh jiwa persatuan dan kesatuan bangsa. Harapan saya selaku pemuda Indonesia, adalah ikut serta menegakkan kesadaran serta mencintai keberagaman antar sesama, tidak mengikutsertkan perbudakan kerangka egosentris yang dimiliki. __Sekian__

Read More

Refleksi 75 Tahun Ibu Pertiwi

No comments:

by. Ziada Hilmi Hanifah

Di tengah bulan Ramadhan lalu, saya sempat melintas di sebuah gang kecil di daerah Bandar , Mojoroto, Kediri. Tersebab kala itu adalah pertama kalinya bagi saya memasuki area gang tersebut, maka saya belum mengetahui sesuatu pun yang ada di sana.

Ketika saya baru akan memasuki mulut gang, saya sudah disambut oleh sebuah mural ‘twin color’ hitam-putih yang vulgar terpampang di muka dinding gang tersebut. Nah, yang membuat saya bersedia untuk terus mengingatnya hingga sekarang adalah satu kalimat yang dicantumkan oleh sang pelukisnya di permukaan dinding tersebut. Kalimat itu adalah, “Merdeka Jiwa Dan Raga”.

Saya merasa tergelitik oleh kalimat itu. Sebuah kalimat pendek yang disampingnya terdapat lukisan siluet seorang pria yang mengangkat tinju kanannya keatas. Kalimat ini berhasil mencuatkan tanya bagi saya, ‘Sudahkah kita merdeka?’

Konteks merdeka yang tak hanya secara fisik, tapi juga secara jiwa. Jika selama ini fisik tanah air diasumsikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kebebasan dari perang, warga sipil atau rakyat, dsb. Maka jiwa tanah air adalah segala hal yang berkaitan dengan pendidikan, mindset, pendidikan, pola hidup, mentalitas masyarakat.

Serta berbagai ideologi yang berkaitan dengan landasan kenegaraan. Maka, jika kita kembali pada pertanyaan awal tadi, kita akan sedikit merenung bahwa kemerdekaan jiwa belum seutuhnya kita proklamasikan.

Jika pada 17 Agustus 75 tahun silam Ir. Soekarno berorasi tentang proklamasi kemerdekaan, maka itu adalah bentuk implementasi kemerdekaan secara fisik. Namun jika ranah pembahasan kita alihkan menjadi seputar pendidikan, mental warga negara, kepemudaan, pola hidup, dan pancasila maka akan begitu banyak PR yang perlu kita rampungkan sebagai kemerdekaan jiwa Indonesia.

Sebagai contoh kecil adalah seperti banyaknya orang yang belajar dan dididik tetapi belum mampu menunjukkan sikap seorang yang terpelajar dan terdidik dengan rendahnya moralitas mereka. Seolah-olah menciptakan kesenjangan antara keilmuan yang tinggi dengan etika yang degradasi.

Atau ideologi pancasila kita, sebagai suatu landasan yang sifatnya sudah absolut, belum banyak yang sudah mengaplikasikannya dalam kehidupan sebagai warga negara. Seperti dengan terjadinya kasus-kasus yang menginduk pada pola rasisme antar etnis. Kemudian dengan adanya perlakuan diskriminatif dari kelompok yang mayoritas terhadap yang minoritas.

Atau yang lebih dominan terjadi akhir-akhir ini adalah adanya superioritas terhadap yang inferior, seperti dalam sebuah tajuk yang menyebut bahwa hukum di Indonesia yang ‘baru’ adalah tajam ke bawah, tumpul keatas.

Yang demikianlah yang justru bertentangan dengan nilai toleransi dan keadilan yang tersemat pada sila ke-3 dan ke-5, serta Bhineka Tunggal Ika. Atau sifat-sifat korup yang tak sesuai dengan sila ke-2. Atau para wakil rakyat yang tiba-tiba melupa dari mana asal mereka setelah duduk di bangku dewan dengan bayaran yang jauh melampaui kata kurang, sehingga seolah-olah mereka sudah melucuti sila yang ke-4.

Namun jika kita mampu sadar lebih jauh lagi, maka tak hanya PR yang akan kita temukan, tapi juga potensi-potensi besar anak bangsa yang memerlukan apresiasi lebih yang nantinya berpeluang menjadi solusi prestisius atas ‘tugas-tugas’ tadi.

Mulai dari para game developer yang mulai menjamur, atau banyaknya usaha start-up di ranah industri kreatif, dan banyak prestasi-prestasi lainnya yang berpeluang besar membangun kembali dan menjadi manifestasi dari proklamasi kemerdekaan Indonesia secara jiwa.

Hingga akhirnya, kita perlu sadar juga bahwa kitalah para aktor yang akan menjadi motor utama penentu nasib kemerdekaan ibu pertiwi kita dan mempertahankan esensinya hingga umur yang entah kapan. Subjektivitas dan mentalitas positif kita dibutuhkan untuk mewujudkan Ibu Pertiwi yang gemah ripah loh jinawi.

Dirgahayu Indonesia!

Read More

Sang Kiai dan Kemerdekaan

No comments:

by. Zidna Nabilah

“Allah tidak akan memberi manfaat dan kemuliaan bagi umat yang tidak mau hidup berjama’ah, tidak bagi umat terdahulu dan tidak juga bagi umat yang hidup di akhir zaman”

Kemarin Indonesia telah berumur 75 tahun sejak merdeka pada 17 Agustus 1945. Hal ini tentu akan mengingatkan kita kepada para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan. Sebagaimana film yang disutradarai oleh Rako Prijanto yang dirilis pada tahun 2013 ini, yang mengisahkan sekaligus menggambarkan bagaimana para ulama juga ikut serta berjuang.

Film ini berlatar belakang masa penjajahan yang mengangkat kisah hidup ulama dari Tebu Ireng, Jombang, KH. Hasyim Asyari. Tentu banyak dari kalangan masyarakat tidak asing dengan nama ulama satu ini, pendiri organisasi terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU).

Saat pertama menonton film ini, kita akan disuguhkan pemandangan desa yang asri dimana seluruh warganya hidup sederhana dan juga damai. Begitu juga di pesantren Tebu Ireng yang selalu ramai kedatangan santri baru. Didukung dengan setting film yang dibuat antara tahun 1942-1947, menjadikan film ini berhasil membawa para penontonnya ikut merasakan situasi pada saat itu. Seperti menyaingi film garapan Hanung Bramantyo, Sang Pencerah yang menceritakan tentang biopic seorang Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah.

Dengan judul yang kebetulan hampir sama, namun biopic milik pendiri Nahdlatul Ulama tersebut tak sepenuhnya fokus kepada KH. Hasyim Asyari. Karena dalam film ini juga menceritakan tentang kehidupan sekitar pesantren Tebu Ireng serta perjuangan bangsa Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan.

Bagi penyuka film sejarah, film ini layak masuk ke dalam daftar film yang wajib ditonton. Karena gaya cerita yang dibuat masih pop dan enjoyable, bahkan ada sedikit unsur comedy dalam film yang tentu membuat penonton tidak bosan.

Disamping itu, film ini juga memberikan subplot cerita kepada karakter-karakter lainnya seperti Harun (salah satu santri Tebu Ireng) yang mempunyai screening time, dan subplot cerita tentang dirinya dan kehidupannya lebih banyak. Sehingga tidak melulu tentang sejarah, bahkan love story antara Harun dan Sarinah ikut menghangatkan film ini.

Konflik bermula tatkala KH Hasyim Asyari (Ikranegara) menolak untuk menandatangani kesepakatan untuk melakukan sekerei---menyembah atau sujud kepada matahari. Tanpa kehabisan akal, Jepang menangkap Ikranegara dengan memberikan tuduhan bahwa ialah yang menjadi pelopor kerusuhan di Pabrik Gula Cukir.

Penangkapan ini memicu berbagai macam reaksi dari berbagai kalangan terutama keluarga dan para santri Tebu Ireng. Tak lama kemudian, beliau dipindahkan ke Mojokerto karena para santri telah memenuhi markas Jepang atas diplomasi dari KH. Wahid Hasyim dan KH. Hasbullah dengan para petinggi Jepang. Hal ini dilakukan agar KH. Hayim Asyari dibebaskan dan kemudian membicarakan suatu kesepakatan yang menguntungkan Jepang.

Pada tanggal 7 September 1942 para petinggi Jepang selanjutnya mengumpulkan para ulama dari Jawa dan Madura, untuk membahas mengenai “latihan kiai” yang dilaksanakan pada 1 Juli 1943. Selain itu, masih banyak lagi kesepakatan yang akhirnya diambil seperti penghapusan MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia), dan pendirian MASYUMI (Majelis Syuro Muslim Indonesia).

Berikutnya, muncul konflik dimana K.H. Hasyim Asy'ari yang diangkat menjadi ketua Masyumi justru dimanfaatkan Jepang untuk memaksa para pribumi meningkatkan hasil bumi, dan menyetorkannya ke pihak mereka. Kebijakan itu berlangsung hingga dikeluarkannya Resolusi Jihad atas permintaan Presiden Soekarno pada 14 September 1945. Singkat cerita, saat Jepang memberikan penyerahan kekalahan kepada sekutu, brigadir Mallaby mendaratkan pasukannya ke Surabaya untuk mengambil alih wilayah tersebut.

Namun Bung Tomo kemudian mendatangi KH. Hasyim Asyari untuk meminta nasehat yang dijawab dengan “awali dan akhiri dengan menyebut asma Allah”. Dari sinilah Bung Tomo memberanikan diri untuk melakukan pidato atau orasi, menyulut semangat warga Surabaya dengan begitu menggelegar dan mengakhirinya dengan takbir sebanyak tiga kali.

Diiringi dengan keberangkatan para pemuda Jombang ke Surabaya undan bergabung dengan pemuda Surabaya guna menyerbu Belanda. Hingga pertempuran ini kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan pada 10 November. Film ini diakhiri dengan wafatnya KH. Hasyim Asyari yang menjadi pukulan bagi banyak kalangan, karena kondisi negara yang masih membutuhkan sosok seperti beliau. Keteguhan beliau dalam membela Islam sekaligus nasehat bijaksananya, tentu akan diingat oleh banyak orang.

“hukum membela negara dan melawan penjajahan adalah wajib bagi setiap masyarakat Indonesia. Umat Islam yang mati di medan pertempuran akan mati syahid dan mereka yang menghianati perjuangan umat Islam dengan memecah belah persatuan lalu menjadi kaki tangan penjajah wajib hukumnya dibunuh”, pesan KH. Hasyim Asyari.

Hal lain yang petut diacungi jempol atas film ini adalah berbagai detail production values yang digarap begitu apik oleh Frank X.R. Paat, membuat para penonton terpanah. Sebagaimana setting kota Jombang dan Tebu Ireng yang begitu rapi dan sesuai dengan tahun yang ingin digambarkan. Selain itu setting kota di zaman penjajahan juga terlihat detail, bahkan pemandangan-pemandangan saat perang terjadi terasa begitu nyata.

Namun, disisi lain bahasa yang digunakan oleh para pemain sering kali masih bercampur antara bahasa jawa maupun bahasa Indonesia. Terkadang penggunaan bahasa ngoko bercampur dengan krama inggil juga membuat sejumlah penonton mungkin terasa sedikit mengganjal. Meski demikian, film ini mengandung banyak sekali pesan yang disampaikan jika penonton menyadari setiap scene-nya.

Setelah membicarakan mengenai film yang mengisahkan sejarah kemerdekaan, mungkin kita akan bertanya-tanya alasan kenapa harus mempelajari sejarah. Bahkan ada kata yang sering kali dilontarkan di tengah-tengah masyarakat yaitu JASMERAH---Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Lalu, sebenarnya apa tujuan kita mempelajari sejarah dan terus memperingatinya.

Ayahanda Dr. H. Teguh M.Ag. justru pernah menyampaikan, bahwa belajar sejarah sama seperti saat kita bermain “ketapel”. Semakin jauh ke belakang kita menariknya, maka semakin kencang dan melesat pula senjata kita. Maka ini menjadi simbolisme bahwa dengan mempelajari sejarah, kita mampu memprediksi masa depan dengan lebih baik.

Sedangkan tujuan anak ketapel tersebut tentu menjadi fokus kita berikutnya, kemana dan bagaimana ia sampai ke titik tujuan. Jika membicarakan tujuan, maka yang terbersit dalam pikiran kita adalah kesuksesan. Bisa dipastikan bahwa tak ada seorang pun yang tidak ingin sukses, tetapi sukses seperti apakah yang menjadi pertanyaan. Selanjutnya beliau menyampaikan, bahwa sukses adalah ketika kita terus berkembang, menjadi bermanfaat bagi yang lain dan juga menjadi bernilai.

Berkembang saat kita terus membaik, menjadi lebih mahir, menjadi lebih rajin, mempelajari ilmu baru setiap hari, dan lain sebagainya. Sedangkan menjadi bermanfaat adalah ketika kita mengusahakan segala yang kita miliki termasuk ilmu, tenaga, harta benda bahkan doa kita bukan hanya diperuntukkan untuk diri sendiri melainkan juga untuk kemanfaatan orang lain.

Untuk yang ketiga adalah menjadi bernilai. Lalu, bagaimana kita bisa mengetahui apakah kita sudah bernilai atau belum. Maka caranya adalah dengan membandingkan keadaan saat kita ada, dan saat tidak adanya kita. Jika tidak adanya kita membuat suatu hal terasa tidak lengkap, itulah tanda bahwa diri kita sudah bernilai. Namun jangan menjadikan itu sebagai alasan kita menjadi sombong, tetapi tetap menjadi rendah hati dan sederhanalah yang terbaik.

Karena dari sejarah kemerdekaan, kita dapat memandang kilauan cahaya yang lebih terang bagi kehidupan negeri. Disamping itu, menjadi manusia yang baik adalah salah satu bentuk rasa syukur kita atas kemerdekaan negeri.

Read More

Zootopia

1 comment:
 

by. Zidna Nabilah

“Mungkin ini terdengar mustahil bagi sebagian orang. Tapi 211 mil jauh di sana, berdiri kota besar bernama Zootopia. Di mana nenek moyang kita pertama kali hidup dalam damai. Dan menyatakan bahwa semua orang bisa menjadi siapa pun.” Kata Judy Hopps---si kelinci dengan mantap.

Siapa yang akan percaya kepada seorang anak (kelinci) yang memimpikan dirinya menjadi polisi, walau dalam kenyataan itu mustahil. Entah mereka adalah predator atau mamalia, semua memiliki satu tempat tinggal yang sama. Maka untuk menjadi seorang polisi, pasti membutuhkan ekstra energi dan kecerdikan untuk mengatur serta mengayomi masyarakat yang heterogen.

Setelah menonton pertunjukan sekolah (saat Judy berumur 9 tahun), orang tua Judy baru menyadari bahwa ternyata anak mereka memiliki impian menjadi polisi. Nyatanya sejak dulu, tak pernah ada kelinci yang memiliki cita-cita itu. Hal tersebut membuat nyonya hopps takut, khawatir anaknya akan kecewa jika itu tak dapat dicapainya.

Berbeda dengan kelinci tangguh dan tak tahu caranya berhenti itu, karena kata “polisi” sudah menjadi impian sejati bagi dirinya. Dia mempunyai harapan akan membuat dunia lebih baik, dan memberitahu dunia bahwa siapa pun berhak menjadi apa pun. Sungguh mulia bukan, yang tak semua anak akan berpikir seperti itu hingga ia tumbuh besar.

Beberapa tahun berlalu, dan akhirnya Judy sampai di Akademi Kepolisian yang ia idamkan selama ini. Di awal pelatihan, ia menyadari beberapa hal tentang kota di mana ia tinggal. Mungkin kita biasa menyebutnya kota megapolitan, dan tidak lain adalah Zootopia. Ternyata kota besar itu memiliki wilayah dengan 12 ekosistem dalam batas kota--- Tundra Town, Sahara Square, Rain Forest District, dan lainnya.

Uniknya, setiap kota memiliki musimnya masing-masing, dan penduduk yang juga beragam. Tentu film ini adalah penggambaran dari dunia hewan yang berevolusi menjadi makhluk berperadaban tinggi layaknya manusia (tak ada satu manusia pun di dunia ini). Dimana “pemangsa” dan “mangsa” dapat hidup berdampingan.

Disamping itu, Judy---si kelinci betina juga harus melewati banyak rintangan sulit yang harus ditaklukkan agar lulus dan mendapat gelar polisi. Rintangan-rintangan itu tidak lain adalah menembus badai pasir, bergelantungan di ketinggian seribu kaki, melewati tebing es, bahkan harus mampu mengalahkan penjahat besar---si kudanil dengan adu tinju.

“Mundur dan pulanglah kelinci kecil. Tak pernah ada kelinci polisi. Tak pernah ada. Tak pernah ada. Hanya ada kelinci petani wortel bodoh.” Kata pelatih---si beruang kutub dengan nada tegas dan mengejek.

Suara itu terdengar keras dan kejam, siapa pun jika mendengarnya tentu akan kecil hati jika mentalnya tak cukup kuat. Namun berbeda dengan kelinci kita satu ini, justru kata-kata itu menjadi dorongan kuat baginya untuk terus mencoba. Siang dan malam ia gunakan untuk berlatih juga belajar, menggunakan usaha sebesar dua kali lipat untuk membuktikan bahwa ia mampu dan pantas.

Finally, tak ada hasil yang menghianati usaha. Ia berhasil lulus dengan nilai terbaik, dan mendapatkan lencana yang diimpikannya. Wakil wali kota Bellwether bahkan memberikan lencana berlambang polisi itu secara langsung kepada Judy Hopps, polisi kelinci pertama Zootopia. Upacara penobatan yang menggembirakan, merupakan awal petualangan sekaligus perjuangan Judy dalam memperjuangkan kedamaian dan keadilan.

Tidak perlu menunggu lama, Zootopia express---kereta laju cepat Zootopia segera tiba di Bunny Burrows, tepat setelah Judy usai bersiap dan berpamitan kepada orang tua dan 275 saudaranya yang lain. Judy kemudian bergegas masuk dengan tujuan ke jantung kota Zootopia, dan melambaikan tangan tanda perpisahan.

Dengan ditemani lagu terkenal dari penyanyi Zootopia—Gizelle si rusa, kelinci itu pun menikmati pemandangan sekaligus segala hal yang ada di kota itu. Tidak butuh waktu lama, Judy Hopps sampai di apartemen bernama Grand Pangolin Arm kota Zootopia.

Hari pertama bekerja, Judy sangat antusias karena saat itulah ia akan menerima penugasan yang sudah lama ia nantikan. Ketika sampai di kantor, ia disambut oleh Benjamin Clawhauser---si harimau ramah yang ditugaskan di bagian resepsionis.

Sama dengan hewan-hewan lainnya, tentu Benjamin juga tak menyangka kepolisian akan menerima seekor kelinci. Namun ia justru sangat ramah dan bahkan menyebut Judy sebagai hewan yang lucu (walau Judy sedikit aneh mendengarnya). Benjamin pun memberitahukan di mana tempat ia akan menerima tugas pertamanya.

“…Terakhir, kita memiliki 14 kasus mamalia hilang. Semua Predator. Dari beruang kutub hingga berang-berang. Dan Balai Kota menugaskanku untuk menemukan mereka. Ini Prioritas utama. Penugasan…” penjelasan yang cukup panjang dari ketua Kepolisian pusat kota Zootopia.

Ucapan ketua berakhir dengan menugaskan Judy menjadi Polisi parkir, dimana ia harus menuliskan sebanyak 100 tiket (berupa sanksi bagi pengendara yang parkir sembarangan) setiap hari. Walau awalnya ia sedikit kecewa atas tugas tersebut, Judy tak kalah semangat. Ia justru meningkatkan target bagi dirinya sendiri untuk menulis minimal 200 tiket setiap hari. Salah satu sikap pantang menyerah yang tentunya bisa kita jadikan teladan.

Tanpa pikir panjang, ia langsung pergi menuju jalan raya dan melaksanakan tugasnya. Disana ia bertemu dengan seekor rubah bernama Nick Wilde. Tidak disangka, pertemuan itu justru menjadi seperti takdir yang akan mengantarkan Judy memecahkan masalah hilangnya keempat belas mamalia tersebut. Berkat bekerjasama dengan Nick---seseorang yang memiliki koneksi luas di Zootopia, satu persatu petunjuk ia dapatkan.

Walaupun pada awalnya, Judy tahu bahwa rubah memikili karakter yang bisa kita sebut cerdas tetapi mereka juga termasuk hewan yang licik dan bisa saja buas. Namun, ada benarnya kata pepatah yang mengatakan bahwa tidak seharusnya kita memandang dari casing-nya saja. Melainkan lihat apa yang ada dalam diri mereka. Maka Nike si rubah adalah salah satu predator yang menyadarkan Judy bahwa tidak seharusnya kita men-judge orang lain tanpa tahu kebenarannya.

Kasus hilangnya mamalia tersebut, akhirnya berhasil diselesaikan oleh Judy dan rekannya Nike, yang pada akhirnya ikut menjadi anggota kepolisian Zootopia. Walau pada awalnya banyak percecokan antara mereka, namun mereka berhasil menuntaskan kasus yang ternyata adalah ulah Wali kota juga Wakik Wali Kota untuk menjaga posisi mereka. Memanfaatkan naluri pemangsa untuk menjadi buas, dan menjadikan mamalia yang lebih tinggi dibanding predator.

Film ini juga menyadarkan kita semua bahwa mayoritas ataupun minoritas, kita memiliki hak yang sama untuk menjadi apapun. Disamping itu, kita berhak menjadi diri sendiri dan ikut serta membangun kota sebagaimana yang diinginkan setiap orang. Menjalin kerukunan dengan adanya perbedaan, dan tidak memaksakannya untuk sama. Karena dengan berbeda, segala sesuatu menjadi lebih indah dan utuh.

Alasan lain memilih film ini adalah, karena film garapan sutradara Byron Howard (Tangled) dan Rich Moore (Wreck-It Ralph) ini, mampu menghadirkan cerita detektif bagi anak-anak tanpa membuat para penonton dewasa jemu atau bosan. Selamat menonton.


“Everyone can be anything”-Judy Hopps.

Read More

Teori Kritis: Produk Neo-Marxis Jerman untuk Marxian

2 comments:

Nama Karl Marx pasti sudah tidak asing lagi bagi para intelektual. Tokoh yang digadang-gadang sebagai ayah kandung komunis ini mashur dengan beberapa teorinya yang dianggap kontroversional. Namun, justru dengan pemikiran kontroversionalnya inilah Marx memiliki banyak pengikut yang kelak menamai dirinya sebagai Marxian. Jadi, tidak heran jika namanya acap kali disandingkan dengan hal-hal yang berbau "kiri".

Berbicara tentang kiri, sebenarnya bukan klaim negatif yang anti pemerintahan. Namun, kiri ini lebih condong pada sikap kritis yang tidak melulu mengikuti aturan pemerintah. Lagi pula, Marx tidak pernah menamai dirinya sebagai kiri. Itu hanyalah premis yang disandangkan oleh lawannya yang menganggap seolah-olah Marx anti terhadap pemerintahan.

Selain kesan politik yang "anti-pemerintahan", Marx juga memiliki pemikiran-pemikiran fantastis di bidang ekonomi, sosial, dan agama. Dan tentu saja pemikirannya ini dipengaruhi oleh Hegel, Feurbach, dan sahabatnya, Engels. Bahkan setelah kematiannya, pemikiran atau karya-karya Marx akan diterjemahkan oleh Engels untuk Marxian lainnya.

Namun, tidak ada seorang pun yang mampu mengerti secara detail apa yang dimalsudkan Marx. Seperti yang ditulis oleh Magnis Suseno dalam bukunya yang berjudul Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme menyatakan bahwa tidak ada yang mampu mengerti maksud pemikiran Marx, termasuk Engels. Sehingga, ada beberapa kerancuan Marxian dalam menelaah pemikiran Marx.

Premis tersebut sama dengan yang dilontarkan oleh golongan Neo-Marxis Jerman. Golongan yang menamai diri mereka sebagai Mazhab Frankfurt, Jerman ini menyebut bahwa Marxian telah mereduksi pemikiran Marx. Sehingga Marxian telah salah karah dalam mengimplementasikan pemikiran Marx. Dari interpretasi pemikiran saja sudah salah, apalagi dalam implementasinya.

Maka dari itu, Mazhab Frankfurt ini bermaksud untuk meluuskan kembali pemikiran-pemikiran Marx. Salah satu caranya adalah dengan membentuk suatu teori baru yang akrab dengan sebutan teori kritis. Seperti yang ditulis oleh George Ritzer dalam bukunya yang berjudul Teori Sosiologi menyebut bahwa di dalam teori kritis memuat berbagai kritik terhadap Marxian, seperti kritik atas teori Marxian, positivismenya, sosiologinya, masyarakat modernnya, bahkan perihal kebudayaan.

Pertama, kritik atas teori Marxian. Mereka, para Neo-Marxian menyebut bahwa Marxian terlalu condong pada determinisme ekonomi. Yang mana seolah-olah hanya ekonomi yang dapat menopang segala sektor. Marxian tidak berpikir bahwa antara sektor satu dengan sektor yang lainnya saling tergantung. Menurut Neo-Marxian, seharusnya para Marxian memperhatikan sektor lain demi memperbaiki kesenjangan.

Kedua, kritik atas positivisme. Para positivis menganggap bahwa ilmu sains adalah standar ketepatan untuk seluruh disiplin ilmu, termasuk pembahasan terkait masyarakat. Jadi masyarakat dalam perspektif positivis dianggap pasif. Sehingga, peran teori kritis di sini adalah mengembalikan posisi manusia sebagai subjek yang aktif.

Ketiga, kritik terhadap sosiologi. Sosiologi dalam perspektif kritis dianggap terlalu santisme, yang mana segalanya harus serba ilmiah. Di sini, para Neo-Marxian bermaksud untuk menghindarkan masyarakat dari sesuatu yang ilmiah menjadi seauatu yang lebih fleksibel.

Keempat, terhadap masyarakat modern. Menurut Neo-Marxis, masyarakat modern terlalu memfokuskan diri untuk memperbaiki ekonomi ala Marxian. Dengan ekonomi pula, teknologi dapat dikendalikan dengan mudah. Dalam hal ini, salah satu Neo-Marxis, Marcuse, menyebut bahwa masyarakat modern yang demikian sama halnya dengan makhluk satu dimensi. Mereka telah kehilangan nalar kritisnya karena hanya memfokuskan diri pada ekonomi semata.

Terakhir, kritik terhadap kebudayaan. Para Neo-Marxian mengkhawatirkan adanya birokratis yang terlalu ikut campur perihal urusan masyarakat. Dari yang awalnya ekonomi yang dimonopoli, sekarang merambah pada budaya media massa yang dimanipulasi. Teoritisi Kritis menginginkan agar budaya yang sekarang ini tidak lepas kaitannya dengan media massa, seharusnya lebih mampu untuk menyerukan pengetahuan dari pada penyiaran tentang politik manipulatif dari birokrat.

Semua kritik yang dilontarkan Neo-Marxis kepada Marxian secara general memang menyerang determinisme ekonominya. Namun, dalam teori kritisnya, Neo-Marxis malah mengabaikan ekonomi. Mereka seolah-olah enggan menyentuh ranah ekonomi. Padahal, dalam beberapa pemikiran Marx juga memuat masalah ekonomi. Jadi, saya kira, baik Marxis maupun Neo-Marxis, mereka sama-sama telah mereduksi pemikiran Marx.

Read More